Semangat ber “qurban” di tengah masa krisis
13 05 2008
Dengan semangat “Qurban” di tengah masa krisis kita menghadapi Milenium ke tiga
Kata “qurban” berasal satu akar dengan kata “qarib” dan “taqarrub”, (ingat sahabat karib, artinya teman dekat). Semua kata tersebut berati dekat. Maka memahami kata “qurban” bermakna mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang ber”qurban” sama dengan berkorban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pemotongan seekor domba atau kambing misalnya, adalah suatu bentuk pengorbanan formal, sebagai pengganti pengorbanan Nabi Ismail AS, oleh ayahnya Nabi Ibrahim AS. yang sudah sering kita dengar ceritanya. Tentu saja pada tulisan ini tidak akan mengulang kisah tersebut. Tetapi kita dapat mengambil i’tibar dan pelajaran dari sejarah pengorbanan tersebut baik pengorbanan Nabi Ibrahim atau bagi Nabi Ismail dan Ibunya Siti Hajar. Sebagai manusia biasa, kita susah membayangkan, seorang lelaki yang telah renta, Ibrahim, yang belum mendapatkan anak, menginginkan si buah hati sibiran tulang, sebagai pelanjut generasi mendatang.
Berbagai usaha dan doa telah dicoba, namun setelah umur tua, di kala usia senja, doa itu baru dikabulkan, si buah hati pun lahir. Hati siapa yang tidak gembira, menerima rahmat yang tiada tara, yang telah diidam-idamkan selama ini telah datang. Sujud syukurpun dilaksanakan. Ismail lahir sebagai obat hati penenang jiwa bagi pasangan Ibrahim dan Siti Hajar.
Di kala bersuka ria, Ismail kecil sudah mulai membesar. Tiba-tiba perintah datang, ibarat petir menyambar di tengah hari. Ismail harus disembelih, dengan hati yang tegar Ibrahim bermaksud akan melaksanakan, tetapi syetanpun datang menggoda, baik kepada Ibrahim, atau merayu Siti Hajar sang ibu, dan yang tak kalah gesitnya syetanpun memperdayai Ismail itu sendiri. Di sinilah batu ujian itu datang, siapa yang kuat iman dan takwanya, dia tidak akan bisa tergoda oleh bujuk rayu siapapun, bagaimanapun bentuk syetannya, yang kadang kala dalam kehidupan kita sehari-hari syetan itupun bisa berbentuk manusia juga.
Pada tahun-tahun terakhir ini bangsa kita sedang menghadapi masalah-masalah kebutuhan pokok sehari-hari, orang mengistilahkan dengan krisis ekonomi bukan saja Indonesia yang dilanda krisis tetapi bangsa-bangsa Asia Tenggara atau Asia Timur. Asia Tenggara yang moyoritas berpenduduk muslim ini ibarat menghadapi penyakit, dikala kita baru memasuki milenium ketiga, abad ke 21 yang lebih dikenal era globalisasi. Tetapi dalam kondisi sekarang ini kita sangat sulit mendeteksi perubahan-perubahan yang terjadi secara sangat cepat di seantero jagat bumi ini. Seakan-akan dunia sedang melewati suatu kondisi yang tak memiliki keseimbangan. Ataupun dapat dikatakan dunia sedang menghadapi rasa sakit yang belum diketahui obatnya, bagaimanapun tak seorangpun yang tahu cara penyembuhannya ataupun memperdiksi kemungkinan yang akan terjadi. Apalagi memastikan ciri-ciri tatanan global yang akan lahir dalam kondisi sakit seperti sekarang. Ataukah kita akan memilih pasrah saja menunggu proses dan menerima takdir. Ataukah takdir itu sendiri kita ciptakan dengan kaedah-kaedah hukum alam atau Sunnatullah. Disinilah tingkat kataqwaan kita mulai dipertanyakan, ketauhidan kita mulai diuji.
“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah , sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Surat Al Hasyar, 59 ayat 1
Apa-apa yang kita kerjakan hari ini adalah dalam rangka mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok yang akan datang, hari esok bisa diartikan esok hari, bulan depan, tahun yang akan datang, abad di muka, tetapi juga bisa diartikan hari akhirat. Persiapan apakah yang bisa kita perbuat dikala bangsa sedang sakit, dipihak lain kita menghadapi dampak globalisasi dalam milenium ketiga di abad 21 ini. Merenung arti kehidupan, mempersiapkan generasi yang tangguh adalah suatu hal yang tidak bisa kita elakan, ibarat air bah, informasi dalam abad globalisasi itu akan menerjang sendi-sendi kehidupan kita. Sekarang saja jadwal kehidupan kita sehari-hari telah mulai diatur oleh program TV. Kegiatan bisnis, lalu lintas bahkan kegiatan belajar di sekolah terhenti selama dua jam hanya gara-gara menonton pertandingan tinju juara dunia, misalnya.
