SRP : Embrio Pendidikan Terbuka di Indonesia *)
25 05 2008*) Tulisan ini aslinya dalam buku Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, Editor Dr. Tian Belawati, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta, 1999, oleh Zamris Habib.
Pendahuluan
SRP (Siaran Radio Pendidikan) adalah penerapan teknologi komunikasi pendidikan untuk pendidikan jarak jauh (terbuka) di Indonesia dapat dikatakan sudah diawali pada tahun 1952, segera setelah adanya pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Dengan adanya pengakuan kedaulatan itu banyak para pelajar pejuang yang berhasrat untuk meneruskan sekolah lagi. Sementara itu usia serta pengalaman mereka telah cukup jauh berbeda dibandingkan dengan adik-adik mereka yang terus bersekolah tanpa ikut kesatuan tentara pelajar. Mengingat pula bahwa motivasi belajar mereka lebih kuat maka dianggap kurang tepat bila diberi perlakuan yang sama seperti murid biasa. Atas dasar itu maka Jawatan Pendidikan Masyarakat pada tahun 1952 menyelenggarakan suatu sistem siaran radio untuk penyajian pelajarannya dengan sasaran wilayah Jakarta. Penyelenggaraan sistem ini didukung oleh RRI dan pemancar sumbangan AURI yang dioperasikan sendiri oleh Jawatan Pendidikan Masyarakat dari Jalan Cilacap. Tetapi sistem ini berakhir begitu saja dengan dipusatkannya pendidikan bagi ex pelajar pejuang di kota Malang (Miarso : 1982)
Baru pada permulaan tahun 1958 Departemen P dan K meminta bantuan UNESCO untuk mengadakan suatu studi tentang pendidikan di Indonesia. Studi itu dilakukan oleh Mr. L.H.S. Emerson , MA dengan laporannya yang berjudul : “Education Indonseia : of the Present situation with Identification of Priotities for Development”
Dalam laporan Emerson tersebut antara lain diidentifikasi potensi radio dan televisi untuk membantu memecahkan persoalan dan memenuhi kebutuhan pendidikan. Bahkan diajukan agar Siaran Pendidikan (Radio dan Televisi) merupakan prioritas pertama dalam rangka kesatuan integral pengembangan kurikulum dan bahan pelajaran. Sebagai kelanjutan dari studi Emerson tersebut maka akhir tahun 1968 didatangkan Mr. C. Koch, Education Officer dari ABC sebagai UNESCO Consultant untuk merinci rancangan siaran pendidikan dalam rangka membantu memecahkan persoalan dan memenuhi kebutuhan pendidikan.
Pada tahun itu juga dilaksanakan analisis sistem pendidikan yang pertama kali dengan memakai pendekatan sistem. Analisis itu dilakukan dalam rangka penyusunan Repelita I. Di antara hasil analisis itu dikemukakan, bahwa titik kritis dalam usaha pengembangan dan pembaharuan pendidikan sekolah adalah guru, dan untuk meningkatkan mutu pendidikan kurikulum perlu diubah. Perubahan kurikulum harus diikuti serentak dengan : a. penataran para guru; b. penyediaan buku dan alat pendidikan, dan c. peningkatan pembinaan (supervisi) terhadap pelaksanaan pengajaran. Untuk melaksanakan penataran guru tersebut perlu ditempuh cara yang inovatif dengan memanfaatkan sumber yang ada seperti misalnya siaran radio.
Di samping itu REPELITA I yang dimulai tahun 1969 menekankan pada perluasan kesempatan memperoleh pendidikan dasar bagi seluruh rakyat Indonesia akan tetapi karena kekurangan guru baik jumlah dan kualitas , maka direncanakan untuk melaksanakan pendidikan dan pelatihan melalui radio. Pemilihan media radio oleh Pemerintah didasarkan pada kemampuan media tersebut yang dapat menjangkau populasi pendengar yang lebih banyak dengan sistem jarak jauh dan dengan waktu yang lebih cepat serta biaya yang relatif lebih murah dibanding dengan media lain (Cantrill dan Allport : 1977)
Untuk mempelajari Educational Planning dan Educational Broadcasting secara mendalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah mengirimkan tiga orang dosen IKIP (dari IKIP Malang, Yogyakarta dan Bandung) ke Australia dan pada akhir tahun 1970 telah disusun planning document dengan judul “A Programme of the Introduction of educational Broadcasting In Indonesia”. more...
