Manusia Tanpa Jiwa? Renungan 10 tahun reformasi

11 05 2008

Sejenak kita coba merenung ke masa awal reformasi, 10 tahun yang lalu. Masyarakat menjadi beringas, kalau ada yang tidak setuju terhadap sebuah kebijakan langsung main hantam, bakar!! Kalau ketemu orang yang dianggap maling langsung digebukin di tempat saat itu juga. Kalau mengusulkan sesuatu, harus diterima. Bila tidak, akan dimusuhi, jika perlu dihancurkan. Serasa bangsa ini tidak punya aturan dan etika lagi.

Mari, kita flashback ke beberapa dekade sebelum reformasi. Hampir semua orang ingin maju tanpa melalui proses sebagaimana lazimnya. Anak sekolah mau naik kelas kalau bisa tanpa ujian, ingin lulus tanpa susah-susah belajar, ingin jadi sarjana jiplak karya tulis orang. Tak terkecuali orang tua murid selalu menginginkan anaknya naik kelas atau lulus ujian walaupun kemampuannya rendah, dengan menempuh berbagai cara seperti menemui kepala sekolah, wali kelas atau kalau kebetulan punya kenalan pejabat eselon yang lebih tinggi minta katebelece agar diberikan prioritas. Naik kelas, naik pangkat atau naik gaji tentu semua orang mengharapkan, tetapi untuk mendapatkannya sering menempuh segala cara, tidak mengindahkan etika dan aturan main.

Kondisi beginilah yang terus-menerus berlangsung beberapa dekade terakhir, apakah ini merupakan suatu rekayasa dari pihak tertentu atau memang kondisi tersebut dibiarkan terjadi untuk menghancurkan moral anak bangsa. Sampai hari ini setelah 10 tahun reformasi masih banyak orang tua dan guru-guru secara sengaja menghancurkan anak didiknya sendiri dengan membantu mereka dalam menyelesaikan soal-soal ujian nasional (ingat kasus Medan yang diusung oleh Airmata Guru tahun 2007) dan pada waktu pelaksanaan ujian nasional tahun 2008 ini masih terjadi kasus-kasus serupa di berbagai daerah.

Berdasarkan contoh-contoh di atas cobalah kembali kita renungkan, kenapa semua ini terjadi, kenapa orang-orang ingin cepat kaya tanpa susah-susah melaui proses yang semestinya, kenapa orang menginginkan semuanya serba instant, tidak mau “Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Walaupun peribahasa tersebut sudah jarang terdengar di telinga kita sekarang ini tapi subtansinya masih relevan.

Apakah kita ini sudah kehilangan roh, apakah kita sudah seperti mesin yang bekerja tanpa rasa, atau robot-robot yang tak berjiwa. Ataukah kita sudah menjadi makhluk-makhluk gentayangan yang bekerja tanpa mengenal lelah demi untuk mengejar target, demi untuk mengejar kekayaan dengan cara apapun yang menjadi ukuran kesuksesan dewasa ini.

Gerakan Reformasi memang sudah merubah secara drastis perjalanan bangsa ini. Ibarat kapal laut yang seyogiyanya mengambil ancang-ancang dengan membuat setengah lingkaran untuk berbelok agar kapal tidak oleng dan penumpangnya tidak goncang dan kaget. Tetapi seperti kita saksikan gerakan reformasi telah memaksa nahkoda untuk memutar-balik kapal bangsa ini dengan belokan patah. Penumpang kaget dan keluarlah sifat-sifat asli yang jelek, bagaimana menyelamatkan diri tanpa menghiraukan orang lain, muncul sifat nafsi-nafsi (individual) untuk mencari kesempatan dalam kesempitan dan menyelamatkan diri, harta dan keluarga. Mereka mengklaim bahwa mereka sajalah yang benar, orang lain salah. Apabila mendapat kesempatan menjadi pejabat akan mengangkat orang-orang dari keluarga, kelompok atau golongannya, bahkan keluar pameo bahwa “dulu giliran elo, nah sekarang giliran gue..!!

Pertanyaan mendasar adalah apakah akan dibiarkan situasi dan kondisi ini berlangsung terus? Memang anggota parlemen sudah memulai langkah awal dengan merubah undang-undang yang tak sesuai dengan tuntutan reformasi, tetapi di lapangan tradisi lama yang sudah mendarah daging sulit untuk dihilangkan. Ibarat bermain bola kaki, aturan main memang sudah baru agar bermain cerdas dan sportif, tetapi yang bermain kan masih pemain-pemain lama dan sudah punya kebiasaan yang sulit untuk dirubah.

Saya kira kita semua sepakat bahwa manusia-manusia tanpa jiwa (sebelumnya masih punya jiwa) itu umumnya pernah duduk di bangku sekolah (baca: dididik), tetapi kenapa demikian perilaku anak bangsa ini, apa yang salah pada lembaga pendidikan kita? Perlukah kita mengkaji ulang secara mendasar terhadap sistem pendidikan bangsa ini tanpa mencari siapa yang salah ??? Wallahu a’lam bissawab.(zh)


Tindakan

Information

19 tanggapan ke “Manusia Tanpa Jiwa? Renungan 10 tahun reformasi”

19 05 2008
jumadi (07:53:27) :

Kita ketahui bahwa 2 mei selalu diingat sebagai hari pendidikan nasional yang selalu diperingati. setiap kita memperingati, setiap tahun pula kita diingatkan apakah pendidikan di Indonesia telah menunjukan kemajuan yang signifikan? ternyata sangat disayangkan, diusia tanah air yang selangkah lagi berusia 63 tahun, kualitas pendidikan dirasa masih sangat jauh dari harapan.
Berbagai problematika yang marak terjadi telah mencoreng manisnya dunia pendidikan nasional. Persoalan utama yang masih mengganjal dunia pendidikan di Indonesia adalah masalah biaya pendidikan yang tidak terjangkau, tak hanya pendidikan di perguruan tinggi, pendidikan di sekolah dasar dan menengah ke atas juda masih jauh dijangkau kantong masyarakat. Biaya pendidikan yang sangat tinggi membuat masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan tidak lagi memperdulikan pendidikan anak-anak mereka, hasilnya angka putus sekolahpun emakin meningkat.
Tingginya biaya sekolah tak lepas dari mahalnya harga buku. Saat ini proporsi harga buku dan pendapatan masyarakat sudah tidak lagi seimbang. Apalagi masyrakat sudah terbebani dengan kenaikan bbm dan harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik.
Kondisi ini diperparah dengan kurikulum pendidikan yang selalu berganti tiap tahun, hal ini memaksa orang tua untuk menyediakan lagi buku baru untuk anaknya.
Masalah lain yang muncul adalah maraknya kebocoran soal ujian nasional dan pengatrolan nilai, ini merupakan modus penyelewengan yang kerap terjadi setiap pelaksanaan ujian nasional.
Selain itu sarana dan prasarana pendidikan yang belum memadai turut menjadi duri dalam pendidikan nasional.
Ditambah kondisi ini diperburuk dengan kualitas guru yang tersedia, banyak guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang bidang ilmu yang dimiliki.
Rumitnya jalur penerimaan masuk di sekolah-sekolah lanjutan dan standar UN yang terlalu tinggi menjadi permasalahan lain dalam dunia pendidikan kita saat ini.
Oleh karena itu kita harus mengkaji ulang sistem pendidikan di Indonesia dan mengkaji ulang orang-orang yang berperan di dalamnya sehingga tidak terjadi adanya manusia-manusia tanpa jiwa yang dapat menghancurkan Indonesia tercinta ini.
MERDEKA!!!!!! MERDEKA!!!!!! MERDEKA!!!!!!!!!!

