Curriculum Design and KTSP

29 12 2008

Curriculum Design and KTSP
To make the complex design and development process more transparent and visible , researchers have proposed numerous development models. In general models include the following main stage : analysis, design, construction, evaluation and revision, and implementation. The design and development models on which the support system are based can differ as well as the activities they actually support.(N.Nieveen and J. van den Akker)

Seperti diketahui bahwa langkah–langkah pengembangan kurikulum, seperti yang disebut Akker, dimulai dengan analisis problem, kemudian mengidentifikasi problem tersebut. Berdasarkan analisis tersebut dibuat (dikembangkan) kurikulum, dan selanjutnya di evaluasi dan seterusnya diterapkan.

Langkah-langkah tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip teknologi pendidikan (educational technology) yaitu, define, develop and evaluate. Define, sebagai langkah pertama meliputi analisis masalah, mengidentifikasi , dan merumuskan. Kedua, developement, mengembangan kurikulum mulai dengan merumuskan tujuan, membuat indikator keberhasilan dan menyiapkan bahan sesuai dengan tujuan. Terakhir evaluasi , dan hasil evaluasi sebagai masukan terhadap pengembangan kurikulum selanjutnya.

Bagi guru yang sekarang mendapat tugas menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), perlu mendapat perhatian terhadap langkah-langkah tersebut. Guru yang selama ini hanya bertugas sebagai pendidik dan pengajar, berdasarkan UUSPN no. 20/2003, guru-guru juga dituntut sebagai pengembang kurikulum dan pembelajaran (curriculum and instructional designer).

Selain menjabarkan kurikulum dari Pusat, guru berkewajiban menyusun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan lingkungan sekolah dimana berada. Tentu saja tugas guru semakin berat dan mungkin karena hal tersebut kualifikasi guru juga harus berkualitas, tuntutan agar semua guru harus Starata Satu (sajana) mungkin sebagai jawaban.





ICT-Information and Communications Technology

7 12 2008

Information and Communications Technology -1

Information and Communications Technology – or technologies (ICT) is an umbrella term that includes all technologies for the manipulation and communication of information. The term is sometimes used in preference to Information Technology (IT), particularly in two communities: education and government

Although,in the common usage it is often…………….. Selanjutnya Anda klik

Information and Communications Technology -1

_______________________________________________________________________________

Information and Communications Technology -2

Limitations

Previous information communication technologies have penetrated deep into the society and hence are often very cost effective; teachers in developing countries often use no more than a blackboard and chalk to pass on information about any subject to the students. Printed papers in the form of books, magazines or newspapers have become a part of daily routine of any educated citizen, as are broadcast media such as radio and television. The photocopy machine is widely used by students to access information from……. selanjutnya klik

Information and Communications Technology -2

———————————————————————————————–

Changing digital technology (Multimedia)

As personal computers and their software become more powerful they have the capacity to not only record and edit text, sound, still images, motion pictures and manage interactivity individually, but synthesize all of them onto the same page, screen or viewing, creating new plateaus or forms of composition. Personal computer technology has placed multimedia creation in the hands of any computer user. As multimedia becomes a more prevalent form of communication it is argued that the literacy of ‘reading’ and ‘writing’ using multimedia be taught in schools and other education institutions.

The related study of mass media has long been part of the school program in many school systems either as a separate subject option in secondary schools or more often as a part of general literacy learning. Film Study has also been a school subject in many schools for some time using relatively expensive and complicated equipment to make film or video. The rapid development of multimedia via personal computing means that it is becoming a routine form for a widening group of people not only for just “reading” but for creating the media. The line between mass media and personally authored media is becoming much more blurred if not obliterated. Some non professional authors on the web already have audiences larger than major commercial publications such as major newspapers and TV stations, whether text based blogs or multimedia podcasts. The sudden emergence of short video as a medium for viewing and authoring on sites such as YouTube has illustrated the very rapid rate of change in this area, and the need to learn new forms of literacy Selanjutnya Anda

Changing digital technology (Multimedia)






Mengurai Masalah Guru (Swasta)

28 11 2008

Oleh Doni Koesoema A
(Mahasiswa Pascasarjana Boston College Lynch School of Education, Boston)

Persoalan nasib guru swasta yang merasa dianaktirikan dan diperlakukan tidak adil kian mencuat ke publik. Polarisasi antara guru swasta dan negeri sebenarnya bukan persoalan utama yang kita hadapi.

