Menciptakan Guru Inovatif Penggunaan TIK dalam pendidikan harus sederhana dan tepat pada akar masalah yang muncul.
6 08 2008Waktu sudah menunjukan pukul 23.00 WIB. Namun, kegiatan di Wisma Joglo, Yogyakarta belum juga usai. Di sebuah ruangan tampak beberapa orang sedang sibuk berinteraksi. Di bagian depan ruangan, berlatar belakang sebuah layar putih besar, tampak seorang perempuan sedang menyiapkan bahan presentasinya.
Sementara di bagian tengah, terlihat tiga orang sedang menunggu sambil duduk dan sesekali saling berbicara. Sedikit jauh di belakang, beberapa orang menanti tak sabar dimulainya presentasi. Tak lama kemudian, Dinda Nauli Nasution, guru SD dari Binakheir School, Depok, Jawa Barat, memulai presentasinya. Ia memaparkan mengenai penggunaan kata kepemilikan dalam mata pelajaran bahasa Inggris.
Selama sepuluh menit ia menjelaskan kepada audiens materi ajar yang telah disiapkan. Materi yang disampaikan sangat sederhana, yaitu penjelasan mengenai bagaimana menggunakan kata kepemilikan dalam tata bahasa Inggris. Kesederhanaan ini cukup beralasan, karena presentasi materi tersebut ditujukan bagi siswa SD kelas 1.
Itu adalah sekilas gambaran kondisi penjurian Innovative Teachers Competition tingkat nasional yang diselenggarakan Microsoft Indonesia akhir pekan lalu di Yogyakarta. Manajer Program Akademik Microsoft Indonesia, Ananta Gondomono menjelaskan, Innovative Teachers Competition merupakan program yang bertujuan untuk membuka wawasan dan memberdayakan para guru guna memberikan makna lebih dalam proses belajar mengajar. ”Singkatnya, perlombaan ini untuk mengembangkan kompetensi profesional guru dengan basis teknologi informasi dan teknologi (TIK),” kata Ananta.
Melalui program ini, katanya, diharapkan dapat menciptakan guru yang kreatif dan inovatif dalam memberikan pendidikan. Dalam kompetisi yang telah berlangsung sejak 2004 ini, para guru diminta untuk melakukan sebuah penelitian tindakan kelas (class action research). Tidak sekadar penelitian biasa, namun sebuah penelitian yang menggunakan TIK sebagai media. Dengan begitu, setidaknya dapat memperkenalkan TIK kepada siswa. Serta apa fungsi teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Konsultan Program CSR Pendidikan Microsoft Indonesia, Achmad Ridwan mengatakan, ada lima kecakapan yang menjadi tuntutan dunia saat ini. Yaitu kecakapan komunikasi, kejujuran dan integritas, kerja tim, interpersonal, dan etika kerja yang kuat. Meskipun begitu, ia tetap mengharuskan penguasaan TIK. Karena saat ini, TIK sudah menjadi kebutuhan pokok. ”Jadi, untuk mendapatkan lima kompetensi tersebut, TIK menjadi dasarnya,” katanya.
Begitu pun dengan penelitian tindakan kelas. Di negara maju, kegiatan ini menjadi suatu kewajiban bagi setiap guru. Karenanya tidak heran jika selalu ada metode dan cara baru yang digunakan dalam proses belajar mengajar. ”Di Indonesia, belum banyak guru yang menjalankan fungsi ini. Karena itu, melalui program ini kami harapkan penelitian tindakan kelas dapat menjadi sebuah kebiasaan atau bahkan budaya,” ujar Ridwan.
Dengan menggabungkan kedua kegiatan tersebut, Ridwan berharap dapat meningkatkan proses pendidikan di Indonesia. Yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Untuk 2008, terdapat sekitar 300 peserta dari seluruh Indonesia yang mendaftar kompetisi ini. Dari jumlah itu, kemudian disaring menjadi hingga 30 peserta. Seluruh peserta yang masuk ke tahap ini menjalani serangkaian pelatihan selama dua hari untuk menyempurkanan materi yang telah dibuatnya. Selanjutnya, mereka diminta untuk membuat sebuah karya dan memaparkannya di hadapan juri. ”Penjurian yang kami lakukan saat ini, menghasilkan 10 orang pemenang yang nantinya akan dikirim ke tingkat Asia Pasifik,” papar Ananta.