19 05 2008
MUJENAH (11:14:13) :

Jika kita renungkan, 10 tahun sudah reformasi digulirkan walaupun menyisakan duka yang mendalam, pahit teramat sangat bagi keluarga korban, tetapi itulah perjuangan demi menghancurkan sebuah Rezim kekuasaan(memang NKRI sebuah negara Republik tetapi kalau tidak dihancurkan mungkin akan menjadi sebuah negara yang berbentuk kerajaan, semua bersentral kepada seorang raja. Titah Raja harus selalu di dengar, dipatuhi. yang menentang di pancung. Ibarat bisul sudah hampir pecah dan setelah pecah mengalir kemana saja, tanpa ada yang mampu mencegahnya, sudah begitu lama masyarakat indonesia dikekang, dendam dihati bagi yang lemah sudah berurat berakar. Kapan Rezim ini berakhir? pertanyaan ini yang selalu timbul di masyarakat, KKN dimana-mana, orang yang berkompeten dalam suatu bidang. karena tidak ada koneksi tidak ada peluang untuk maju.sungguh tragis!
Akhirnya datang juga moment yang dinanti-nanti, memang Reformasi sudah berjalan tetapi reformasi ini salah kaprah yang direformasikan hanya dibidang Politik saja,tidak dibidang Sosial, Ekonomi, Budaya dan Pendidikan. Negara ini yang tadinya negara yang masyarakatnya terkenal di negara luar, dengan keramahan dan masyarakat yang beradab, berubah menjadi Premanisme, timbul sebuah pertanyaan di hati saya. Mungkinkah masyarakat indonesia belum saatnya melakukan Reformasi?.
Memang pada umumnya pernah duduk di bangku sekolah tetapi mengapa perilaku anak bangsa seperti itu, menurut saya bukan lembaga pendidikan kita yang salah tetapi perilaku pemimpin-pemimpin pada rezim saat itu yang mencontohkan dan mengajarkan serta menanamkan rasa sakit hati( dibaca: dendam) yang mendalam seperti pepatah ibarat semut di injak, ia akan menggigit. Inilah gambaran masyarakat indonesia pada awal Reformasi.
Reformasi sudah bergulir tetapi hanya politiknya saja tidak hatinya. Marilah kita bertafakur, masih adakah iman di hati masyarakat indonesia yang notabene(mayoritas muslim), apakah pantas seorang muslim berperilaku jahiliyah yang pada zaman Rasulullah sifat jahiliyah itu dihancurkan dan sebagai pengikut Rasulullah alangkah tragis sekali bila kita tidak mengikuti suri tauladan Beliau.(Naif sekaliu di KTP Islam, hatinya jahiliyah, Nauzu billah min zaalik).
Please boleh ada perubahan tetapi janganlah keluar dari koridor kita, tetaplah iman ada di jiwa anak bangsa ini, memang dalam kehidupan ini dituntut untuk melakukan perubahan pembaharuan dalam segala hal, Dimana Nabi Muhammad SAW menganjurkan seperti itu, apalagi kita yang mengaku sebagai seorang yang Muslim, wajib mengikutinya.
Kita renungkan lagi dihati kita masih adakah secuil imam, kalau tidak marilah kita pupuk kembali iman didalam jiwa, kembali ke fitrah manusia yang mempunyai jiwa bukan manusia-manusia tanpa jiwa.

20 05 2008
Yetty Suryaningsih Nuny (11:22:19) :

Pada awal reformasi yang terjadi adalah munculnya ephoria di segala bidang. Setelah sekian lama terkungkung, kini Indonesia bagai kuda lepas dari jeratan, semuanya selalu mengatasnamakan apa yang disebut kebebasan yang ujung-ujungnya ternyata hanya untuk kesenangan pribadi.
Sudah menjadi hukumnya, bahwa setiap terjadi revolusi pasti akan terjadi pergolakan, sebuah reaksi dari perubahan yang ada. Karena kini sudah tak lagi sekaku dahulu, karena telah runtuhnya rezim lama maka semua orang seenaknya menggunakan kebebasan itu. Tetapi yang terjadi malah kebablasan, semuanya terlalu senang menikmati kebebasannya hingga akhirnya kebingungan sendiri menentukan kembali arahnya.
Itulah yang terjadi dengan bangsa kita sekarang, masih terus mencari arah tujuannya ditengah terus munculnya masalah-masalah primer lainnya termasuk juga didalamnya masalah pendidikan yang juga memerlukan pemikiran khusus dan pembenahan disana-sini.
Menurut saya hal pertama yang perlu dibenahi adalah mental, perlu kesadaran tinggi dalam menghadapi kondisi seperti ini, berusaha tetap tenang dan fokus dalam mencari solusi sehingga terkonsep dengan baik dengan mengenyampingkan kepentingan pribadi terlebih dahulu.
Kita sudah terlambat dan terlalu sulit untuk menunjuk hidung orang yang bersalah, menurut saya apa yang terjadi sekarang adalah kesalahan kolektif, sehingga untuk memperbaikinya juga perlu dukungan kolektif.

20 05 2008
Neneng suryani (12:26:33) :

Pada awal reformasi ini kita menyaksiakn fenomena maraknya berbagai kerusuhan,kebringasan sosial,pelanggaran hukum dan moral,pelanggaran hak asasi manusia dan benteran antara pemeluk agama.Bahkan kita dikejutksn bahwa ambruknya Orde Baru ternyata diantara faktor pentebabnya adalah dosa stuktural(pelanggaran HAM dan budaya KKN).Maka timbul kesan seakan -akan pendidikan yang kita laksanakan telah gagal mengemban fungsinya.Ini perlu disadari bahwa pendidikan akan menciptakan manusia-manusia yang sadar nilai kemanusian,bila manusia yang terdidik ini belum menjadi manusia sesungguhnya berarti dalam pendidikan yang diberikan kepadanya gagal,karena pendidikan yang kita artikan sebagai pengarahan termasuk didalamnya adalah merupakan pilar dari demokrasi.Sehingga tugas pendidik semakin berat bukan hanya mentrasfer akan nilai-nilai humanis.akan tetapi juga penyadaran akan nilai-nilai kemanusiaan.
Sering dengan arus dan trens keterbukaan informasi.Demokratisasi pendidikan tidak busa dihindarkan,karna pendidikan adalah suatu elemen kultur dan pendidikanpun terkena imbas globalisasi.Harus diakui bahwa salah satu dampak positif globalisasi adalah pendidikan turut mendorong dan mempercepat arus reformasi.Wajah pendidikan kita ujung ORBA digambarkan Dosen takut dekan.dekan takut pada rektor,rektor takut pada menteri,menteri takut pada presiden dan presiden takut sama mahasiswa.KOndisi inilah harus direformasi dengan penataan paradigma-paradigma baru dan penegak tradisi.
Pendidikan di Indonesia sering mengabaikan 3 aspek yaitu: rasa tanggung jawab.akal sehat dan pemecahan masalah ,maka tidak heran akan melahirkan individu yang selalu merasa tidak percaya diri.Sedangkan di dunia barat khususnya Amerika ke tiga aspek itu sudah menjadi garapan utama dirumah maupun disekolah.
Oleh karena itu dapat digarisi bawahi pendidikan di Indonesia harus mempunyai terobosan-terobosan baru misalnya adanya pendekatan-pendekatan.Pendekatan TEOLOGIS dimana nilai-nilai kemanusia berpijak pada kebebasan persamaan dan menghormati dianggap sebagai nilai agama dan ajaran Tuhan yang harus dijunjung tinggi,pendidk pun harus bisa merangsang untuk mencerahkan pekiran yang akhirnya mencapi budi pekerti
Pendekatan INTERST dimana subyek didik dalam melakukan aktivitas kemanusiaan selalu ditanamkan akan rasa tenang pokoknya senang melakukan pekerjaan tanpa mengharapkan materi.
Dalam kondisi demikian IQpenting untuk memberikan kemampuan memecahkan masalah,tetap EQ penting untuk menumbuhkan seamina dan sabilitas mental dalam menghadapi berbagai krisis dalam kehidupan.
Insya Allah dengan adanya pendekatan tadi ,nilai IQ dan EQ seimbang,maka reformasi pendidikan baru bisa menciptakan SDM yang ideal.Majulah Indonesiaku an Jayalah terus pendidikan