Maka sejak tahun 1970 dirintis Pilot Proyek Siaran Radio Pendidikan di beberapa tempat di Indonesia. Dua di antaranya adalah usaha untuk penataran guru. Pilot Proyek di Jawa Tengah ditujukan untuk meningkatkan kemampuan guru SD dalam mengajar telah menunjukan hasil positif. Evaluasi ini dilakukan oleh IKIP Semarang menunjukkan a.l. :
1. Tujuan instruksional siaran pendidikan yaitu agar guru-guru pendengar setelah mengikuti siaran memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai metodologi pengajaran modern, terbukti menunjukan angka rata-rata seluruh komponen pengetahuan 54 %.
2. Guru-guru yang ada di luar kota ternyata lebih bergairah dalam partisipasinya dalam program siaran pendidikan.
3. Guru-guru pada umumnya (lebih dari 70 % ) rajin mengikuti acara siaran pendidikan, dan lebih dari 73 % guru mengikuti acara siaran pendidikan dengan motif untuk menambah pengetahuan.
Karena masih ada keragu-raguan atas potensi siaran pendidikan, terutama dilihat dari segi “pay off” dan “cost effectiveness” maka dengan bantuan UNESCO, Prof. Dr. Dean Jamison dari Stanford University melakukan studi pada thun 1971. Dalam laporan yang berjudul “Alternative Strategies for Primary Education in Indonesia : A Cost-effectiveness Analysis” Jamison menyimpulkan :
a. The cost of providing a half hour of instruction per day in each of two courses is less then Rp. 300,- per student per year, all cost considered, if only 10 % primary student are using radio.
b. This amount of radio could be provided at no increase in per student annual cost if the student to teacher radio were raised 35 - 40.
c. Using radio for teacher upgrading is preferable to using conventional means, and would probably result in seight improvement in the primary system’s out put whithin the sama cost constraint.
d. Using radio in two subject areas an every level with a shortened school fours to your hours a day in order to make prafision for a double school shift. has a quantitative edge on simply increasing student to teacher radio and important quality advantage by about 25 %.
Usaha-usaha yang bersifat inovatif seperti pemanfaatan radio untuk pendidikan mendapat dukungan dari Menteri P dan K (Mashuri : 1972) yang mengatakan “…… untuk menanggulangi dan menghadapi tantangan dan masalah itu diterapkan strategi serta program-program pendidikan. Salah satu di antara strategi itu adalah penerpam aspek-aspek inovasi dalam sistem pendidikan. Usaha penerapan aspek-aspek inovasi ini bukan hanya sekedar merupakan kosekuensi logis dari pada pendidikan yang berorientasikan pada kemajuan zaman, tetapi juga karena approach tradisional dan kevensional tidak mungkin lagi menanggulangi masalah yang bertambah lama bertambah rumit. Salah satu di antara aspek inovasi itu adalah penggunaan Siaran (broadcasting) dalam pendidikan. Telah lama diidentifikasikan bahwa broadcasting mempunyai potensi hebat jika penggunaannya teratur dan terarah”
Penggunaan media radio untuk pendidikan juga didorong oleh pertimbangan-pertimbangan (Miarso : 1971) sebagai berikut :
a. Eksplosi penduduk yang dengan sendirinya mengakibatkan eksplosi anak-anak usia sekolah.
b. Eksplosi ilmu pengetahuan
c. Eksplosi teknologi, kedua eksplosi terakhir ini menambah lebar dan dalam jurang pemisah antara negara berkembang dan negara sedang berkembang
d. Terbatasnya dana dan fasilitas untuk perbaikan
e. Perjalanan waktu yang tak dapat menunggu lagi
Untuk menyakinkan keadaan lapangan maka dilaksanakan Field Test dengan maksud dan tujuan :
1. Untuk mengetahui penerimaan dari siaran pendidikan jarak jauh , dan bagaimana efeknya terhadap murid/pendengar.
2. Untuk melihat respon murid/pendengar terhadap berbagai kualitas suara radio yang terdengar pada waktu jam pelajaran dan memperkirakan berapa power out put audio yang paling efektif untuk raadio pendidikan.
