Posted by: zamris | May 13, 2008

Program Radio dan TV Pendidikan

Media Komunikasi

Media massa baik cetak maupun elektronik mempunyai ciri masing-masing. Media komunikasi massa mampu meniadakan hambatan waktu dan tempat, seperti yang dinyatakan oleh Marshall Mc Luhan dalam Global Village, bahwa dunia semakin kecil dibanding sebelumnya disebabkan kehadiran media komunikasi massa, informasi tentang suatu negara akan dapat diketahui pada waktu yang relatif singkat di belahan dunia yang lain (Barker, 1993 : 385). Jadi peranan media massa seperti radio dan tv akan semakin menentukan dalam pembangunan dunia yang semakin global.

Sebelum masuk lebih dalam tentang media massa lebih dahulu dibahas tentang konsep-konsep komunikasi dan hubungannya dengan media. Penggunaan media komunikasi massa seperti radio dan tv, apapun termasuk yang untuk tujuan pendidikan tidak terlepas dari prinsip komunikasi. Karena radio dan tv adalah sarana komunikasi dalam menyampaikan informasi atau pesan dari suatu sumber kepada pendengarnya. Sebelum membicarakan radio dan tv sebagai media komunikasi massa, lebih dahulu perlu mengkaji model-model komunikasi dari Harold D. Lasswell, model sirkuler dari Osgood dan Schramn, Gerbner, Riley & Riley, Shanon & Weaver serta de Fleur, Denis Mc Quail dan Sven Windahl, 1981 (dalam Sendjaja, 1993) telah menginventarisasi dan menjelaskan 28 model komunikasi. Paling tidak, ada dua puluh delapan model komunikasi yang dibagi dalam lima kelompok. Pertama disebut model-model dasar. Kelompok kedua menyangkut pengaruh personal, penyebaran dan dampak komunikasi massa terhadap perorangan. Kelompok ketiga meliputi model-model tentang efek komunikasi massa terhadap kebudayaan dan masyarakat. Kelompok keempat berisikan model-model yang memusatkan perhatian pada khalayak. Kelompok yang terakhir, kelima mencakup model-model komunikasi tentang sistem, produksi, seleksi dan alur media massa.

Pada tulisan ini hanya akan dibahas model Harold D. Lasswell. Menurut Lasswell komunikasi pada dasarnya menjelaskan “siapa?”, “mengatakan apa?”, “dengan saluran?”, “apa?”, “kepada siapa?” dan “dengan akibat atau hasil apa?” (”Who?, Say what?, In wich channel?, To whom?, with what effect?”). Dengan demikian komunikasi merupakan suatu kegiatan atau proses pembentukan penyampaian, penerimaan dan pengolahan proses yang terjadi dalam diri seseorang dan/atau diantara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu.

Komunikasi sebagai suatu proses terdiri dari beberapa komponen, yaitu :

1. Source (komunikator), yaitu seseorang atau kelompok orang atau suatu lembaga (organisasi) yang mengambil inisiatif dalam membentuk dan mengirim pesan (encoding).

2. Message, adalah pesan berupa lambang atau kata-kata tertulis ataupun lisan, gambar, angka, gestur dan lain-lain.

3. Channel (saluran), ialah sesuatu yang dipakai sebagai alat atau media penyampai pesan, misalnya radio, televisi, surat kabar dan majalah, atau dalam konteks antar pribadi secara tatap muka.

4. Receiver (penerima), yaitu seseorang atau kelompok orang atau organisasi/institusi/lembaga yang menjadi sasaran penerima pesan.

5. Effect, akibat/dampak atau hasil yang terjadi pada pihak penerima/komunikan (target sasaran/target audience).

6. Feedback, yaitu umpan balik berupa tanggapan balik dari penerima atas pesan yang diterimanya.

Dominick (1990 : 5) menambahkan tiga lagi elemen proses komunikasi sehingga menjadi delapan elemen, yaitu sumber, proses enkoding, pesan, saluran, proses dekoding, penerima, umpan balik, dan nois. Enkoding ialah proses perubahan dari bahasa si pengirim ke bahasa media, dan dekodin adalah proses perubahan dari bahasa media ke bahasa si penerima dan nois adalah berupa gangguan yang terjadi sewaktu komunikasi berlangsung. Menurut Wilbur Schramn (1965), suatu proses atau kegiatan komunikasi akan berjalan apabila terdapat overlapping of interest (pautan kepentingan) diantara sumber dan penerima. Untuk terjadinya overlapping of interest tersebut dituntut adanya persamaan (dalam tingkatan yang relatif) dalam hal “kerangka referensi” (frame of reference) dari kedua pelaku komunikasi, dalam hal ini adalah antara sumber dan penerima pesan.

Selanjutnya untuk mengetahui karakteristik dari media, perlu dikaji lebih dahulu suatu konsep yang disebut sifat media (media attributes). Levie (1975 : 35) dalam Sudirdjo (1995) menjelaskan tentang atribut media sebagai berikut :

“A media attribute is a characteristic of a media presentation which define the kinds of information that may be provided by the presentation. A media attribute does not specify how the information presentation must be design. For example, knowing that a message vehicle can present auditory information does not tell you which sounds to present. Media attributes my be thought of as being informational potentialities - the potential of activiting particular learner activity, and so fourth.”