Hal ini perlu dikemukakan dalam usaha kita untuk memahami hakikat perubahan yang kini sedang kita alami. Negeri kita Indonesia berada dalam kondisi perubahan yang amat khusus. Yaitu : pertama, dalam kaitan dengan perubahan mondial, menurut Nurcholois Majid negeri kita sedang berubah dari masyarakat agraris ke masyarakat teknis/industri, dan sekaligus memasuki era informasi; kedua, perubahan itu secara sengaja dipacu dan didorong untuk dapat terjadi secara besar-besaran (inilah kenyataan asasi “ideologi” pembangunan kita sekarang ini). Di sini mungkin sedikit saja ruang yang tersisa bagi kita di masa lalu untuk memperdebatkan apakah ideologi pembangunan itu absah atau tidak. Sebab pertama hal tersebut sudah berjalan lebih seperempat abad, dan kedua, mustahil bagi kita mengingkari hasil pembangunan itu sendiri sekarang ini, kendatipun beberapa tahun terakhir ini kita dikagetkan dengan krisis ekonomi dan politik serta kepercayaan di samping bencana alam seperti banjir akibat kerusakan lingkungan.
Oleh karena itu kenyataan perubahan itu adalah suatu yang sudah “given”, harus diterima suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, gelombang perubahan itu akan tetap datang yang kadang kala susah diprediksi/diramalkan, dan yang penting adalah bagaimana strategi menghadapinya.
Ada dua hal penting yang tidak bisa kita elakan sekarang ini, pertama, adalah menghadapi krisis ekonomi yang berdampak luas keseluruh tingkat kehidupan masyarakat. Kebutuhan bahan pokok sehari-hari yang sulit didapat karena harga yang tinggi, pengangguran karena meningkatnya PHK. Kedua, dalam situasi yang sesulit inipun kita harus menghadapi abad 21 dimana batas antar negara sudah menipis, persaingan semakin ketat. Keduanya merupakan suatu cobaan yang besar dari Allah. Ingat kata “cobaan” adalah ujian dalam meningkatkan taraf keimanan kita, manusia yang tak pernah diuji tidak akan pernah naik tingkat, seorang pelajar yang tak mau ikut ujian tak akan pernah naik kelas. Demikian juga kaum atau bangsa yang tak pernah mengalami ujian tidak akan pernah mengalami kemajuan. Oleh sebab itu dalam menghadapi ujian atau cobaan ini prinsip-prinsip ketauhidan kita harus dibenahi dan bersihkan dari sifat-sifat yang yang memper”tuhan”kan sesuatu selain Allah. Zaman materialisme sekarang ini masih banyak dari kita yang mempertuhankan “sesuatu” selain Allah. Kita masih mempertuhan kemewahan, pangkat, harta, jabatan, atasan dsb. Padahal minimal 17 kali dalam sehari semalam kita membaca “iyya ka na’budu’ (hanya kepada Engkau kami menyembah), ingat kata “hanya”. Kata hanya menjelaskan tidak ada yang lain selain Allah yang kita sembah. Walaupun kita komat-kamit membaca doa sepanjang hari, tetapi selama kesucian, ke“pure”an dari keyakinan kita kepada Allah masih bercabang dalam menghadapi hidup sehari-hari, maka keimanan kita masih dipertanyakan.Sepertinya sebahagian kita beragama hanya di mesjid, atau waktu nikah, waktu meninggal, atau hanya di kala melaksanakan shalat. Selama ketauhidan kita belum suci / murni selama itu pula doa kita tidak akan didengar. Apakah dengan kondisi demikian doa kita akan didengar oleh Tuhan ? Pertanyaan yang agak kurang enak didengar Kenapa penulis tekankan masalah katauhidan, karena hal ini sesuatu yang sangat mendasar dan penting dalam permasalahan yang dihadapi sekarang. Kalau kita kembali kepada ujian yang diterima oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar. Ketegaran mereka dalam menerima perintah dan menghadapi ujian tersebut adalah karena iman sebagai landasan tauhid mereka sangat kuat. Oleh sebab itu iman terhadap Allah yang bisa menjadikan manusia tegar dan tangguh harus dipelihara, any time, any where, fi ayyi waktin wa fi ayyi makanin, keyakinan kepada Allah merupakan sumber inspirasi dan landasan sikap serta tindak tanduk kita. Adalah sangat tepat sekali bahwa tujuan pendidikan kita adalah membentuk manusia yang beriman dan bertakwa. Kita wajib bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada para pemimpin kita yang telah merumuskan tujuan pendidikan tersebut.
Sekarang tiba saatnya kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Apakah iman sudah merupakan sumber inspirasi, motivasi serta landasan moral untuk bersikap dan bertindak. Apakah iman kita bawa ke pasar waktu kita berdagang, apakah iman selalu beserta kita sewaktu kita berbisnis, sewaktu bekerja di kantor, atau hanya iman itu hanya pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha saja. Atau hanya selama bulan puasa, atau hanya waktu nikah dan sewaktu melayat orang meninggal. Nauzubillahi min zalik.