3. Untuk melihat bagaimana kritik dan saran-saran dari guru-guru terhadap operasai dan penyetelan pesawat radio.
4. Untuk mengadakan tukar pikiran kesan-kesan dan pengalaman dengan guru dari pilot proyek siaranpendidikan (yang sudah dilaksanakan di sekolah-sekolah mereka)
Sedangkan eksperimen yang dilaksanakan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebelum disebarkan ke daerah lain telah diteliti oleh PT Inscore Indonesia atas biaya UNESCO (1973), 2 diantara 10 kesimpulannya menyatakan :
1. Pencapaian (coverage) dari sasaran tergantung bukan saja dari kemampuan teknis pemancar tetapi juga pada kemampuan ekonomi pendengar, pemilihan waktu siaran yang tepat, dan informasi yang lebih meluas, jelas dan tegas (umpamanya berbentuk instruksi mengenai adanya siaran).
2. Siaran pendidikan ternyata lebih tepat untuk pelajaran-pelajaran/acara-acara yang memerlukan unsur-unsur audio dan hal-hal atau perkembangan-perkembangan baru yang dapat diikuti terus menerus oleh guru/kelompok pendengar
Walaupun hasil studi dan penelitian di atas menunjukkan hasil yang positif
tetapi harus pula kita sadari bahwa berkenan dengan kesulitan-kesulitan organisasi, teknis, personil dan keuangan maka segala macam bentuk inovasi teknologi tersebut harus mempertimbangkan syarat-syarat sbb.:
a. Biaya unit penggunaan inovasi teknologi harus relatif rendah.
b. Teknologi itu sendiri harus dapat merupakan bagian ari keudayaan kita sendiri (bukan melalui hasil import) artinya kita sendiri mampu memproduksi, memelihara dan menggunakan ‘software’ maupun “hardware” teknologi itu.
c. Teknolgi itu harus dapat digunakan dengan efektif dalam pendidikan.
d. Inovasi itu harus dapat disebarkan secara luas dalam waktu yang relatif pendek
SRP untuk penataran guru SD
Dalam pelaksanaan program P3D, telah dirasakan perlu adanya komunikasi terus menerus antara Penatar Kelilling dengan SD Center dan SD lain di sekitarnya, serta dengan pembina wilayah, komunikasi ini diperlukan untuk membina dan memantapkan hasil-hasil penataran. Untuk hal ini diperlukan siaran radio sebagai alat komunikasi dan menjaga kontinuitas training, sebab proses penataran yang dilakukan oleh setiap “mobil tim” untuk masing-masing SD Center dari 25 SD Center yang menjadi tanggungjawabnya hanya 12 hari training (3 kali training @ 4 hari) selama setahun dengan interval waktu lebih kurang. 3 bulan. Oleh karena itu siaran radio dapat digunakan sebagai meddia komunikasi untuk menguraikan persoalan-persoalan umum yang dijumpai dan berguna untuk mencapai tujuan P3D itu sendiri. Persoalan dimaksud antara lain bahan-bahan penataran, prosedur penyampaiannya, dan persoalan-persolaan yang perlu diketahui oleh semua pihak yang terlibat dalam waktu cepat.
Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas masalah utama yang dihadapi oleh TPK (Tim Penatar Keliling) dari P3D adalah terbatasnya waktu dan luasnya materi penataran, sehingga tidak semua mata pelajaran yang dapat disampaikan pada waktu tatap muka. Besarnya jumlah guru yang akan ditatar\dan karakteristik geografis yang sangat bervariasi terdiri dari kepulauan dan daerah pedalaman yang sulit dijangkau dengan transportasi biasa di samping itu keterbatasan waktu tatap muka yang hanya dua minggu tidak menjamin kontinuitas hasil penataran.
SKB Setijadi dengan Sumadi
Pada tanggal 16 Februari 1977 Menteri P dan K Syarief Thayeb telah meresmikan penggunaan SRP untuk penataran guru, pada kesempatan tersebut juga telah ditanda tangani SKB (Surat Keputusan Bersama) antara Kepala (waktu itu disebut Ketua) Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Setijadi dengan Direktur Jenderal Radio, Televisi dan Film Drs Sumadi Nomor 0499/K/1977 dan Nomor 08/Kep/DIRJEN/RTF/77. Isi kerja sama tersebut antara lain kedua belah pihak bertanggungjawab atas terlaksananya siaran dan atau siaran sekolah melalui RRI dan TVRI berdasarkan konsepsi dan atau kurikulum yang berlaku. Dalam kerja sama tersebut Ditjen RTF bertanggungjawab menyediakan unit-unit produksi dan sarana pemancar sedang pihak BP3K (Balitbang Dikbud) bertanggungjawab untuk kurikulum siaran pendidikan dan biaya produksi dan alat penerima siaran di laoangan. Pada kesempatan itu Menteri P dan K menyampaikan pesan agar siaran radio pendidikan yang dimaksudkan untuk membantu kegiatan penataran yang telah ada, bisa mempercepat proses dalam pencapaian target. Di samping itu agar siaran radio tersebut dapat digunakan untuk keperluan komunikasi kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga kebijaksanaan tersebut dapat sampai lebih cepat kepada guru-guru.