20 05 2008
jalilah (14:05:27) :

10 tahun sudah reformasi berjalan dan banyak pula hal-hal yang diperbaharui di dalam pemerintahan, tetapi makna reformasi belum seutuhnya berjalan dan mungkin banyak pihak -pihak yang masih belum bisa merasakan makna reformasi, itu disebabkan karena belum terlaksananya pemerintahan yang transparan, baik di pemerintahan maupun di DPR, padahal mereka adalah wakil rakyat yang menjadi panutan bagi rakyatnya.kurangnya kesadaran diri adalah faktor yang menyebabkan mereka hanya mementingkan diri sendiri, dan faktor konomi, di hari kebangkitan nasional ini mari kita semua bangkit agar bisa melepaskan indonesia dari keterpurukan terutama dengan meningkatkan pengawasan,kedisiplinan yang tinggi di lingkungan pendidikan,agar bisa menghasilkan generasi muda yang berpotensial,karna saat ini masih banyak sekali orang-orang yang  menginginkan sebuah ijazah atau gelar dan sangat mudah mendapatkannya tanpa harus berjuang(menimba ilmu), kita tidak bisa menyalahkan guru atau orang tua murid yang membantu mengerjakan soal-soal ujian murid atau pemerintah yang terlalu sulit membuat soal tersebut, tetapi marilah kita bersama-sama membenahi diri, dan introspeksi diri membina anak didik agar menjadi pemuda bangsa yang berguna. Terima kasih

21 05 2008
nuriah (11:20:04) :

reformasi yang yang telah bergulir di indonesia mendatangkan positif baik dan buruknya karna setelah reformasi orang boleh berbicara bebas tanpa adanya di tutupi ataupun perasaan apakah ada orang yang teraniaya atau terzolimi.semua orang dituntut untuk berbicara apabila ada yang tidak berkenan atau untuk menilai hasil kerja orang lain yang dianggap tidak sesuai dengan sebagian yang lain .sampai akhirnya para pendidik yang tadinya hanya mendidik juga ikut-ikuttan angkat bicara atau membuat demo dengan alasan materi yang sebelumnya tidak pernah di perhitungkan atau dengan kata lain ihlas dengan motto guru tanpa tanda jasa mulai hilang dari hati para pendidik karna arus reformasi yang digunakan oleh orang-orang atau elemen tertentu yang mempinyai keuntungan .oleh sebab itu marilah kita mulai menggunakan arus reformasi dengan meluruskan tugas masing -masing sebagai pendidik kembali ketugasnya mendidik para putra-putra bangsa untuk dapat mengerti arti reformasi di segala bidang dengan menggunakan apa yang dimiliki oleh bangsa kita untuk lebih maju kearah yang positif dengan tidak mencontihkan anak didik kita pada sesuatu hal yang tidak baik,karna pendidik adalah contoh yang baik bagi anak didik dan masyarakat bila kita bersama-sama saling membantu satu sama lain untuk memaknai artin reformasi yang sesungguhnya dengan kembali pada imtag yang mendasar kembali pada hati nurani yang bersih dan berfikir yang positif bertawakal dengan kembali berserah diri kepada alloh karana sudah lama bangsa indonesia melupakan penciptannya dengan cara bertaubat dan saling memeafkan bersilaturrahmi insyaalloh negara kita akan lebih aman bila kita berlapang dada,amin ya robbal alamin.

21 05 2008
Nia Nitikusumah (12:14:50) :

Reformasi Indonesia yang terjadi pada bulan Mei tahun 1998 menorehkan sejarah yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia. Setelah kerusuhan, yang merupakan terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia pada abad ke 20, yang tinggal hanyalah duka, penderitaan, dan penyesalan. Bangsa ini telah menjadi bodoh dengan seketika karena kerugian material sudah tak terhitung lagi. Sangat mahal biaya yang ditanggung oleh bangsa ini. Dampak dari peristiwa itu masih terbawa hingga saat ini, alih alih demokratis, yang terjadi adalah anarkisme. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Empat orang presiden pasca reformasi belum bisa memperbaiki moral bangsa, walaupun usaha yang maksimal telah dan sedang dilakukan. menurut saya, 10 tahun reformasi ini justru bangsa Indonesia telah semakin jauh dari cita-cita awal pencetus reformasi.Satu hal yang perlu ditegaskan adalah bahwa kegagalan mereka menjalankan reformasi disebabkan oleh kultur budaya yang tidak mendukung budaya fair-play.Maka benar ketika dikatakan bahwa krisis bangsa ini benar-benar sudah hampir sempurna, dan posisi bangsa ini sudah berada di tebing jurang kehancuran. Penyebabnya adalah karena kita berebut kekuasaan. Sebaliknya kekuasaan yang sudah didapat bukan digunakan untuk mengangkat harkat masyarakat kecil yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia.Ironi, itulah yang terjadi pada bangsa ini. Jika di satu sisi muncul ketakutan luar biasa atas apa yang disebut sebagai degradasi moral, maka di sisi lain justru moralitas tetap diangkat dalam berbagai substansi kebijakan dengan pemuatan ajaran agama secara formal. Dalam berbagai kebijakan, tampaknya bukan substansi agamanya yang ditonjolkan melainkan formalitas ajarannya. Realitas inilah yang seharusnya mulai diakui bila kita mau mengembalikan kembali bangunan bangsa ini pada peradaban humanis yang sehat. Cita-cita para pendiri bangsa adalah menciptakan masyarakat cerdas, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti luhur. Masyarakat cerdas hanya bisa dibangun bila “bangunan negaranya” menggunakan cara beradab.

22 05 2008
Eva Rodhianni Agustina (12:37:17) :

Manusia Tanpa Jiwa ? Renungan 10 Tahun Reformasi
Kalau kita renungkan kembali,10 th yang lalu,ke masa awal reformasi yang masyarakat memandang kebebasan suatu yang mutlak,bahkan mereka cenderung beringas dan sangat arogan .terhadap suatu kebijaksanaan yang dinilai tidak benar,langsung main fisik dan main hakim sendiri yang lebih kearah egosentris (mau benar dan menang sendiri)
Kekuasaan direzim orde baru terlalu lama dan sudah mendarah daging sehingga masyarakat sudah terbiasa dibungkam tidak boleh berpikir terlalu kritis dan veodal.Kalau ada yang berani mengkritik tentang kebijaksanaan pemerintah (politik,Pendidikan,sosial,Ekonomi,dan Budaya) langsung ditangkap dan diasingkan bahkan kalau punya kedudukan bisa langsung dicopot dengan cara yang tidak hormat.
Kita sepakat bahwa manusia-manusia tanpa jiwa itu sebelumnya masih punya jiwa karena pernah duduk dibangku sekolah,tetapi kenapa prilaku anak bangsa ini berubah kalau sudah menjabat,mereka melupakan semua janjinya untuk mensejahterakan rakyat,tetapi mereka mengutamakan isi perutnya sendiri??? Apakah ada pada lembaga pendidikan kita???
Disini kita tidak mencari siapa yang salah pada sistem pendidikan kita,tetapi kita harus dapat membenahi dari diri kita sendiri,berawal dari keluarga inti dulu,yaitu bisa menjadikan keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah untuk bisa mendidik putra-putrinya yang dapat berguna bagi agama,nusa dan bangsanya, Kalau keluarga inti sudah bisa terbentuk dengan sempurna,anak-anak merasa nyaman.Insya Allah mereka bisa terjun dan bermanfaat dimasyarakat maupun bangsa.
Saya pribadi juga mengidolakan sosok seperti The Lion Of Arabian (Ahmadinejad), Kita bisa mengambil contoh bahwa dulunya negara Iran juga dikuasai oleh suatu rezim yang terkenal dengan korupsi kolusi,nepotisme, Tapi dengan keberanian seorang Ahmadinejad meroformasi pemerintahanya dengan reformasi IMAN.
Dulu pendidikan dan kesehatan adalah faktor yang sangat eksklusif dinegara kita,Bahkan banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah karena merasa tidak nyaman,terintimindasi,tidak ada biaya,tetapi dengan gerakan reformasi Ahmadinejad mereka semua bisa merasakan gratis pendidikan,kesehatan.Itu dananya diambil bukan dari pajak tetapi diambil dari gaji Ahmadinejad sewaktu menjabat sebagai walikota dan presiden,Jadi untuk kehidupan sehari-hari dan keluarganya,beliau mengajar sebagai dosen..Coba kalau semua pejabat kita bisa seperti presiden Iran,Alangkah bahagianya kita semua,Pendidikan kita akan maju sekali dan dihormati oleh negara negara lain,
Amin…..Mudah-mudahan ada sosok pemimpin seperti beliau yang bisa membawa reformasi yang sesungguhnya terutama dalam dunia pendidikan.