Seperti diketahui bahwa setiap media apapun jenisnya, menyimpan pesan atau informasi tertentu untuk disampaikan kepada penerima. Media merupakan message vehicle atau semacam sarana atau kendaraan yang dapat membawa pesan atau informasi untuk disampaikan kepada audience yang dalam hal ini adalah peserta belajar. Namun setiap jenis media mempunyai kemampuan yang berlainan dalam menyampaikan informasi, media audio seperti radio mempunyai kemampuan berbeda dalam menyampaikan informasi dengan video atau televisi, ataupun media lain seperti film bingkai (slide).

Levie lebih lanjut menjelaskan dalam memilih dan menggunakan media tertentu perlu diperhatikan lima kategori media attributes dalam keperluan pendidikan, yaitu (1) tanda/lambang yang digunakan, (2) unsur realitas yang digunakan, (3) saluran indera yang digunakan, (4) kemampuan untuk mengontrol media yang digunakan, dan (5) respon didalam memanfaatkan media.

Mengingat bahwa program radio dan tv tidak memberikan kesempatan kepada pendengar atau peserta belajar untuk memberikan respon secara langsung dan karena sifat media ini hanya satu arah maka pengemasan pesan-pesan yang disampaikan melalui media tersebut harus komunikatif dan dapat menarik sehingga pendengar tidak bosan dalam mengikuti program yang disampaikan.

Schramn (1974) menyatakan agar tujuan komunikasi berhasil perlu dilihat dari dua sisi, yaitu sudut kepentingan sumber dan dari sudut kepentingan penerima. Dari sisi kepentingan sumber, yaitu (1) memberi informasi, (2) mendidik, (3) menghibur, dan (4) menganjurkan suatu tindakan. Sedangkan bila dilihat dari sudut penerima, yaitu (1) memahami informasi, (2) mempelajari, (3) menikmati, dan (4) menerima atau menolak anjuran (Sendjaja : 1993).

Bertitik tolak dari pendapat Schramn di atas maka dalam menentukan tujuan program pendidikan (pembelajaran) dilihat dari sudut kepentingan sumber, apakah program yang dikemas sudah berisi (1) informasi yang berguna bagi pendengar/pemirsa atau kelompok belajar, (2) mendidik pendengar/pemirsa dalam hal ini peserta kelompok belajar dengan baik, (3) apakah program ini memberikan hiburan bagi pendengarnya sehingga menarik dan tidak membosankan, dan (4) apakah program ini menganjurkan tindakan atau suatu kegiatan setelah mendengarkan siaran ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang perlu dijawab dalam mengemas program pendidikan/pembelajaran.

Perlu diketahui juga bahwa radio dan tv sebagai media komunikasi massa seperti dikatakan Biagi (1995 : 24) bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentang informasi, menawarkan hiburan, menebarkan budaya suatu bangsa, namun dari itu semua tujuan yang sebenarnya mencari keuntungan. Untuk itu lanjut Biagi trend pendengar radio dan tv sekarang cenderung pada segment tertentu. Tentu hal ini tidak mengurangi penggunaan radio dan tv untuk kepentingan sosial dan pendidikan. Bagaimanapun juga radio dan tv sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan karena memiliki karakteristik yang khas seperti pendengarnya bersifat massal, pesan dengan sasaran kelompok besar dari berbagai macam secara simultant atau serentak dalam periode yang sama, dan dapat disebarkan dalam waktu yang cepat. Oleh sebab itu dalam mengemas pesan yang dimulai dengan penulisan naskah, jangan dilupakan bahwa media radio dan tv hanya sekilas, yang pada dasarnya adalah media untuk hiburan, maka faktor daya tarik sangat penting diperhatikan.

Hiebert (1990) dalam melihat media massa memberikan sekurang-kurangnya enam fungsi penting, yaitu sebagai hiburan, news atau berita, commentary atau ulasan, pendidikan, publlic relation, dan periklanan. Hal ini seiring dengan apa yang diuraikan tentang fungsi media massa oleh Joseph De Vito (1996 : 464-465) bahwa popularitas dan pengaruh yang merasuk dari media massa hanya dapat dipertahankan jika mereka menjalankan beragam fungsi pokok. Diantara fungsi terpenting adalah :

1. Menghibur, pengelola media harus mendisain program-programnya untuk menghibur untuk mendapatkan perhatian dari khalayak. Bila tidak mereka akan ditinggalkan oleh pendengarnya/pemirsanya.

2. Meyakinkan, membujuk, walaupun fungsi media yang paling jelas adalah menghibur, namun yang terpenting ialah meyakinkan yang dalam berbagai bentuk seperti : (1) mengukuhkan atau memperkuat sikap; (2) mengubah sikap, kepercayaan atau nilai seseorang; (3) menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu; dan (4) memperkenalkan etika, atau menawarkan sistem nilai tertentu.

3. Mengukuhkan, kendatipun sukar bagi suatu pihak untuk mengubah suatu sikap kepada sikap tertentu, dengan segala sumber daya media dan kekuatan yang ada lebih sering mengukuhkan dan membuat kepercayaan, sikap nilai, dan opini menjadi lebih kuat. Seperti umat beragama akan mendengarkan pesan-pesan yang sesuai dengan keyakinan mereka dan akan menjadi lebih kuat dalam meyakini kepercayaan mereka.

4. Mengubah, media akan mengubah sementara orang yang tidak memihak dalam suatu masalah tertentu. Jadi mereka yang terjepit diantara dua kelompok akan terseret ke salah satu pihak akibat pengaruh pesan-pesan media.