Namun apabila ketauhidan kita betul-betul suci dan murni, segala bentuk apapun cobaan dan ujian yang diberikan oleh Tuhan senantiasa akan kita lalui dengan sabar dan tegar. Ingat setelah ayat “iyya ka nakbudu” ayat tersebut diiringi oleh “iyyaka nastaiin” hanya kepada Engkau kami minta tolong. Dalam situasi sesulit apapun kita tak pelu minta tolong kepada dukun, kepada paranormal yang menjadi trend masyarakat kota sekarang, kepada gunung, kepada kuburan, kepada pohon, kepada batu permata, kepada angka-angka. Sebab di belakang itu semua bersembunyi syetan-syetan yang selalu ingin menggoda dan memperdaya manusia agar berpaling dari Tuhan, mereka, syetan-syetan yang berbentuk sesembahan manusia itu selalu memberikan janji-janji semu, pada hal semua itu adalah tipuan belaka. Oleh sebab itu pada saatnya sekarang ini, kita ummat Islam Indonesia berdoa, minta pertolongan hanya kepada Allah dalam menghadapi krisis yang kita hadapi, sebab Allah yang menurunkan cobaan tersebut dan tentu kepada Allah jua kita minta dicabut musibah tersebut. Ingat Allah berfirman dalam surat Alam Nasyrah (94), ayat 5 - 8, sebagai berikut :
“fainamaal usyri yusra, inna maal usyri yusra, fa iaza faraghta fanshab, wa ila rabbika farghab”
Artinya : Maka sesungguhnya dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan, sesungguhnya dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan, maka apabila kamu telah selesai suatu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmu hendaknya kamu berharap.
Kalimat yang menyatakan bahwa dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan yang diulang dua kali, pengulangan dua kali dalam Al Quran tersebut tentu mempunyai maksud tertentu, Tuhan tidak akan mengulangi suatu kalimat tanpa punya maksud yang berbeda. Dalam hal ini para ahli tafsir mengatakan bahwa bahwa “al usyri” (kesulitan) pertama dengan “al usyri” yang kedua adalah kesulitan yang sama, sedangkan “yusra” (kemudahan) yang pertama dengan “yusra” yang kedua adalah berbeda. Artinya setiap kita mendapat satu kesulitan maka ada minimal dua kemudahan yang akan kita peroleh dibalik satu kesulitan tersebut. Semoga dibalik musibah krisis moneter yang kita hadapi ini kita akan mendapat hikmah yang luar biasa yang tidak kita duga sebelumnya, sebab Allah bisa berbuat sekehendaknya.
Bersikap sabar dalam menghadapi musibah adalah suatu pengorbanan, sedangkan pengorbanan itu sendiri merupakan manifestasi kedekatan kita kepada Allah. Faiza faraghta fanshab, marilah kita susun rencana dan strategi sementara menghadapi krisis ini, jangan lupakan menyiapkan sumber-sumber daya manusia dalam menghadpi masa depan. Pendidikan adalah suatu langkah yang sangat strategis, sebab di abad informasi manusia tidak diukur lagi seberapa kekuatan ototnya dalam mengolah sawah, ladang dan alat-alat berat, tetapi terletak kepada kemampuan otak, ilmu pengetahuan dan teknologi. Sangat tepat ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, adalah Iqra’, “bacalah”. Membaca adalah suatu langkah untuk membuka informasi, tanpa membaca kita akan ketinggalan informasi. “Ayat-ayat” Tuhan selain dalam Al Quran tersebar di jagat raya ini, ayat-ayat tersebut merupakan sumber informasi yang harus di”baca”, diteliti dan dipelajari. Di zaman melenium ketiga ini informasi adalah sangat penting, informasi akan merupakan komoditi, dan informasi akan menjadi power. Siapa yang memiliki informasi maka ia akan memiliki power (kekuasaan). Apakah ummat Islam dewasa ini sudah menguasai informasi, atau malah kita yang dikendalikan oleh informasi yang sengaja dimanipulasi untuk kepentingan mereka, musuh Tuhan ?. Adalah ironis sekali apabila dewasa ini ummat Islam kurang memperhatikan pendidikan, kurang mau membaca, dan kurang berusaha menguasai informasi, pada hal ayat Al Quran banyak sekali menganjurkan untuk itu.
Akhirnya dengan semangat pengorbanan sebagai cerminan kedekatan (ke”qorib”an) kita kepada Allah SWT, marilah kita membuat langkah-langkah strategis dengan dilandasi iman dan taqwa serta diiringi dengan doa yang tulus.(zh)
Ciputat, Februari 2002
Tulisan ini adalah Khotbah penulis pada Shalat Id Adha di halaman Pustekkom.
Komentar Terakhir