22 05 2008
TUTI PUJI HARTATI (18:46:55) :

Reformasi memang telah mengubah negara kita tapi tidak dengan moral-moral para pemimpin yang ada di negara kita,kita bukan makhluk tuhan yang sempurna jika ada niatan untuk memperbaiki pastilah ada jalan yang bisa menunjukkan dunia pendidikan hampir sama dengan pemerintah negara kita disana ada para koruptor yang ingin membesarkan perut mereka sendiri serta golongannya dengan cara menghalalkan segala cara demi dapat tercapai tujuan mereka,disinilah menunjukkan bahwa para pemimpin kita telah adanya 10 tahun reformasi belum berubah moral-moralnya.
pada waktu standarisasi ( Pushingread ) nilai UAN di berlakukan. sebenarnya timbul polemik di dunia pendidikan kita,seperti guru-guru yang ada di kalangan kota kecil atau pedesaan,di satu sisi memang hal itu perlu di perlakukan demi peningkatan mutu SDM yang dihasilkan setelah lulus sekolah tapi untuk sekarang ini hal itu cuma berlaku bagi sekolah-sekolah modern yanng ada di kota-kota besar tidak halnya untuk sekolah yang berada di kota kecil atau pedesaan.
di suatu sekolah di kota kecil atau pedesaan apakah mungkin hal tersebut di berlakukan dengan pushingread 5,25 untuk tingkat SMP dan SMA dalam kelulusan..??? akhirnya disitulah timbul pikiran negatif dari sebagaian guru untuk dapat meluluskan siswanya dalam UAN demi ” Nama baik sekolahnya ” yaitu dengan cra membocorkan soal-soal yang akan di ujikan dan hal itu lagi-lagi di sebabkan karena hilangnya moral-moral sebagaian pendidik dalam segi apapun. misalmenjadi koruptor dana anggaran peningkatan sarana dan prasarana sekolah sehingga menyebabkan terganggunya proses belajar mengajar dan berakibat pada minimnya mutu SDM yang akan dihasilkan dari sekolah.
jadi disini perlu di garis bawahin bahwa semua itu bermula dari akhlak dan moral masing-masing individu, jika semua ini didasari atas ketulusan pastilah program-program pemerintah khususnya di bidang pendidikan akan dapat berjalan dengan semestinya karena di sekolah merupakan tingkat dasar pembentuk para calon pemimpin yang akan meneruskan dan membangun Negara ini, jadi di 10 tahun reformasi pendidikan ini dunia pendidikan di indonesia belum sepenuhnya terjamah maka marilah kita perbaiki akhlak dan moral kita mulai dari diri kita sendiri dulu demi tercapainya pendidikan yang bermutu tinggi dan berdasarkan nilai-nilai agama.

23 05 2008
yuni chandi wiedyaningrum (10:16:57) :

negara kita telah menorehkan sejarah yang sangat berarti bagi kita bangsa indonesia. 10 tahun yang lalu reformasi besar-besaran telah terjadi baik dalam bidang sosial budaya, politik, ekonomi, dan pendidikan. pergolakan terjadi dimana-mana, kerusuhan merajalela, orang saling berperang mengatasnamakan reformasi. apakah sekarang kita sudah merasakan apa yang dinamakan reformasi? apakah sudah banyak perubahan di segala aspek kehidupan kita? menurut saya kita belum berubah dari bidang sosial banyak masyarakat kita yang semakin miskin, banyak terjadi kelaparan, semakin banyak pengangguran. dalam bidang ekonomi harga-harga kebutuhan pokok yang semakin naik , tingkat inflasi yang tinggi. dalam bidang politik banyak terjadi perubahan tetapi masih juga banyak ditemukan kkn dalam pemerintahan kita. birokrasi yang masih berbelit-belit. dalam bidang pendidikan kita termasuk masih banyak ketinggalan walaupun adanya standart kelulusan tetapi ini tidak menjamin tingkat pendidikan kita menjadi lebih baik menurut saya ini semakin membuat siswa dan guru mencari solusi untuk menghalalkan berbagai cara agar siswa lulus dengan nilai sesuai standart yang telah ditetapkan . dengan tingkat ekonomi yang semakin tinggi dan biaya pendidikan yang tinggi, ini juga merupakan faktor yang menyebabkan banyak siswa yang putus sekolah. jadi siapa yang harus disalahkan? menurut saya kita tidak usah mencari siapa kambing hitamnya tetapi marilah kita bersama-sama pemerintah berawal dari diri kita sendiri memperbaiki mental agar kita siap bersaing dan bisa menghadapi segala tantangan yang ada di depan kita. marilah kita dengan jiwa yang bersih bersama-sama memajukan pendidikan mulai dari diri kita, anak-anak kita, anak didik kita di sekolah. majulah pendidikan, majulah indonesiaku

23 05 2008
Nurhuda listiani (13:59:20) :