5. Menggerakkan (activating), fungsi ini sangat penting dalam upaya menggerakkan massa dalam mengambil tindakan. Khususnya dalam dunia periklanan bagaimana khalayak tergerak hatinya untuk membeli suatu produk.

6. Menawarkan etika atau sistem nilai tertentu. Dengan mengungkapkan secara terbuka adanya penyimpangan tertentu dari suatu norma yang berlaku, media merangsang masyarakat untuk bisa berubah.

7. Menginformasikan, sebagian besar informasi diperoleh bukan dari sekolah, melainkan dari media. Banyak orang belajar musik, politik, seni, ekonomi, sosiologi dan lain-lain melalui informasi yang disiarkan oleh media. Sehingga salah satu fungsi media adalah informasi yang sekaligus berfungsi sebagai edukasi atau mendidik.

Menyinggung fungsi media massa dalam era pembangunan ini Denis Mc Quail (1986 : 120) menganjurkan seyogyanya media menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan nasional. Disamping itu media massa merupakan sumber kekuatan atau alat kontrol manajemen dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan diantara sumber daya lainnya. Hal ini tentu saja sebagai konsekuensi logis dimana setiap warga negara, individu ataupun kelompok minoritas memiliki hak pemanfaatan dan hak untuk dilayani oleh media sesuai dengan kebutuhan yang mereka tentukan sendiri.

Lebih lanjut Theo Stokkink (1997) melihat bahwa fungsi media massa harus bekerja dengan baik sebagai dunia gagasan, sebagai media pendidikan, mendidik dengan menggunakan konsep dan fakta-fakta. Dari gambaran peristiwa secara dramatis, kepada pencarian pemikiran politik aktual, radio dan tv mampu menyajikan berbagai pokok pembicaraan yang dapat didiskusikan dengan membawa orang belajar pada suatu tempat yang telah ditentukan sebelumnya melalui himpunan pengetahuan yang diberikan.

Hal di atas akan dapat terlaksana sebagai contoh media radio bersifat imanjinatif dan bersifat pribadi dapat menyapa setiap pendengar secara individu. Pendengar membawa radio mereka di mobil, di rumah dan di tempat tidur. Bila dihubungkan dengan imajinasi radio memperlihatkan kekuatannya yang besar sebagai media. Radio menuntut partisipasi aktif pendengarnya dalam membangun suatu pengalaman tentang pandangan, daya penciuman, dan sensasi yang dihasilkan oleh media suara murni. Disebabkan suara yang buta maka pendengarnya mencoba untuk menvisualisasikan apa yang didengarnya dan mencoba menciptakan si pemilik suara dalam bayangan mereka sendiri. Karena radio memiliki fasilitas yang menakjubkan dalam menciptakan ilustrasi dalam pikiran pendengarnya. Hal ini dapat dilakukan apabila kata-kata yang digunakan dapat menggambarkan suatu suasana secara visual, penyebaran berita dan daya penggunaan kata-kata juga dapat menimbulkan suasana emosional. Demikian juga tv dengan kekuatan visual geraknya bisa memancing emosi pemirsa dengan ekspresi para pemainnya.

Pesan (Message)

Fisher (1986 : 365) mengingatkan bahwa pesan dalam model mekanistis ditransformasikan pada titik-titik (saat-saat) penyandian dan pengalihan sandi sehingga pesan itu sendiri berupa pikiran atau ide berada pada suatu tempat dalam sistem jaringan syaraf (neorophysiological) dari sumber/penerima dan setelah penyandian terjadi dalam suatu situasi tatap muka, ditransformasikan ke dalam rangkaian getaran udara (gelombang suara) dan sinar-sinar cahaya yang terpantulkan. Alat pengalihan sandi pada sumber/penerima mentransformasikan fenomena energi fisik itu kembali ke dalam kata petunjuk paralinguistik, isyarat dan pikiran. Tetapi, dalam bentuk energi fisik antara sumber/penerima, maka pesan itu bukanlah merupakan pikiran, bukan pula berupa kata-kata. Akan tetapi ia merupakan seperangkat isyarat (signals) fisik.

Clevenger dan Matthews (1971 : 12-14) seperti juga Cherry (dalam Fisher, 1986) membedakan antara pesan dan isyarat atas dasar bentuk fisik dan lokasinya, pada saluran, isyarat (signals) itu adalah peristiwa “fisiknya”, dan pesan hanya terdapat pada saluran di dalam diri sumber/penerima. Selanjutnya Clevenger dan Matthews (1971) meneruskan satu langkah lagi, bahwa dalam setiap peristiwa komunikatif, terdapat tiga buah pesan yang potensial. Pesan yang dikirimkan itu membentuk satu pesan; pesan yang diterima merupakan pesan yang kedua. Mereka secara jelas menyatakan bahwa kedua pesan itu tidak harus dipahami sebagai “versi” yang berbeda dari pesan yang sama, merupakan “peristiwa yang secara keseluruhan berbeda.”

Pesan adalah sesuatu yang dikirimkan dan atau diterima sewaktu tindakan komunikasi berlangsung. Pesan dapat dikirimkan baik melalui bahasa verbal maupun non verbal. Pesan juga merupakan suatu wujud informasi yang mempunyai makna. Maka apabila pesan tidak bisa dipahami oleh penerima maka pesan yang dikirimkan tersebut tidak menjadi informasi. Tetapi perlu disadari bahwa suatu pesan bisa mempunya makna yang berbeda bagi satu individu ke individu lain, karena pesan berkaitan erat dengan masalah penafsiran bagi yang menerimanya.