Masalah utama yang menjadi pangkal perdebatan adalah tidak adanya keseriusan pemerintah dalam menjaga dan melindungi martabat profesi guru, tidak peduli apakah itu guru negeri, swasta, tetap, maupun honorer.

Dua kekuatan

Sebenarnya, nasib guru lebih banyak ditentukan dua kekuatan, yaitu kekuatan negara dan kekuatan masyarakat. Kekuatan negara terhadap guru bersifat memaksa dan mengatur. Ini terjadi karena negara berkepentingan hanya mereka yang memiliki kompetensi dan layak mengajar di kelaslah yang boleh berdiri di depan kelas. Karena itu, negara mengatur berbagai macam kompetensi yang harus dimiliki guru sebelum mereka boleh mengajar di dalam kelas. Kualifikasi akademis, sertifikasi, kemampuan sosial, dan keterampilan pedagogis adalah hal-hal yang harus dikuasai guru. Berhadapan dengan aturan negara yang koersif ini, para guru tidak dapat berbuat apa-apa selain harus menyesuaikan diri. Sebab inilah satu-satunya cara agar profesi guru tetap berfungsi efektif dalam lembaga pendidikan.

Selain itu, masyarakat juga memiliki kekuatan kultur yang menentukan gambaran sosok guru. Guru harus memiliki sifat-sifat tertentu, yaitu ramah, terbuka, akrab, mau mengerti, dan pembelajar terus-menerus agar semakin menunjukkan jati diri keguruannya. Masyarakat telah menentukan pola perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan guru di dalam kelas dan di luar kelas. Bahkan, masyarakat dengan kekuatan kulturalnya mengatur bagaimana guru harus berpakaian. Guru tak bisa seenaknya memakai jenis pakaian tertentu selama mengajar. Pelanggaran atas harapan masyarakat ini membuat individu guru kehilangan integritas.

Berhadapan dengan dua kekuatan ini, guru tidak memiliki kekuatan penawaran, selain mengikuti apa yang ditetapkan instansi di luar dirinya. Tidak jarang, norma sosial yang harus dilaksanakan guru menjadi rambu-rambu yang sebenarnya menjaga martabat guru itu. Ketika ada pelanggaran kode etik yang dilakukan guru, masyarakat akan menilai pribadi itu sebagai kehilangan kualitas keguruan dan dia tidak akan dipercaya. Karena itu, sanksi sosial, baik dari masyarakat maupun negara, sebenarnya bukan bersifat punitif, tetapi juga reparatif, yang membuat status dan martabat guru tetap berharga di mata masyarakat dan negara.

Bagian hakiki

Kekuatan memaksa negara dan kekuatan kultural masyarakat sebenarnya menjadi bagian hakiki yang mewarnai status seorang guru. Karena itu, tiap orang yang ingin menjadi guru harus mempertimbangkan dua tuntutan itu. Guru tidak bisa mengklaim dirinya sebagai guru jika negara dan masyarakat tidak memaklumkan keberadaan individu itu sebagai guru.

Sayang, situasi sosial, politik, dan ekonomi kian membuat status guru terpencil dan terpinggir. Ini terjadi karena tuntutan tinggi yang dipaksakan pemerintah ternyata tidak dibarengi kesediaan pemerintah melindungi profesi guru. Bahkan, ada guru digaji di bawah upah minimum regional. Sedangkan masyarakat, terutama para pemilik yayasan pendidikan swasta, juga tidak dapat berbuat banyak karena alasan tak adanya dana untuk mengangkat guru-guru mereka menjadi guru tetap. Minimnya sumber daya yayasan sering menjadi alasan untuk tidak memerhatikan nasib guru, bahkan membebani masyarakat dengan cara menaikkan biaya pendidikan.

Entah berhadapan dengan kekuatan negara atau masyarakat, guru ada dalam posisi lemah dan selalu menjadi korban. Situasi ini tidak dapat diatasi dengan mengangkat seluruh guru honorer menjadi pegawai negeri, seperti tuntutan beberapa kelompok guru honorer maupun mengangkat guru tidak tetap menjadi guru tetap yayasan.