1). Sudah 63 thn RI merdeka & 10 th genderang Reformasi di tabuh, ttpi gmanya tdk sperti yg di hrpkan.kmdian pd Mei ini kmbli bangsa indonesia menandai 2 peta sjrah HARDIKNAS serta seabad HARDIKNAS.Untuk itu pnlis mengamati, bahwa jgn di biarkan keadaan tsb,kta sbgai anak bngsa harus bertanya pd dti sndri,jka situasi serta kondisi tsb trus terjadi,pastilah ada yg tdk bres di dlm dri masing-msing,shingga perlu kita antisipasi serta cari solusinya.Kondisi bangda indonesia smkin memprihatinkan &dlm byk hal mlah memilukan.Indonesia tlah menjadi negara yg rapyh scra ekonomi,lembek dlm pngakan hukum, lemah secara pertahanan keamanan,rawan sosial,ringkih dlm persatuan bangsa konflik dlm khidpan plitik &dlm khidpan berbangsa
Situasi Nasional yg ckup rawan itu adalah hilangnya “Roh kemanditian”bangsa.kedaulatan multidimensial khususnya kedaulatan ekonomi,tlah trjdi murakh di tngan kekuatan asing.Sulit bg anak-anakbangsa untuk m’bedakan mna yg baik &mna yg bruk,yg hlal yg hram yg legal &yg ilegal, yg legitimate & yg illegitimate.Bangsa indonesia pd umunya m’ngalalami proses degenerasi scra sistematik ,kacamata moral& nurani bangsa dewaa ini agaknya semakin bram.Pasca refermasi,masyarakat m’letakkan harapan yg sngat tinggi pd pemimpin pilihan langsung rakyat,tpi penguasa yg peragu,tdk taktis & belenggu kpntingan asing,hanya menimdulkan konflik,krn tdk mmpu m’bri respon yg membagi hrpan mastarakat.Menurut yg pnulis amati bahwa adanya kotupsi yg pling bendanya/korupsi tingkat tinggi yg patut di waspadai dta adalah korupsi negara / korupsi yg di lakukan negara(pihak asing yg m’megang tengkuk kalangan eksekutif,yudikatif,& legislatif unutk m’milih keinginan pihak ading itu),shga negara di rugikan ribua trilliyun.Bukti kotupsi negara terlihat dri keluarnya PERPRES No.7/2007,yg m’berikan 99%kepem’likan aing d’bbrpa sektor di indonesia ,seperti: lahan pertanian diatas 25 hektar dpt di mlki asing hingga 99 persen,nuklir hingga 95%, dan yg sngat m’mlukan bg penulis yaitu Sunia pendidikan pun hingga 49% mulai dri SD-Perguruan tinggi di miliki pihak asing.dgn dmkian Indonedia perlu pemimpin yg kuat & pemimpin yg transformatif,yaitu pemimpin yg berani,yg paham pancasila untuk m’rangkul smua elemen bandsa,melindungi kekayaan alam untuk anak cucu & bkn untuk orang asing serta memprioritasken perekonomian pg ekonomi kerakyatn.Dunia pendidikan pasca repormasi pun trasa menggeliat.dlam kurun waktu 2 thn indonesia disadarkan 2 pedoman kurikulum pendidikan untuk pemerintah yaitu KBK 2004 &KTSP 2006.sejauh yg pnulis amati dunia pendidikan sudah tdk idealis lgi dlm lembaga pendidikan hrudlah yg sesuai dgn standar (standarisasi & mtu pendidikan) terutama yg tlah di telitikan adalah Epidtema ekonomi.Menurut Prof.Dr.H.A.R.Tilaar,bahwa Era Reformasi tlah m’lahirkan ssuatu dorongan yg luar biasa untuk duduk sama rendah berdiri sama tinggi dgn bangsa yg lain dlm ERA GLOBELISASE.lahirnya suatu keranjingan untuk m’ningkatkan kualitas pendidikan nasional .namun keranjingan akan kualitas ,sayang skli ditafsirkan sbg suatu manifestasi dri khidupan mnusia yg smkin bersifat materialistik.dunia pendidikan nasional.
2). Perilaku anak-anak bangsa spt itu d’sbabkan olen rusaknya nilai-nilai spritualitas nilai”bdya bangsa shingga identitas bangsa sbg kunci kebangkitan nesional tertindih pragmatisme nilai pengagungan kebendaan & perwujudan nilai-nilai pembangun karakter anak”bangsa yg terpegang teguh cair tanpa bentuk di dlm diri anak-anak bangsa tlh mengabaikan nilai hakiki yg tak terukur,seperti nilai kyakinan, ketulusan, keteguhan, keberanian, hingga penghargaan pd sesama. sedangkan korupsi, pengagungan nilai-nilai kebendaan yg serba terukur. anak-anak bangsa ini akan tetap jadi bangsa yg kuat & kokoh, ttpi jka nilai-nilai pembangun karakter itu lemah seperti sekarang, hanya nestapa yg akan menyambut bangsa ini di hari-hari mendatang. Deklerasi, petisi akan menjadi sangat kuat bila ia menjadi ruh dari sebuah tekad yg di tanggungjawabi dlm prilaku secara bersama-sama. Tanpa ada pertanyaan cnilai yg disepakati & diusung bersama,Ruh perilaku tdk akan hidup cukup panjang untuk membuat sebuah perubahan.
3).Menurut hemat penulis,salah atua tidaknya semua itu dpt di pertanggung jawabkan bersama-sama, baik pihak pemerintah berbagai pendidikan(sekolah/madrasah)serta masyarakat setiap lembaga pendidikan(secara umum) perlu memperhatikan unsur-unsur yg terkait dgn pembiayan(pendanaan)dlm pendidikan di dlm kegiatan operasionalnya, yaitu Efektifitas,Efesiensi,persamaan(Equity), Biaya administrasi, akuntabilitas, dan transparansi,dan serta kegiatan operasional, pihak manajemen lembaga pindidikan senantiasa menerapkan prinsip-prinsip akuntabilitas & trasparansi.Dan seluruh program( termasuk anggaran)di harapkan akuntabel.Dan juga lembaga pendidikan diharapkan bersifat transparan & mengoptimalkan adanya partisipasi atau pelibatan unsur publik(bottom-up approagh) melalui komite sekolah atau madrasah,sehingga perlu adanya suatu sistem evaluasi internal & eksternal agar aspek akuntabilitas & transparansi ini benar-benar dpt di capai & di rasakan oleh berbagai pihak yg berkepentingan terhadap proses pendidikan, khususnya orang tua atau wali siswa.Apapun bentuk pormat /model pembiayaan pendidikan yg dikembangkan oleh DEPDIKNAS,seperti:model Dekontralisasi, model desentralisasi, model JPS & kompensasi BBM, serta model Biaya Operasional Manajeman Mutu (BOMM). semua itu akan sia-sia dikembangkan, apabila masih tidak tepat sasaran & tujuan untuk itu di perlukan pula tanggungjawab bersama.
4). Perlu kita kaji ulang sistem pendidikan di inonesia seperti pendidikan diindonesia , seperti Standarisasi Nasional Pendidikan (SNP) yg merupakan salah satu Repormasi dibidang pendidikan masih memiliki kelemahan, dilihat dari perspektif psikologi, karena SNP mengabaikan eksistansi manusia yg unik & beragam/ mengingkari kodrat manusia sbg makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial,yg paling smpurnah dbg ciptaan allah Swt. Maka menurut penulis, standarisasi pendidikan harus & perlu di kaji ulang,sebab ada bahaya laten yg harus diwaspadai standarisasi pendidikan yaitu:(1)pengaruh keputusan politik dan bisnis,(2)standarisasi ditentukan oleh orang luar pendidikan/ birokrasi bukan oleh sekolah itu sendiri,(3)tidak semua evaluasi belajar yg mengikuti stendar & ditentukan deri atas sesuai dgn situasi belajar-mengajar,(4)standarisasi mengandung kontrol lokal & pusat yg berlebihan,(5)standarisasi hanya untuk kepentingan politik sehingga menyingkirkan peserta didik yg tidak beruntung.Perlu penulis rekomondasikan beberapa hal dlm pengkajian ulang,yaitu:(a)standerisasi nasional pendidikan harus dikaji ulang, karna kurang memanusiakan manusia(humanisasi), (b) perlu dilakukan pemetaan mutu pendidikan secara regional & rasional,sehingga suatu waliyah/sekolah/madrasah gpt diketahui kategori A,B,C.D,E dst,sehingga pemda & pusat dpt m’beri bantuan secara propesional,(c) proses penetaan standarisasi hrus dilakukan secara bottom-up,(d)kebijakan standarisasi harus disertai dgn strategi implementasi secara integral.