Bagaimana karakteristik isi pesan melalui media massa ?

Khalayak akan tertarik apabila pesan mengandung unsur-unsur sebagai berikut :

1. Novelty (sesuatu yang baru), pendengar/pemirsa akan tertarik apabila yang disajikan sesuatu yang baru, misalnya masalah proses reformasi yang baru saja berlangsung.

2. Kedekatan atau proximity, pendengar/pemirsa akan lebih tertarik apabila yang disajikan suatu peristiwa yang dekat secara fisik dengan pengalamannya dengan pendengar/pemrisanya.

3. Popularitas, pemberitaan seorang tokoh yang populer akan mempunyai daya tarik tersendiri bagi pendengar.

4. Pertentangan (conflict), sesuatu yang mengungkapkan pertentangan, baik dalam bentuk kekerasan ataupun menyangkut perbedaan pendapat atau nilai, biasanya disukai pendengar.

5. Komedi (humor), hal-hal yang lucu dan menyenangkan akan lebih menarik untuk didengar sehingga tidak membosankan.

6. Keindahan, menyenangi keindahan dan kecantikan adalah salah satu sifat manusia, sehingga siaran yang mengandung keindahan akan sangat disenangi.

7. Emosi, sesuatu yang membangkitkan emosi dan menyentuh perasaan yang merupakan daya tarik tersendiri dalam pengemasan suatu pesan.

8. Nostalgia, yang dimaksud dengan nostalgia di sini ialah hal-hal yang mengungkapkan pengalaman di masa lalu. Seperti nyanyian lama akan membangkitkan kenangan masa lalu, atau peristiwa bersejarah.

9. Human interest, pada dasarnya orang akan menyukai tentang cerita-cerita yang menyangkut kehidupan orang lain (Sendjaja : 1993).

Ruben (1992) hanya menyebutkan lima unsur yang mempengaruhi pesan, yaitu origin, mode, physical character, organization dan novelty. Memperhatikan tentang karakteristik isi pesan tersebut di atas, apakah isi pesan pendidikan (pembelajaran) dapat diramu berdasarkan hal-hal tersebut diatas? Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, namun penulis berkesimpulan pada dasarnya pesan pendidikan melalui radio/tv dapat dikemas berdasarkan unsur-unsur tersebut. Khusus untuk program pendidikan yang bersifat pembelajaran (instructional) tidak semua unsur tersebut dapat digunakan, dan apabila akan memasukkan unsur-unsur tersebut, kemasannya harus indah untuk didengar dan tidak vulgar.

Selain unsur-unsur isi pesan, struktur dan teknik penyajiannya sangat menentukan keberhasilan pesan tersebut untuk diterima pendengar. Selanjutnya Sendjaja (1993) menyimpulkan bahwa bentuk dan teknik penyajian merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan upaya persuasi. Secara umum ada dua yang perlu diperhatikan, yaitu struktur pesan dan daya tarik pesan itu sendiri.

1. Struktur Pesan

Struktur pesan mengacu kepada bagaimana mengorganisasi elemen-elemen pokok dalam sebuah pesan, yaitu sisi pesan (message sidedness), urutan penyajian (order of presentation), dan penarikan kesimpulan (drawing a conclusion).

a. Sisi pesan terdiri dari dua bentuk penyusunan, yaitu satu sisi (one sided) dan dua sisi (two sided). Penyusunan pesan lebih banyak menitikberatkan pada kepentingan pihak pengirim saja, biasanya pesan yang ditonjolkan adalah aspek-aspek positif. Sedangkan dua sisi pesan disampaikan dengan segala kelemahan dan kekuatannya.

b. Urutan penyajian berbentuk “climax versus anticlimax order” dan “recency and primacy model“. Hal ini berkaitan dengan pesan satu sisi. Disebut climax order, bila dalam penyusunan pesan argumen terpenting diletakkan pada bagian akhir. Bila disebutkan pada bagian awal disebut anticlimax order, dan bila ditempatkan ditengah-tengah disebut pyramidal order. Primacy yaitu model bila dalam menyusun suatu pesan aspek positif dan negatif ditempatkan pada bagian awal. Sedangkan recency bila aspek positif dan negatif ditempatkan pada bagian akhir.

c. Penarikan kesimpulan. Membuat suatu kesimpulan dapat secara merata langsung dan jelas (explisit) atau secara tidak langsung (implisit).

2. Daya Tarik Pesan

Daya tarik pesan berkaitan dengan teknik penampilan dalam penyusunan suatu pesan, ide yang meliputi fear (threat) appeals, emotional appeals, rational appeals dan humor appeals. Fear (threat) appeals bila dalam menyajikan suatu pesan yang ditonjolkan unsur-unsur ancaman bahaya sehingga menimbulkan rasa takut, dan bila penekanan pesan pada hal-hal yang bersifat emosional seperti keindahan, kesedihan, kesengsaraan, cinta dan kasih sayang. Rational appeals bila pesan tersebu menekankan pada hal-hal yang logis, rasional dan faktual. Humor appeals bila penyajian pesan dikemas dalam bentuk humor, bisa saja dalam bentuk kata, kalimat, gambar, simbol atau yang lainnya yang bisa menimbulkan kesan lucu.