Masalah ini hanya bisa diatasi jika pemerintah dan masyarakat memberi prioritas untuk menjaga, melindungi, dan menghormati profesi guru. Secara khusus, pemerintah harus memberi jaminan finansial secara minimal kepada tiap guru agar mereka dapat hidup layak dan bermartabat sebagai guru. Jaminan seperti ini hanya bisa muncul jika ada perlindungan hukum berupa peraturan perundang-undangan yang benar-benar memihak dan berpihak kepada guru.

Sejauh ini, pemerintah hanya mampu menuntut guru untuk ikut sertifikasi, tetapi ia gagal memberi penghargaan dan perlindungan atas profesi guru (ada ketidakseimbangan kuota guru negeri dan swasta, sedangkan swasta dibatasi kesejahterannya dengan aturan alokasi jam mengajar dan status kepegawaian). Pemerintah memiliki tugas mulia dalam menyejahterakan nasib guru. Negara mampu melakukan itu jika ada keinginan politik yang kuat. Ongkos sosial dan politik pada masa depan akan lebih ringan jika pemerintah mampu memberi perlindungan dan kemartabatan profesi guru, terutama memberi jaminan ekonomi minimal agar para guru dapat hidup bermartabat, sehingga mereka dapat memberi pelayanan bermutu bagi masyarakat dan negara.

Dukungan bagi swasta

Ketidakmampuan sekolah swasta dalam membiayai para guru yang bekerja di lingkungannya juga harus menjadi keprihatinan utama pemerintah. Partisipasi masyarakat dalam mengembangkan dunia pendidikan patut didukung, tetapi pemerintah juga wajib menjamin bahwa masyarakat yang mengelola sekolah memenuhi persyaratan sesuai standar pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan. Jika banyak yayasan pendidikan tidak mampu memenuhi standar pelayanan pendidikan, yayasan seperti itu tidak layak melangsungkan pelayanan pendidikan karena akan merugikan masyarakat (menarik ongkos terlalu tinggi), tidak mampu menghargai kinerja guru, dan tidak mampu memberi layanan pendidikan yang terbaik bagi siswa karena keterbatasan sarana, fasilitas, dan mutu guru.

Di zaman persaingan ketat seperti sekarang, kinerja menjadi satu-satunya cara untuk mengukur mutu seorang guru. Karena itu, status pegawai negeri, swasta, tetap, atau honorer tidak terlalu relevan dikaitkan gagasan tentang profesionalisme kinerja seorang guru. Di banyak tempat, status pegawai tetap malah membuat lembaga pendidikan swasta tidak mampu mengembangkan gurunya secara profesional sebab mereka telah merasa mapan. Demikian juga yang menjadi pegawai negeri, banyak yang telah merasa nyaman sehingga lalai mengembangkan dirinya. Di Papua, ada fenomena, status menjadi guru pegawai negeri banyak diincar sebab tiap bulan mendapat gaji, sementara hadir di sekolah dianggap tidak wajib.

Guru yang berkualitas selalu mengembangkan profesionalismenya secara penuh. Dia tak akan merengek-rengek meminta diangkat sebagai pegawai negeri atau guru tetap sebab pekerjaannya telah membuktikan, kinerjanya layak dihargai. Mungkin ini salah satu alternatif yang bisa dilakukan guru untuk mengembangkan dan mempertahankan idealismenya pada masa sulit. Namun, idealisme ini akan kian tumbuh jika ada kebijakan politik pendidikan yang mengayomi, melindungi, dan menghargai profesi guru. Pemerintah sudah seharusnya menggagas peraturan perundang-undangan yang melindungi profesi guru, tidak peduli apakah itu guru negeri atau swasta, dengan memberi jaminan minimal yang diperlukan agar kesejahteraan dan martabat guru terjaga. Kompas, 19/11/08  





Akta IV – Kontrak Perkuliahan 2008/2009

28 11 2008

Jurusan/Program Studi : Akta IV

Mata Kuliah : Media Pembelajaran danTeknologi Istruksional

Semester/Kelas : _____________________

Standar Kompetensi : Mengenal konsep Teknologi Instruksional dan

Media Pembelajaran serta mampu merancang, mengembangkan dan

memanfaatkannya  dalam proses balajar-mengajar.