23 05 2008
Murni Amaliya (14:31:08) :

Bencana yang menimpa bangsa ini seolah tak berkesudahan sejak orang no. 1 dinegeri ini lengser, dengan susah payah mahasiswa dan rakyat Indonesia menurunkan Soeharto, dengan harapan ada seorang pemimpin yang lebih baik dari beliau.
Ksisis moral berkempanjangan karena banyak janji pemerintah yang tidak ditepati antara lain ingin mensejahterakan dan memakmurkan rakyatnya ternyata setelah menjadi dan menduduki jabatan atau anggota dewan yang terhormat, para polotisi yang telah berhasil meraih jabatannya lupa akan janjinya, seharusnya setelah menjadi wakil rakyat berperan sebagai ujung tombak dalam memperjuangkan kepentingan rakyatnya dan juga memenuhi janji-janjinya yang telah di lontarkan pada rakyat saat kampanye terdahulu, rakyat sepertinya frustasi,terjadilah krisis moral di tahun 1998.
Sejak SBY-JK (Susilo Bambang Yudoyono –Jusuf Kala) memimpin negeri ini dari bencana tsunami, banjir, tanah longsor, antrax dan lain sebagainya, belum lagi ditingkat para oknum pejabat yang masih doyan bermain dengan uang haram alias korupsi yang menambah deretan panjang dalam pengingkaran.jutaan rakyat hidup dalam kemiskinana sementara para koruptor meraup uang yang jumlahnya sangat sangat fantastis hingga trilyun rupiah, bilamana untuk menghidupi rakyat miskin berapa juta rakyat miskin yang terselamatkan dari kemiskinannya.
Disaat krisis ekonomi menimpa bangsa ini yang berkepanjangan sampai sekarang impian masyarakat tentang sekolah gratis menjadi harapan yang sangat besar, apalagi di kalangan yang kurang mampu sangat mendambakannya.
Kunci dari mencapai kesuksessan adalah pendidikan, bilamana sarana dan prasaran yang memadai maka akan tercipta generasi penerus yang dapat diandalka dalam memimpin bangsa ini sehingga dapat membentuk karakter pendidik yang berjiwa kuat, tangguh, dan bermoral paling tidak mentalnya, tidak seperti koruptor yang mencengkram, melumat dan menghisap darah rakyat hingga ke sumsum tulang belakang.

23 05 2008
neneng magfiroh (17:26:51) :

mereka ini adalah orang-orang yang tidak mempunyai hati nurani dan kepekaan pada penderitaan rakyat. hati nurani adalah inti dari jiwa. sementara mereka tahu bahwa KKN itu salah seperti yang telah orde baru lakukan dan ketika itu tahun 1998 mereka tuntut untuk mundur. tetapi disaat kekuasaan berada dalam genggaman para elit politik yang mengaku kaum reformis kenyataannya KKN tetap mereka lakukan bahkan lebih parah hingga kelevel pimpinan yang paling bawah tanpa peduli kepada derita dan kesengsaraan rakyat dengan semangat EGP (emang gue pikirin). para penguasa tidak lebih dari para munafik dan orang-orang pandir yang hanya bisa mengulangi kesalahan yang sama bahkan lebih parah dikesempatan dan waktu yang berbeda. mereka adalah pengamal sila ke-13 yaitu AJI MUMPUNG dan ORA EDAN ORA KEDUMAN.
sudah saatnya bangsa ini untuk jauh memandang kedepan dan memberi kesempatan yang luas untuk generasi muda yang relatif bersih dari hubungan dengan masa lalu politik. untuk mengambil tongkat estafet kepemimpinan bangsa dan negara baik di bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif.

23 05 2008
Nurhuda listiani (19:02:31) :

1). Sudah 63 thn RI merdeka & 10 th genderang Reformasi di tabuh, tetapi gemanya tidak seperti yang di harapkan. Pada Mei ini kembali bangsa indonesia menandai 2 peta sejarah HARDIKNAS serta se-abad HARDIKNAS.Untuk itu penulis mengamati, bahwa jangan di biarkan keadaan tsb, kita sebagai anak bangsa harus bertanya pada diri sendiri,jika situasi serta kondisi tsb terus terjadi,pastilah ada yang tidak beres di dalam diri masing-masing, shingga perlu kita antisipasi serta cari solusinya. Kondisi bangsa indonesia semakin memprihatinkan & dalam banyak hal malah memilukan.Indonesia telah menjadi negara yg rapuh secara ekonomi, lembek dalam penegakan hukum, lemah secara pertahanan keamanan, rawan sosial, ringkih dalam persatuan bangsa konflik dalam kehidupan politik & dalam kehidupan berbangsa.
Situasi Nasional yang cukup rawan itu adalah hilangnya “Roh kemandirian”bangsa. Kedaulatan multidimensional khususnya kedaulatan ekonomi, tergadai murah di tangan kekuatan asing. Sulit baig anak-anak bangsa untuk membedakan mana yang baik & mana yang buruk, yang halal & yang haram, yang legal & yang ilegal, yang legitimate & yang illegitimate,yang hak & yang batil, yang terpuji & yang tekutuk, yang membangun & yang menghancurkan. Bangsa Indonesia pada umunya mengalami proses degenerasi secara sistematik, “Kacamata moral & nurani bangsa dewasa ini agaknya semakin buram”.Pasca reformasi, masyarakat meletakkan harapan yang sangat tinggi pada pemimpin pilihan langsung rakyat, tetapi penguasa yang peragu, tidak taktis & terbelenggu kepentingan asing, hanya menimbulkan konflik, karena tidak mampu memberi respon yang mengimbangi harapan masyarakat. Menurut yang penulis amati bahwa adanya korupsi yang paling berbahaya / korupsi tingkat tinggi yang patut di waspadai adalah korupsi negara / korupsi yang di lakukan negara (pihak asing yang memegang tengkuk kalangan eksekutif, yudikatif & legislatif untuk memenuhi keinginan pihak asing itu), sehingga negara di rugikan ribuan trilliyun.Bukti korupsi negara terlihat dari keluarnya PERPRES No.7/2007, yang memberikan 99% kepemelikan asing dibeberapa sektor di indonesia , seperti: lahan pertanian diatas 25 hektar dapat di miliki asing hingga 99 %, nuklir hingga 95%, dan yang sangat memilukan bagi penulis yaitu dunia pendidikan pun hingga 49% mulai dari SD-Perguruan tinggi di miliki pihak asing. Dengan demkian Indonesia perlu pemimpin yang kuat & pemimpin yang transformatif, yaitu pemimpin yang berani ,yang paham pancasila untuk merangkul semua elemen bangsa, melindungi kekayaan alam untuk anak cucu & bukan untuk orang asing serta memprioritaskan perekonomian pada ekonomi kerakyatan.Dunia pendidikan pasca repormasi pun terasa menggelia, dalam kurun waktu 2 th Indonesia disodorkan 2 pedoman kurikulum pendidikan untuk pemerintah yaitu KBK 2004 & KTSP 2006.Sejauh yang penulis amati dunia pendidikan sudah tidak idealis lagi & telah berubah disebabkan kompetensi-kompotensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah yang sesuai dengan standar (standarisasi & mutu pendidikan) terutama yang telah di tentukan oleh Epistema ekonomi. Menurut Prof.Dr.H.A.R.Tilaar, “bahwa Era Reformasi telah melahirkan sesuatu dorongan yang luar biasa untuk duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain dalam Era Globalisasi. Lahirnya suatu keranjingan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional,namun keranjingan akan kualitas,sayang sekali ditafsirkan sbg suatu manifestasi dari kehidupan manusia yg semakin bersifat materialistik didunia pendidikan nasional”.
2). Perilaku anak-anak bangsa seperti itu disebabkan oleh rusaknya nilai-nilai spiritualitas dan nilai-nilai budaya bangsa shingga identitas bangsa sebagai kunci kebangkitan nasional tertindih pragmatisme nilai pengaggungan kebendaan & perwujudan nilai-nilai pembangun karakter anak-anak bangsa yang terpegang teguh cair tanpa bentuk di dalam diri. Anak-anak bangsa telah mengabaikan nilai hakiki yang tak terukur, seperti nilai keyakinan, ketulusan, keteguhan, keberanian, hingga penghargaan pada sesama. Sedangkan korupsi penjarahan alam, penyalahgunaan kekuasaan adalah prodak pengagungan nilai-nilai kebendaan yang serba terukur. Anak-anak bangsa ini akan tetap jadi bangsa yang kuat & kokoh, tetapi jika nilai-nilai pembangun karakter itu lemah seperti sekarang, hanya nestapa yang akan menyambut bangsa ini di hari-hari mendatang. Deklerasi, petisi akan menjadi sangat kuat bila ia menjadi Ruh dari sebuah tekad yang di tanggung jawabi dalam prilaku secara bersama-sama. Tanpa ada pernyataan nilai yang disepakati & diusung bersama, ruh perilaku tidak akan hidup cukup panjang untuk membuat sebuah perubahan.
3).Menurut hemat penulis, salah / tidaknya semua itu dapat di pertanggung jawabkan bersama-sama, baik pihak pemerintah, lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) serta masyarakat, setiap lembaga pendidikan (secara umum) perlu memperhatikan unsur-unsur yang terkait dengan pembiayaan (pendanaan) dalam pendidikan di dalam kegiatan operasionalnya, yaitu Efektifitas, Efiesiensi, persamaan (Equity), Biaya administrasi, akuntabilitas dan transparansi dan serta sensitifitas pada kondisi lokal. Sesuai dengan konsep “good governance”, dalam kegiatan operasiaonal, pihak manajemen lembaga pendidikan senantiasa menerapkan prinsip-prinsip akuntabilitas & transparansi. Dan seluruh program( termasuk anggaran)di harapkan akuntabel. Dan juga lembaga pendidikan diharapkan bersifat transparan & mengoptimalkan adanya partisipasi atau pelibatan unsur publik (bottom-up approach) melalui komite sekolah atau madrasah, sehingga perlu adanya suatu sistem evaluasi internal & eksternal agar aspek akuntabilitas & transparansi ini benar-benar dapat di capai & di rasakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap proses pendidikan, khususnya orang tua atau wali siswa. Apapun bentuk format /model pembiayaan pendidikan yang dikembangkan oleh DEPDIKNAS, seperti:model Dekonsentralisasi, model desentralisasi, model JPS & kompensasi BBM, serta model Biaya Operasional Manajeman Mutu (BOMM). semua itu akan sia-sia dikembangkan, apabila masih tidak tepat sasaran & tujuan untuk itu di perlukan pula tanggung jawab bersama.
4). Perlu kita kaji ulang sistem pendidikan di indonesia, seperti Standarisasi Nasional Pendidikan (SNP) yang merupakan salah satu Reformasi dibidang pendidikan masih memiliki kelemahan, dilihat dari perspektif psikologi, karena SNP mengabaikan eksistensi manusia yang unik & beragam/ mengingkari kodrat manusia sebagai makhluk pribadi sekaligus makhluk social yang paling sempurna sebagai ciptaan Allah Swt. Maka menurut penulis, standarisasi pendidikan harus & perlu di kaji ulang, sebab ada bahaya laten yang harus diwaspadai dalam standarisasi pendidikan yaitu:(1)pengaruh keputusan politik dan bisnis,(2)standarisasi ditentukan oleh orang luar pendidikan/ birokrasi bukan oleh sekolah itu sendiri,(3)tidak semua evaluasi belajar yang mengikuti standar & ditentukan dari atas sesuai dengan situasi belajar-mengajar,(4)standarisasi mengandung kontrol lokal & pusat yang berlebihan,(5)standarisasi hanya untuk kepentingan politik sehingga menyingkirkan peserta didik yang tidak beruntung. Perlu penulis rekomondasikan beberapa hal dalam pengkajian ulang, yaitu:(a)standarisasi nasional pendidikan harus dikaji ulang, karna kurang memanusiakan manusia(humanisasi), (b) perlu dilakukan pemetaan mutu pendidikan secara regional & nasional, sehingga suatu wilayah/sekolah/madrasah dapat diketahui kategori A,B,C.D,E dst, sehingga PEMDA & pusat dapat memberi bantuan secara proporsional,(c) proses penetapan standarisasi harus dilakukan secara bottom-up,(d)kebijakan standarisasi harus disertai dengan strategi implementasi secara integral.