Penutup

Sebuah pertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuat program radio dan tv, apapun bentuk dan isinya adalah “Apakah prinsip-prinsip komunikasi seperti struktur pesan dan isi pesan sudah menjadi pertimbangan ?” (zh)

DAFTAR PUSTAKA

1. Barker, Larry Lee and Deborah A, Barker (1993).Communication, Sixth Edition, New Jersey : Prentice Hall, Enlewood Cliffs.

2. Biagi, Shirley (1995). Media Impact An Introduction to Mass Media, Third Edition, California : Wadsworth Publishing Company.

3. Hiebert, Ray Eldon M (1990). Mass Media VI, An Introduction to Modern Communication, New York : Longman

4. Mc Quail, D. & Windahl S. Communications Models for The Study of Mass Communications, New York : Longman

5. Ruben, Brent D (992), Communications and Human Behavior, Third Edition, New Jersey : Prentice Hall, Enlewood

6. Schramm, Wilbur (Ed.) (1965). How Communication Work in the Process and Effect of Mass Communications, Urbana : The University, Illinois Press.

7. Sendjaya, Sasa D (1993), Pengantar Komunikasi, Jakarta : Universitas Terbuka.

8. Stoklink, Theo (1997), The Profesional Radio Presenter, Penyiar Radio Profesional,Yogyakarta : Kanisius.

9. Sudirdjo, Sudarsono (1995). Program Televisi sebagai Suatu Sumber Belajar untuk Menunjang Penyelenggaraan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, Jakarta, IKIP Jakarta



Tags: , , , , , ,

Posted by: zamris | May 13, 2008

Semangat ber “qurban” di tengah masa krisis


Dengan semangat “Qurban” di tengah masa krisis kita menghadapi Milenium ke tiga

Kata “qurban” berasal satu akar dengan kata “qarib” dan “taqarrub”, (ingat sahabat karib, artinya teman dekat). Semua kata tersebut berati dekat. Maka memahami kata “qurban” bermakna mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang ber”qurban” sama dengan berkorban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pemotongan seekor domba atau kambing misalnya, adalah suatu bentuk pengorbanan formal, sebagai pengganti pengorbanan Nabi Ismail AS, oleh ayahnya Nabi Ibrahim AS. yang sudah sering kita dengar ceritanya. Tentu saja pada tulisan ini tidak akan mengulang kisah tersebut. Tetapi kita dapat mengambil i’tibar dan pelajaran dari sejarah pengorbanan tersebut baik pengorbanan Nabi Ibrahim atau bagi Nabi Ismail dan Ibunya Siti Hajar. Sebagai manusia biasa, kita susah membayangkan, seorang lelaki yang telah renta, Ibrahim, yang belum mendapatkan anak, menginginkan si buah hati sibiran tulang, sebagai pelanjut generasi mendatang.

Berbagai usaha dan doa telah dicoba, namun setelah umur tua, di kala usia senja, doa itu baru dikabulkan, si buah hati pun lahir. Hati siapa yang tidak gembira, menerima rahmat yang tiada tara, yang telah diidam-idamkan selama ini telah datang. Sujud syukurpun dilaksanakan. Ismail lahir sebagai obat hati penenang jiwa bagi pasangan Ibrahim dan Siti Hajar.

Di kala bersuka ria, Ismail kecil sudah mulai membesar. Tiba-tiba perintah datang, ibarat petir menyambar di tengah hari. Ismail harus disembelih, dengan hati yang tegar Ibrahim bermaksud akan melaksanakan, tetapi syetanpun datang menggoda, baik kepada Ibrahim, atau merayu Siti Hajar sang ibu, dan yang tak kalah gesitnya syetanpun memperdayai Ismail itu sendiri. Di sinilah batu ujian itu datang, siapa yang kuat iman dan takwanya, dia tidak akan bisa tergoda oleh bujuk rayu siapapun, bagaimanapun bentuk syetannya, yang kadang kala dalam kehidupan kita sehari-hari syetan itupun bisa berbentuk manusia juga.

Pada tahun-tahun terakhir ini bangsa kita sedang menghadapi masalah-masalah kebutuhan pokok sehari-hari, orang mengistilahkan dengan krisis ekonomi bukan saja Indonesia yang dilanda krisis tetapi bangsa-bangsa Asia Tenggara atau Asia Timur. Asia Tenggara yang moyoritas berpenduduk muslim ini ibarat menghadapi penyakit, dikala kita baru memasuki milenium ketiga, abad ke 21 yang lebih dikenal era globalisasi. Tetapi dalam kondisi sekarang ini kita sangat sulit mendeteksi perubahan-perubahan yang terjadi secara sangat cepat di seantero jagat bumi ini. Seakan-akan dunia sedang melewati suatu kondisi yang tak memiliki keseimbangan. Ataupun dapat dikatakan dunia sedang menghadapi rasa sakit yang belum diketahui obatnya, bagaimanapun tak seorangpun yang tahu cara penyembuhannya ataupun memperdiksi kemungkinan yang akan terjadi. Apalagi memastikan ciri-ciri tatanan global yang akan lahir dalam kondisi sakit seperti sekarang. Ataukah kita akan memilih pasrah saja menunggu proses dan menerima takdir. Ataukah takdir itu sendiri kita ciptakan dengan kaedah-kaedah hukum alam atau Sunnatullah. Disinilah tingkat kataqwaan kita mulai dipertanyakan, ketauhidan kita mulai diuji.