Ke sepuluh pemenang tersebut secara berurutan dari posisi pertama adalah Dinda Nauli Nasution dari Depok, Jawa Barat, Herfen Suryani dari Bontang, Kalimantan Timur, Sesmon Toberius Butar Butar dari Balige, Sumatera Utara, Setiyana dari Bandongan, Magelang, Priyono Hadi Saputra dari Kuala Kencana, Papua, Madi Nuryani dari Singkole, Sulawesi Selatan, Arief Wahyu Purwito dari Pasuruan, Jawa Timur, Syahriyati dari Alor, NTT, Yusbityanti Susiharyani dari Pangkalpinang, Babel, dan Reni Juwita dari Gresik, Jawa Timur.
Mereka akan mewakili Indonesia pada Innovative Teachers Competition tingkat regional di Kuala Lumpur, Malaysia tahun depan. Selanjutnya, akan dipilih satu orang atau lebih yang akan mewakili Indonesia di tingkat dunia.
Namun, pada tingkat regional hingga tingkat dunia, sistem yang digunakan sudah berbeda. Peserta tidak lagi dituntut untuk berkompetisi. Namun lebih ditujukan untuk berkenalan, berinteraksi dan bertukar informasi dengan peserta dari negara lain. Dengan begitu, mereka dapat berbagi pengalaman yang mungkin dapat berguna untuk pendidikan di negara masing-masing.
Meskipun tidak mewakili Indonesia ke tingkat lebih tinggi, guru yang telah masuk ke tingkat nasional tetap memiliki kesempatan berkomunikasi dan berinteraksi yang sama dengan para pemenang. Karena, secara otomatis mereka telah terdaftar sebagai anggota dalam Innovative Teachers Network. Sebuah jaringan komunikasi dan interaksi bagi setiap guru yang ikut kegiatan Microsoft di seluruh dunia.
Melalui jaringan ini, para guru dapat saling memberikan inspirasi dan belajar dengan sesama guru dari berbagai penjuru dunia untuk memperbaharui cara belajar anak didiknya. Serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan dunia global. ”Hingga saat ini, di Indonesia sudah ada sekitar 117 ribu orang guru yang terhubung jaringan ini. Di dunia, terdapat lebih dari satu juta orang guru inovatif dari 75 negara,” jelas Ananta.
Meskipun begitu, Ridwan menjelaskan, TIK hanya sebuah alat. Siswa tetap menjadi fokus utama dalam setiap proses pendidikan. Karena itu, ia menekankan agar setiap guru menggunakan TIK secara tepat. Tidak secara berlebihan dan harus sesuai dengan konsep yang berlaku. Jika ada materi yang dapat diajarkan tanpa TIK, maka tidak perlu menggunakan TIK sebagai medium.
Dalam kelas, TIK hanya digunakan jika materi yang diajarkan tidak dapat digambarkan secara nyata. Apakah itu terlalu besar, terlalu kecil atau berbahaya. ”Penggunaannya pun harus sederhana dan tepat pada akar masalah yang muncul. Jangan sampai semua materi didigitalisasikan, ini hanya akan membuang waktu dan tenaga. Pertimbangan inilah yang menjadikan Dinda keluar sebagai juara pertama kompetisi ini,” jelas Ridwan.
Innovative Teachers Competition merupakan bagian dari program Innovative Teachers. Selain kompetisi, terdapat juga Peer Coaching Training atau pelatihan rekan sejawat, IT Literacy Training, dan IT Accesibility untuk guru yang mengajar di sekolah luar biasa. Selain guru, terdapat juga program innovative School dan Innovative Students.
”Kami memang bukan bergerak dalam dunia pendidikan. Tapi kami memiliki kepedulian yang tinggi dalam dunia pendidikan. Karenanya kami mau melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan pendidikan, khususnya di Indonesia,” klaim Ananta. ci1
Komentar : 1 Komentar »
Tags : Pendidikan, Guru, Sekolah, Berita Pendidikan, teknologi informasi
Kategori : Berita Pendidikan, News, Teknologi Pendidikan
Komentar Terakhir