No

Kompetensi Dasar

Jumlah Pertemuan

Tanggal

Alokasi

Jam/Pertemuan

Keterangan

1

Mengenal konsp dan ruang lingku TI & MP

1

17 Nop ‘08

150 menit /1 x

Pengantar

2

Mampu memilih media sesuai dg kriteria

1

24 Nop ‘08

150 menit /1 x

3

Mengetahui jenis media pembelajaran

1

06 Des ‘8

150 menit /1 x

4

Mampu merancang dan memnfaatkan MP

3

13,20,27

450 menit /3 x

Des ‘08

5

Mampu meproduksi MP

6

03 Jan sd.07

900 menit / 6 x

7 Febr 2009

Febr 2009

UAS

Jakarta, ________________

Ketua Kelas,

Dosen Mata Kuliah,


Drs Zamris Habib, M.Si

NIP 130695192

Mengetahui

Ketua Prodi Akta IV,


Drs. Rusydi Zakaria, M.Ed

NIP.

Ket. :





008 – Media Sederhana

28 11 2008

008 – Media Sederhana

008-media-sederhana





006 – Story Board

28 11 2008

006 Story Board

006-strory-board





Ikapi Jual Murah 500 Juta Buku

24 11 2008

JAKARTA — Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) meminta izin pemerintah untuk dapat menjual murah 500 juta buku pelajaran yang terlanjur dicetak. “Kalau pemerintah memang sudah memutuskan hanya menggunakan BSE (Buku Sekolah Elektronik) ya tidak masalah. Paling tidak pemerintah mengizinkan kami menjual buku pelajaran yang sudah terlanjur dicetak yang nilainya sampai Rp10 triliun,” kata Ketua Umum Ikapi, Setia Dharma Madjid, di Jakarta, Senin.

Dia mengatakan adanya 500 juta buku pelajaran yang tidak dapat dijual lagi tersebut berawal dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 11 Tahun 2005 tentang Penerbit swasta yang bukunya telah lolos seleksi dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dapat mencetak buku yang berlaku dan tahan selama lima tahun.

“Dengan adanya Permendiknas itu penerbit langsung mencetak buku pelajaran tersebut tentunya dengan asumsi stok harus ada lima tahun. Tapi belum selesai masa lima tahun sudah ada Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008 yang menyatakan penggunaan BSE, lalu mau dijual kemana buku kami,” katanya.

Untuk itu, dia mengatakan, Ikapi meminta kepada pemerintah agar diberi kesempatan atau peluang yang sama untuk menjual buku yang telah lulus dari BSNP yang menumpuk di gudang masing-masing penerbit langsung kepada sekolah-sekolah.

“Kenapa sekolah langsung, karena belum semua daerah punya toko buku. Gorontalo saja belum ada toko buku, karena itu penerbit biasanya langsung ke sekolah,” ujar dia.

Selain itu, dia meminta agar pemerintah mau menetapkan harga jual buku tersebut berdasarkan versi penerbit bukan Harga Eceran Terendah (HET) percetakan untuk menjaga kelangsungan hidup penerbit. Paling tidak sama dengan yang telah diusulkan oleh Ikapi kepada Menteri Pendidikan Nasional.

“Kami sangat berharap kalau pemerintah mau menerima apa yang telah diusulkan sebelumnya yakni 70 persen dari harga eceran penerbit. Karena harga itu lah yang tidak merugikan penerbit maupun pemerintah,” kata Setia. ant/is

By Republika Contributor
Senin, 24 November 2008 pukul 22:10:00





Akta IV – Satuan Acara Perkuliahan

24 11 2008

Mata Kuliah : Media Pembelajaran dan Teknologi Instruksional

Kode : ………………………………………………

Bobot SKS : 3 SKS

Jurusan : ………………………………………………

Program Studi : Akta IV

Semester : ………………….

Mata Kuliah Prasyarat : Pengembangan Kurikulum

Standar Kompetensi : Mengenal konsep Teknologi Instruksional dan Media Pembelajaran serta mampu merancang, mengembangkan dan

memanfaatkannya dalam proses balajar-mengajar.

Deskripsi Mata Kuliah : Pengertian dan ruang lingkup teknologi Innstruksional dan media pembelajaran, jenis-jenis media dengan segala kekuatan dan kelemahannya, tujuan dan fungsi media, pengertian multi media, e-elarning, media sederhana serta pengembangan dan pemanfaatan media di kelas dan luar kelas.