“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah , sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Surat Al Hasyar, 59 ayat 18)

Apa-apa yang kita kerjakan hari ini adalah dalam rangka mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok yang akan datang, hari esok bisa diartikan esok hari, bulan depan, tahun yang akan datang, abad di muka, tetapi juga bisa diartikan hari akhirat. Persiapan apakah yang bisa kita perbuat dikala bangsa sedang sakit, dipihak lain kita menghadapi dampak globalisasi dalam milenium ketiga di abad 21 ini. Merenung arti kehidupan, mempersiapkan generasi yang tangguh adalah suatu hal yang tidak bisa kita elakan, ibarat air bah, informasi dalam abad globalisasi itu akan menerjang sendi-sendi kehidupan kita. Sekarang saja jadwal kehidupan kita sehari-hari telah mulai diatur oleh program TV. Kegiatan bisnis, lalu lintas bahkan kegiatan belajar di sekolah terhenti selama dua jam hanya gara-gara menonton pertandingan tinju juara dunia, misalnya.

Hal ini perlu dikemukakan dalam usaha kita untuk memahami hakikat perubahan yang kini sedang kita alami. Negeri kita Indonesia berada dalam kondisi perubahan yang amat khusus. Yaitu : pertama, dalam kaitan dengan perubahan mondial, menurut Nurcholois Majid negeri kita sedang berubah dari masyarakat agraris ke masyarakat teknis/industri, dan sekaligus memasuki era informasi; kedua, perubahan itu secara sengaja dipacu dan didorong untuk dapat terjadi secara besar-besaran (inilah kenyataan asasi “ideologi” pembangunan kita sekarang ini). Di sini mungkin sedikit saja ruang yang tersisa bagi kita di masa lalu untuk memperdebatkan apakah ideologi pembangunan itu absah atau tidak. Sebab pertama hal tersebut sudah berjalan lebih seperempat abad, dan kedua, mustahil bagi kita mengingkari hasil pembangunan itu sendiri sekarang ini, kendatipun beberapa tahun terakhir ini kita dikagetkan dengan krisis ekonomi dan politik serta kepercayaan di samping bencana alam seperti banjir akibat kerusakan lingkungan.

Oleh karena itu kenyataan perubahan itu adalah suatu yang sudah “given”, harus diterima suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, gelombang perubahan itu akan tetap datang yang kadang kala susah diprediksi/diramalkan, dan yang penting adalah bagaimana strategi menghadapinya.

Ada dua hal penting yang tidak bisa kita elakan sekarang ini, pertama, adalah menghadapi krisis ekonomi yang berdampak luas keseluruh tingkat kehidupan masyarakat. Kebutuhan bahan pokok sehari-hari yang sulit didapat karena harga yang tinggi, pengangguran karena meningkatnya PHK. Kedua, dalam situasi yang sesulit inipun kita harus menghadapi abad 21 dimana batas antar negara sudah menipis, persaingan semakin ketat. Keduanya merupakan suatu cobaan yang besar dari Allah. Ingat kata “cobaan” adalah ujian dalam meningkatkan taraf keimanan kita, manusia yang tak pernah diuji tidak akan pernah naik tingkat, seorang pelajar yang tak mau ikut ujian tak akan pernah naik kelas. Demikian juga kaum atau bangsa yang tak pernah mengalami ujian tidak akan pernah mengalami kemajuan. Oleh sebab itu dalam menghadapi ujian atau cobaan ini prinsip-prinsip ketauhidan kita harus dibenahi dan bersihkan dari sifat-sifat yang yang memper”tuhan”kan sesuatu selain Allah. Zaman materialisme sekarang ini masih banyak dari kita yang mempertuhankan “sesuatu” selain Allah. Kita masih mempertuhan kemewahan, pangkat, harta, jabatan, atasan dsb. Padahal minimal 17 kali dalam sehari semalam kita membaca “iyya ka na’budu’ (hanya kepada Engkau kami menyembah), ingat kata “hanya”. Kata hanya menjelaskan tidak ada yang lain selain Allah yang kita sembah. Walaupun kita komat-kamit membaca doa sepanjang hari, tetapi selama kesucian, ke“pure”an dari keyakinan kita kepada Allah masih bercabang dalam menghadapi hidup sehari-hari, maka keimanan kita masih dipertanyakan.Sepertinya sebahagian kita beragama hanya di mesjid, atau waktu nikah, waktu meninggal, atau hanya di kala melaksanakan shalat. Selama ketauhidan kita belum suci / murni selama itu pula doa kita tidak akan didengar. Apakah dengan kondisi demikian doa kita akan didengar oleh Tuhan ? Pertanyaan yang agak kurang enak didengar Kenapa penulis tekankan masalah katauhidan, karena hal ini sesuatu yang sangat mendasar dan penting dalam permasalahan yang dihadapi sekarang. Kalau kita kembali kepada ujian yang diterima oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar. Ketegaran mereka dalam menerima perintah dan menghadapi ujian tersebut adalah karena iman sebagai landasan tauhid mereka sangat kuat. Oleh sebab itu iman terhadap Allah yang bisa menjadikan manusia tegar dan tangguh harus dipelihara, any time, any where, fi ayyi waktin wa fi ayyi makanin, keyakinan kepada Allah merupakan sumber inspirasi dan landasan sikap serta tindak tanduk kita. Adalah sangat tepat sekali bahwa tujuan pendidikan kita adalah membentuk manusia yang beriman dan bertakwa. Kita wajib bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada para pemimpin kita yang telah merumuskan tujuan pendidikan tersebut.