31 05 2008
Bhetta Noorfajrie Fidyan (10:32:54) :

Tak terasa sudah 10 tahun masa reformasi. Tapi yang kita alami dalam kehidupan sehari2 ada sedikit kemajuan, tetapi ada juga kemunduran. Fenomena2 yang terjadi dalam kehidupan bangsa kita yang selalu diekspose oleh media cetak dan elektronik yang notabene sudah terbebas dari belenggu orde baru, seakan membuka borok dan aib yang selama ini ada di bangsa kita. Bisa kita lihat betapa bobrok nya mental anak-anak bangsa yang sudah terhanyut oleh arus globalisasi dan westernisasi. Dimana budaya barat yang notabene menganut paham liberalis dan kapitalis dengan begitu mudah nya diadopsi oleh masyarakat kita, mulai dari anak kecil,remaja,dewasa,bahkan yang sudah tua renta pun ikut terjerumus. Media infotainment yang sudah menjadi langganan tontonan sebagian besar masyarakat kita secara gamblang menjadi alat yang mempertontonkan aib rumah tangga dan privacy orang lain. Yang menjadi pertanyaan mengapa hal ini terjadi?Bagaimana bisa bangsa besar yang sarat dengan nilai-nilai luhur adat ketimuran yang menjunjung tinggi sopan santun dan keramahtamahan yang selalu diagung2kan dan dikagumi oleh bangsa lain, bisa begitu bobrok mental dan moralnya. Dimanakan serpihan jiwa yang hilang? apakah raga ini sudah ditinggalkan oleh ‘jiwa’ sebagaimana yang penulis sampaikan? Mari kita berkaca pada diri kita sendiri. Ada satu hal yang kita lupakan. Ya, betul. AGAMA!!! Selama ini kita sudah tidak mengindahkan nilai2 agama, Seolah2 agama adalah hal yang tabu.Apakah kita sudah melakukan apa yang diajarkan oleh agama kita masing2? Atau apakah kita sudah mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan kita sehari2? Jangan kita menyalahkan orang lain atas keadaan ini kalau kita sendiri ternyata belum melakukan yang terbaik dalam hidup. Jangan hanya sekedar ngomongin kejelekan orang kalau ternyata kita belum menjadi yang terbaik sebagai manusia. Jadi Permasalahan yang kita alami saat ini punya satu solusi dalam diri kita. Jika kita ingin bangsa ini berubah maka mulailah dari merubah diri kita sendiri. Karena jawaban atas permasalahan kita sudah ada dalam diri kita masing2. Kalau kita ingin MENANG dalam suatu Peperangan, Berperanglah dengan MUSUH TERBESAR dalah Hidupmu, Yaitu DIRIMU.

6 06 2008
Alfie D. Kurniawan (14:51:28) :

SAYA HANYA BERBICARA HANYA SEPUTAR TTG PENDIDIKAN, MESKIPUN BANYAK HAL2 YG TURUT DIPERSALAHKAN KARENA TELAH MENCIPTAKAN KOMUNITAS-BUDAYA PERADABAN MANUSIA YG TAK BERJIWA DI BUMI PERTIWI INI.