Pada 4 kali pertemauan terakhir mahasiswa dilatih membuat media dan setiap mahasiswa/kelompok harus membuat media dan mempresentasikan di depan kelas setelah itu diadakan diskusi terhadap media yang mereka buat

No

Perte-muan

Kompetensi Dasar

Materi

Uraian Materi

Indikator

Strategi, Metode, dan Media

Pola Penugasan

Penilai-an

Buku Sumber

1

Mengenal konsp dan ruang lingku TI & MP

Kajian teoritis tentang pengertian, fungsi dan tujuan Teknologi Instruksional dan Media Pembelajaran serta potensi

Konsep TI & MP

Peranan dl pbm

Tujuan TI dan MP

Potensi MP

Menjelaskan TI dan MP

Menjelaskan Tujuan MP

Menjelaskan potensi MP

Presentasi

Diskusi

Inquiring

2

Mampu memilih media sesuai dg kriteri

Kriteria serta prosedur pemilihan Media Pembejaran

Presedur pemilihan MP sesua dg materi pembelajaran

Menjelaskan prosedur pemilihan media

Memilih media sesuai dg materi

-Presentasi dg media

-diskusi

-prakkek

3

Mengetahui jenis media pembelajaran

Jenis Media Audio dan Visual, kekuatan dan kelemahan

Media Audio

Media Video

Media AV Gerak

Multimedia dan Internet

Menjelaskan media audio, video dan AVGerak dg karakteristik masing2

Menjelaskan kekuatan dan kelemahan masing media

4

Mampu merancang dan memnfaatkan MP

Pola dan strategi pemanfaatan (opertation and utilization)

Pemanfaatan invidulal & kel

Dalam di luar kelas

Strategi pemanfaatan

Menjelaskan pola pemanfaatan MP

Menjelaskan strategi MP

5

Merancang (design) media pembelajaran

Membuat tujuan, materi dan strategi pengembangan (development) MP

Mendisain pola dasar pengembangan MP

Presentasi

Diskusi

Praktek

6

Rancangan dan membuat Story Board

Membuat naskah dan story board

Sesua dg bidang study

Membuat story board

7

Mampu meproduksi MP

Membuat (produksi) media Pembelajaran Power Point, OHT dll

Teknik membuat Power point, OHT dll

Membuat power point dan OHT

Praktek

8

Membuat (produksi) media sederhana (Papan dan Kain Flanel)

Teknik membuat media sederhana dg papan dan kain flanel

Media Pembelajran Sederhana

Praktek

9

Praktek dan presentasi (1)

Praktek dan presentasi OHT

Media Pembelajran OHT

Presentasi Produksi MP

10

Praktek dan presentasi (2)

Praktek dan presentasi Powerpoint

Media Pembelajran Powerpoint

Presentasi Produksi MP

11

Praktek dan presentasi (3)

Praktek dan presentasi media sederahana

Media Pembelajran Papan dan kain flannel

Presentasi Produksi MP

12

Praktek dan presentasi (4)

Praktek dan presentasi media sederhana

Media Pembelajran Papan dan kain flanel

Presentasi Produksi MP

BUKU SUMBER

  1. ……………………………………
  2. ……………………………………
  3. ……………………………………
  4. ……………………………………

Mengetahui Jakarta, ……………………………..

Ketua Jurusan/Program Studi, Dosen Pengampu Mata Kuliah

…………………………………………. ..Drs Zamris Habib, M.Si





Silabi Prog. Akta IV

24 11 2008

Standar Kompetensi
Mengenal konsep Teknologi Instruksional dan Media Pembelajaran serta mampu merancang, mengembangkan dan memanfaatkannya dalam proses balajar-mengajar.
Kompetensi Dasar
Pengertian dan ruang lingkup Teknologi Instruksional dan Media Pembelajaran mencakup tujuan, fungsi, jenis-jenis merancang, memproduksi dan memanfaatan media dalam pbm

Indikator

:

Setelah menyelesaikan seluruh materi perkuliahan diharapkan mahasiswa memiliki kemampuan:

  1. Menjelasan pengertian, fungsi dan tujuan Teknologi Instruksional dan Media Pembelajaran
  2. Menjelaskan jenis-jenis dan kriteria serta prosedur pemilihan Media Pembejaran
  3. Menjelaskan pengertian Multi Media.untuk Pembelajaran
  4. Menjelaskan pengertian e-Learning dan Internet untuk pembelajaran
  5. Merancang dan memanfaatkan Media Pembelajaran
  6. Membuat/memproduksi beberapa Media Pembelajaran yang sederhana

Deskripsi Mata Kuliah

:

Pengertian dan ruang lingkup teknologi Innstruksional dan media pembelajaran, jenis-jenis media dengan segala kekuatan dan kelemahannya, tujuan dan fungsi media, pengertian multi media, e-elarning, media sederhana serta pengembangan dan pemanfaatan media di kelas dan luar kelas.

Pada 4 kali pertemauan terakhir mahasiswa dilatih membuat media dan setiap mahasiswa/kelompok harus membuat media dan mempresentasikan di depan kelas setelah itu diadakan diskusi terhadap media yang mereka produksi

Materi Pokok Perkuliahan

:

1. Kajian teoritis tentang pengertian, fungsi dan tujuan Teknologi Instruksional dan Media Pembelajaran

2. Kriteria serta prosedur pemilihan Media Pembejaran

3. Jenis Media Audio dan Visual, kekuatan dan kelemahan

4. Pola dan strategi pemanfaatan (utilization)

5. Disain media pembelajaran

6. Merancang dan membuat Story Board

7. Teknik membuat (produksi) media Pembelajaran Power Point, OHT dll

8. Teknik membuat (produksi) media sederhana (Papan dan Kain Flanel)

9. Praktek dan presentasi (1)

10. Praktek dan presentasi (2)

11. Praktek dan presentasi (3)

12. Praktek dan presentasi (4)

Pendekatan

:

Teori dan praktek

Penilaian

:

Penilaian diperoleh dari aspek-aspek:

1. Kehadiran…………: 10 %

2. Tugas Kelompok : 20 %

3. Tugas Individual.: 30..%

4. UAS………………..: 40 %

Buku Sumber

:

1. Ronald H Anderson, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran, Penj. Yusufhadi Miarso, dkk., Jakarta: Rajawali Press, 1987.

2. Arief S. Sadiman, dkk. Media Pendidikan, Jakarta: Rajawali, 1990.

3. Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Press, 2002.

4. Azhar Arsyad, Media Pengajaran, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997.

5. Rudy Bretz, Media for Interactive Communication, Baverly Hills: Sage Publications, 1983.

6. Jerrold E. Kemp and Deane K. Dayton, Planning & Producing Instructional Media, New York: Harper & Row, 1985.

7. Dewi Salma Prawiradilaga dan Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2007

8. Fred Percival & Henry Ellington, Teknologi Pendidikan, Penj.: Sudjarwo S., Jakarta: Erlangga, 1988.

9. Vernon S. Gerlach & Donald P. Ely, Teaching & Media a Systematic Approach, New Jersey: Prentice-Hall, 1980.

10. James Wilson Brown, AV Instruction: Technology, Media, and Methods, Book Company: McGraw-Hill, 1983.

11. Erhard U. Heidt, Instructional Media and the Individual Learner: A Classification and Systems Appraisal, New York: Nichols Publishing Co., 1976.

12. Minor (ed.), Handbook for Preparing Visual Media, Second Edition, Book Company: McGraw-Hill, 1978.

13. Minor and Frye, Techniques for Producing Visual Instructional Media, Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, 1970.

14. Mudhoffir, Prinsip-Prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.

15. Phillip J. Sleeman, Ted C. Cobun, and D.M. Rockwell, Instructional Media and Technology: A Guide to Accountable Learning Systems, New York: Longman, 1979.

16. Tian Belawati (editor) Pendidikan Terbukadan Jarak Jauh, Universitas Terbuka, 1999

17. Barbara, C. Seels dan Rita C. Richey, Teknologi Pembelajaran (Penyunting Yusufhadi Miarso), IPTPI dan LPTK, 1994

dst.

Mengetahui, Jakarta, ………………………….

Ketua Jurusan/Prodi Dosen Pengampu Mata Kuliah

Drs Rusydi Zakaria, M.Ed Drs Zamris Habib, M.Si





007 – OHT dan Powerpoint

24 11 2008

007 – OHT dan Powerpoint.ppt

007-oht-dan-powerpoint








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.