Sekarang tiba saatnya kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Apakah iman sudah merupakan sumber inspirasi, motivasi serta landasan moral untuk bersikap dan bertindak. Apakah iman kita bawa ke pasar waktu kita berdagang, apakah iman selalu beserta kita sewaktu kita berbisnis, sewaktu bekerja di kantor, atau hanya iman itu hanya pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha saja. Atau hanya selama bulan puasa, atau hanya waktu nikah dan sewaktu melayat orang meninggal. Nauzubillahi min zalik.

Namun apabila ketauhidan kita betul-betul suci dan murni, segala bentuk apapun cobaan dan ujian yang diberikan oleh Tuhan senantiasa akan kita lalui dengan sabar dan tegar. Ingat setelah ayat “iyya ka nakbudu” ayat tersebut diiringi oleh “iyyaka nastaiin” hanya kepada Engkau kami minta tolong. Dalam situasi sesulit apapun kita tak pelu minta tolong kepada dukun, kepada paranormal yang menjadi trend masyarakat kota sekarang, kepada gunung, kepada kuburan, kepada pohon, kepada batu permata, kepada angka-angka. Sebab di belakang itu semua bersembunyi syetan-syetan yang selalu ingin menggoda dan memperdaya manusia agar berpaling dari Tuhan, mereka, syetan-syetan yang berbentuk sesembahan manusia itu selalu memberikan janji-janji semu, pada hal semua itu adalah tipuan belaka. Oleh sebab itu pada saatnya sekarang ini, kita ummat Islam Indonesia berdoa, minta pertolongan hanya kepada Allah dalam menghadapi krisis yang kita hadapi, sebab Allah yang menurunkan cobaan tersebut dan tentu kepada Allah jua kita minta dicabut musibah tersebut. Ingat Allah berfirman dalam surat Alam Nasyrah (94), ayat 5 - 8, sebagai berikut :

“fainamaal usyri yusra, inna maal usyri yusra, fa iaza faraghta fanshab, wa ila rabbika farghab”

Artinya : Maka sesungguhnya dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan, sesungguhnya dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan, maka apabila kamu telah selesai suatu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmu hendaknya kamu berharap.

Kalimat yang menyatakan bahwa dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan yang diulang dua kali, pengulangan dua kali dalam Al Quran tersebut tentu mempunyai maksud tertentu, Tuhan tidak akan mengulangi suatu kalimat tanpa punya maksud yang berbeda. Dalam hal ini para ahli tafsir mengatakan bahwa bahwa “al usyri” (kesulitan) pertama dengan “al usyri” yang kedua adalah kesulitan yang sama, sedangkan “yusra” (kemudahan) yang pertama dengan “yusra” yang kedua adalah berbeda. Artinya setiap kita mendapat satu kesulitan maka ada minimal dua kemudahan yang akan kita peroleh dibalik satu kesulitan tersebut. Semoga dibalik musibah krisis moneter yang kita hadapi ini kita akan mendapat hikmah yang luar biasa yang tidak kita duga sebelumnya, sebab Allah bisa berbuat sekehendaknya.

Bersikap sabar dalam menghadapi musibah adalah suatu pengorbanan, sedangkan pengorbanan itu sendiri merupakan manifestasi kedekatan kita kepada Allah. Faiza faraghta fanshab, marilah kita susun rencana dan strategi sementara menghadapi krisis ini, jangan lupakan menyiapkan sumber-sumber daya manusia dalam menghadpi masa depan. Pendidikan adalah suatu langkah yang sangat strategis, sebab di abad informasi manusia tidak diukur lagi seberapa kekuatan ototnya dalam mengolah sawah, ladang dan alat-alat berat, tetapi terletak kepada kemampuan otak, ilmu pengetahuan dan teknologi. Sangat tepat ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, adalah Iqra’, “bacalah”. Membaca adalah suatu langkah untuk membuka informasi, tanpa membaca kita akan ketinggalan informasi. “Ayat-ayat” Tuhan selain dalam Al Quran tersebar di jagat raya ini, ayat-ayat tersebut merupakan sumber informasi yang harus di”baca”, diteliti dan dipelajari. Di zaman melenium ketiga ini informasi adalah sangat penting, informasi akan merupakan komoditi, dan informasi akan menjadi power. Siapa yang memiliki informasi maka ia akan memiliki power (kekuasaan). Apakah ummat Islam dewasa ini sudah menguasai informasi, atau malah kita yang dikendalikan oleh informasi yang sengaja dimanipulasi untuk kepentingan mereka, musuh Tuhan ?. Adalah ironis sekali apabila dewasa ini ummat Islam kurang memperhatikan pendidikan, kurang mau membaca, dan kurang berusaha menguasai informasi, pada hal ayat Al Quran banyak sekali menganjurkan untuk itu.