AKHLAK, MORAL, selama ini telah dikesampingkan oleh kurikulum pendidikan. Hanya 2 jam/minggu kurikulum memberikan waktu utk Pelajaran Agama, dan dlm durasi tersebut hanya sedikit sekali Pelajaran Agama mengajarkan ttg akhlak. PPKN(PMP) atau “Akhlak Pancasila” juga tidak dapat diandalkan.Selain PPKN menjemukan(menjemukan bagi sang pelajar dan menjemukan bagi sang pengajar), PPKN terasa “basi”, dan hanya masuk sampai dihapalan dalam kepala saja. PPKN tidak sempat hinggap di hati karena PPKN adlh sejenis pelajaran moral dgn metode matematis. Meskipun pada dasarnya hal2 baik yg diajarkan dlm pelajaran tsb(terutama pelajaran ttg toleransi), namun 2 jam/minggu adlh waktu terminim bagi kurikulum pendidikan.
Pelajaran seni telah dianggap “pelajaran iseng2″ bagi para praktisi kurikulum. mereka kurang sungguh2 menghargai seni, dianggap hanya pelajaran tambahan utk mengisi waktu kosong, jk memang ada waktu kosong tentunya. Amerika Serikat dan negara2 maju sendiri telah lama mempercayai pelajaran seni sebagai pelajaran akhlak atau moral. Sastra Shakespeares(jk saya tdk salah mengeja) hukumnya wajib. tidak ada pelajar sekolah di negara2 barat yg tidak pernah belajar ttg sastra tsb.(Dgn maksud kita tak harus ikut bljr ttg Shakespeare, tp kita jadikan seni - khususnya sastra - kedalam mata kuliah wajib dgn bahan materi pelajaran sastra/puisi Taufik Ismail yg bnyk berbicara ttg moral, misalnya). Sedangkan utk pelajaran yg tidak berbicara ttg moral sangat diutamakan, malah terlalu diutamakan. kurikulum matematika yg diajarkan di Indonesia utk tingkat SMA ternyata lebih tinggi drpd yg di Amerika Serikat utk tingkat yg serupa. Kita terlalu berlebihan dlm memberikan fokus thd pendidikan2 non moral dlm kurikulum pendidikan, khususnya eksak.
KURIKULUM PENDIDIKAN punya pengaruh yg sangat besar dlm pembentukan kepribadian manusia2. Kurikulum pendidikan menciptakan software-software karakter, yg akan mempengaruhi watak2 (baca:output karakter) manusia2 yg akan mewarnai generasinya. Reformasi pendidikan benar2 suatu hal yg AMAT URGENT, yg harus di renungkan ulang, dan di UPDATE paling lama 2 thn sekali. Berbicara ttg pendidikan adlah berbicara ttg perencanaan jangka panjang dan hasil jangka panjang. Jika terjadi salah arah, perlu waktu panjang utk menyadarinya, dan tentu perlu waktu ekstra panjang pula utk memperbaikinya. REFORMASI Pendidikan adlh hal yg UTAMA, terutama dlm membentuk Manusia Yg Berjiwa, karena lahirnya MANUSIA TANPA JIWA karena kita telah mengesampingkan AKHLAK/MORAL dan menomorsatukan ILMU&TEKNOLOGI. ILMU dan TEKNOLOGI, betapapun penting, hanyalah TOOLS. MORAL adlh HANDS, yg menentukan Ilmu & Teknologi yg telah kita raih sedemikian pesat ini menjadi BERMANFAAT atau BERMUDHARAT!!
Saya teringat pesan guru SMA saya, “Alfie, negara hancur bukan karena orang bodoh, tetapi karena org pintar yg tak berakhlak!! Utk mampu menjadi seorang koruptor ulung, org harus pintar. Org bodoh tidak dpt melakukannya. Ilmu, sepenting apapun, hanyalah alat semata. Akhlak adlh yg utama, yg menjadikan ilmu itu bermanfaat atau bermudharat. Jadi, jangan mencontek utk dapat nilai bagus. itu namanya kamu mencoreng akhlak demi sesuatu yg hanya alat!!!” Demikian dr saya!! Terima kasih telah membacanya.

22 06 2008
khadirin (14:34:32) :

PUISI UNTUK UMAR BIN AL-KHATHTBAB R.A

Engkau muncul di padang sahara,
gurun yang tandus itu tanpak bagai padang rumput yang hijau.
Engakau datang kedunia membawa fajar yang bercahaya.
Pulau kecil kami ada di bola matamu.
Butir-butir pasir ini menebarkan harum aroma kasturi dan ambar.
Engakau pancarkan cahaya orang-orang badui yang tekanjang kaki.
Meraka menyambutmu dengan suka cita seraya mengumandangakan nama Allah.

Engkau sandungkan syair kepada anak-anak mereka.
meraka menyambutnya dengan gembira seraya memuji kebesaran Allah
Engkau tepati janjimu pada kami, wahai pemimpin kami.
Seluruh hati kami adalah mimbarmu.
Engkau tempat kami di pelataran cinta,
setelah lama kami tak mengenal kata cinta.

Engkau taburi dunia dengan cinta semanis kurma.
Engkau sebarkan di bumi kasih nan wangi sewangi kasturi.
Bersama agama yang benar hidup kami terasa nyaman.
Bersama wahyu kami bahagia dan bersama ayat kami bersuka cita.
Kami tulis dengan perjanjian dengan pena kesetiaan.
Dan namamu ada dalam daftar orang-orang yang tercantum di sana.

Meski Titto dianggap sebagi pahlawan, tapi ia kafir.
Walau Nehru cerdas, tapi ia membelakangi wahyu.
Bagi kami, Napoleon pantas mendapat kutukan dan hinaan.
Lenin dan Hittler adalah dua lambang kesesatan.
Sedang engkau seorang muslim yang hanif dan berajalan di jalan yang lurus.
Salat enkau tegakkan, Alquran engkau tafsirkan.
Orang-orang kafir itu terhina akibat kezaliman, kekejaman dan kekerasan.

Sedangkan engkau dimuliakan karena pertolongan Allah.
Engkau bukan pengikut sekte yang menentangTuhan.
Bukan pula penganut paham yang mengingkari risalah.
Tetapi denganmu tauhid menghunuskan pedangnya.
Denganmu kebenaran memancarkan cahayanya.
Engkau mendapatkan kekuasaan bukan lewat pemilihan umum.
Bukan lewat voting suara atau partai pengumbar janji.
melainkan dengan padang kebenaran yang meyakinkan.
bersama alquran yang menyingkap kegelapan dan kesamaran.

Aku memohon kepada-MU ya Allah.
Aku datang bukan sebagi pemuja harta,
atau kesenangan-kesenangan duniwai yang tak bermakna.
Aku datang membawakan kidung syair kejujuran,
yang mampu menghancurkan batu-batu besar.
Aku tidak berharap sedikit pun pujian dan balasan.
ketulusanku lebih tinggi dari sekedar pujian.
biarlah Allah yang membalas.
Aku hanya takut tuhan bertanya, “Mengapa kalian sembunyikan keutamaan ‘Umar?”

Dan takut ditanya Munkar dan Nakir,
Bila orang bodoh itu memuja berhala meraka,
Dengan membangga-banggakan Raja Persia atau Paja Roma.
Kami punya dali terbesar, Rosul sang pembawa petunjuk.
Karena beliau hidup terasa manis dan seluruh mahluk merasa bangga.

Bila Muhammad bukan lambang kebangaan bangsa arab,
gelar-gelar keakraban tidak akan kubanggakan.
Jika sumber air minumku bukan dari Zamzam wahyu,
aku akan tetap dahaga meski di bumi banyak sungai yang mengalir.
Jika aku katakan fajar adalah malam,
aku pasti di tentang oleh jutaan manusia yang menyaksikanya.
Aku seperti melihat kasturi menghujani kami,
Sehingga dunia kami begitu mewangi,
Syairku berisikan pujian atas kebenaran
Sedangkan syair orang lain hanya berisi arak dan perjudian.
Dr.Aidh al-Qarni

23 06 2008
zamris (00:16:23) :

Terimakasih atas kiriman puisinya yang sangat menyentuh kalbu bagi yang membacanya. selanjutnya saya berharap mari kita bertukar pikiran melalui forum ini, terus terang saya banyak belajar dari Anda dan teman2, karena setiap manusia dikurniai Tuhan kelebihan yang berbeda2.
Komentar2 yg lain saya tunggu
zh

23 06 2008
zamris (00:18:23) :

Terimakasih atas kiriman puisinya yang sangat menyentuh kalbu bagi yang membacanya. selanjutnya saya berharap mari kita bertukar pikiran melalui forum ini, terus terang saya banyak belajar dari Anda dan teman2, karena setiap manusia dikurniai Tuhan kelebihan yang berbeda2.
Komentar2 yg lain saya tunggu
zh

Tinggalkan komentar

Anda dapat gunakan tag ini : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>