Akhirnya dengan semangat pengorbanan sebagai cerminan kedekatan (ke”qorib”an) kita kepada Allah SWT, marilah kita membuat langkah-langkah strategis dengan dilandasi iman dan taqwa serta diiringi dengan doa yang tulus.(zh)

Ciputat, Februari 2002

Tulisan  ini adalah Khotbah penulis pada Shalat Id Adha di halaman Pustekkom.

Tags: , , ,

Posted by: zamris | May 11, 2008

Manusia Tanpa Jiwa? Renungan 10 tahun reformasi

Sejenak kita coba merenung ke masa awal reformasi, 10 tahun yang lalu. Masyarakat menjadi beringas, kalau ada yang tidak setuju terhadap sebuah kebijakan langsung main hantam, bakar!! Kalau ketemu orang yang dianggap maling langsung digebukin di tempat saat itu juga. Kalau mengusulkan sesuatu, harus diterima. Bila tidak, akan dimusuhi, jika perlu dihancurkan. Serasa bangsa ini tidak punya aturan dan etika lagi.

Mari, kita flashback ke beberapa dekade sebelum reformasi. Hampir semua orang ingin maju tanpa melalui proses sebagaimana lazimnya. Anak sekolah mau naik kelas kalau bisa tanpa ujian, ingin lulus tanpa susah-susah belajar, ingin jadi sarjana jiplak karya tulis orang. Tak terkecuali orang tua murid selalu menginginkan anaknya naik kelas atau lulus ujian walaupun kemampuannya rendah, dengan menempuh berbagai cara seperti menemui kepala sekolah, wali kelas atau kalau kebetulan punya kenalan pejabat eselon yang lebih tinggi minta katebelece agar diberikan prioritas. Naik kelas, naik pangkat atau naik gaji tentu semua orang mengharapkan, tetapi untuk mendapatkannya sering menempuh segala cara, tidak mengindahkan etika dan aturan main.

Kondisi beginilah yang terus-menerus berlangsung beberapa dekade terakhir, apakah ini merupakan suatu rekayasa dari pihak tertentu atau memang kondisi tersebut dibiarkan terjadi untuk menghancurkan moral anak bangsa. Sampai hari ini setelah 10 tahun reformasi masih banyak orang tua dan guru-guru secara sengaja menghancurkan anak didiknya sendiri dengan membantu mereka dalam menyelesaikan soal-soal ujian nasional (ingat kasus Medan yang diusung oleh Airmata Guru tahun 2007) dan pada waktu pelaksanaan ujian nasional tahun 2008 ini masih terjadi kasus-kasus serupa di berbagai daerah.

Berdasarkan contoh-contoh di atas cobalah kembali kita renungkan, kenapa semua ini terjadi, kenapa orang-orang ingin cepat kaya tanpa susah-susah melaui proses yang semestinya, kenapa orang menginginkan semuanya serba instant, tidak mau “Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Walaupun peribahasa tersebut sudah jarang terdengar di telinga kita sekarang ini tapi subtansinya masih relevan.

Apakah kita ini sudah kehilangan roh, apakah kita sudah seperti mesin yang bekerja tanpa rasa, atau robot-robot yang tak berjiwa. Ataukah kita sudah menjadi makhluk-makhluk gentayangan yang bekerja tanpa mengenal lelah demi untuk mengejar target, demi untuk mengejar kekayaan dengan cara apapun yang menjadi ukuran kesuksesan dewasa ini.

Gerakan Reformasi memang sudah merubah secara drastis perjalanan bangsa ini. Ibarat kapal laut yang seyogiyanya mengambil ancang-ancang dengan membuat setengah lingkaran untuk berbelok agar kapal tidak oleng dan penumpangnya tidak goncang dan kaget. Tetapi seperti kita saksikan gerakan reformasi telah memaksa nahkoda untuk memutar-balik kapal bangsa ini dengan belokan patah. Penumpang kaget dan keluarlah sifat-sifat asli yang jelek, bagaimana menyelamatkan diri tanpa menghiraukan orang lain, muncul sifat nafsi-nafsi (individual) untuk mencari kesempatan dalam kesempitan dan menyelamatkan diri, harta dan keluarga. Mereka mengklaim bahwa mereka sajalah yang benar, orang lain salah. Apabila mendapat kesempatan menjadi pejabat akan mengangkat orang-orang dari keluarga, kelompok atau golongannya, bahkan keluar pameo bahwa “dulu giliran elo, nah sekarang giliran gue..!!

Pertanyaan mendasar adalah apakah akan dibiarkan situasi dan kondisi ini berlangsung terus? Memang anggota parlemen sudah memulai langkah awal dengan merubah undang-undang yang tak sesuai dengan tuntutan reformasi, tetapi di lapangan tradisi lama yang sudah mendarah daging sulit untuk dihilangkan. Ibarat bermain bola kaki, aturan main memang sudah baru agar bermain cerdas dan sportif, tetapi yang bermain kan masih pemain-pemain lama dan sudah punya kebiasaan yang sulit untuk dirubah.

Saya kira kita semua sepakat bahwa manusia-manusia tanpa jiwa (sebelumnya masih punya jiwa) itu umumnya pernah duduk di bangku sekolah (baca: dididik), tetapi kenapa demikian perilaku anak bangsa ini, apa yang salah pada lembaga pendidikan kita? Perlukah kita mengkaji ulang secara mendasar terhadap sistem pendidikan bangsa ini tanpa mencari siapa yang salah ??? Wallahu a’lam bissawab.(zh)

Tags: , , ,

Older Posts »

Categories