Tujuan dan Sasaran SRP
Secara umum tujuan penataran melalui SRP adalah untuk menunjang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dengan mengintegrasikan penerapan media dan teknologi komunikasi secara terencana dan terarah sebagai suatu sub sistem dalam pendidikan dasar. Secara khusus dimaksudkan (1) meningkatkan mutu pengetahuan dan kemampuan profesional guru dan calon guru SD; (2)memperluas kesempatan memperoleh pendidikan ; (3) memperkaya sumber belajar, dan (5) membantu terciptanya prinsip belajar seumur hidup dan masyarakat gemar belajar.
Sasaran program ini adalah guru SD terutama yang berada di daearah terpencil di sebelas propinsi, yaitu Irian Jaya, Maluku, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, NTT, NTB, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan termasuk 2 propinsi daerah eksperimen yaitu Jawa Tengan dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Strategi SRP
Materi-meteri penataran disajikan melalui media radio yang disiarkan oleh RRI daerah, RPD (Radio Pemerintah Daerah) dan RSN (Radio Swasta Niaga) setiap pagi hari dan sore harinya siaran ulang, selama enam hari dalam seminggu dan setiap minggu disiarkan program lokal yang berisi jawaban-jawaban umpan balik dari para guru. Di setiap SD dibentuk kelompok belajar (pendengar) yang terdiri dari guru-guru SD tersebut atau juga dapat dibentuk kelompok yang lebih besar dari SD-SD yang berdekatan. Kelompok belajar ini diketuai oleh kepala sekolah dan mengangkat seorang sekretaris yang dipilih dari anggota kelompok belajar. Selain media radio anggota kelompok belajar dilengkapi dengan buku petunjuk pemafaatan yang berisi bagaimana para guru belajar melalui radio, apa saja yang disiapkan sebelum mendengarkan siaran dan kegiatan selama mendengarkan serta tugas-tugas yang harus dilaksanakan setelah mendengarkan siaran. Karena keterbatasan media radio yang hanya sekitar 20 menit siaran untuk setiap topik, maka para guru diberikan buku BP (Bahan Penyerta) siaran. BP tersebut berisi judul-judul program yang disiarkan, tujuan umum dan khusus, serta ringkasan isi dari siaran tersebut. Agar guru-guru tidak mengalami kesulitan waktu mendengarkan siaran maka dalam BP juga disajikan arti dari kata-kata sulit, dan di akhir BP tersebut juga diberikan tugas-tugas yang akan dilaksanakan oleh guru setelah mendengarkan siaran beserta buku-buku sumber. Para guru yang tergabung dalam kelompok belajar ini pada sore harinya dapat mendengarkan siaran secara individual di rumah masing-masing karena setiap sorenya diadakan siaran ulang oleh stasiun pemancar yang sama.
Komponen-komponen Kegiatan SRP
Kegiatan SRP mempunyai 5 (lima) komponen sub kegiatan (Habib dalam Miarso : 1984), sebagai berikut :
a. Pengembangan Program dan Sistem Penyajian
1) Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar (PDKBM) sebagai kurikulum penataran lewat media.
2) Penulisan naskah bahan penyerta siaran (BP)
3) Penulisan naskah siaran
4) Produksi dan Penggandaan program siaran
5) Penyebaran (distribusi) : BP ke kelompok belajar dan program siaran ke stasiun pemancar
6) Transmisi (penyiaran) program dari Stasion Pemancar Radio
7) Pembinaan Kelompok Belajar
Evaluasi
b. Pembentukan Jaringan Kerja
Pada mulanya telah dibentuk satuan kerja di Propinsi berupa Satuan Tugas Pelaksana Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan Daerah (SPTD) di sebelas propinsi daerah sasaran sesuai dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tanggal 31 Juli 1976, nomor 0200/P/1976. Pada tahun 1979 menurut keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0145/O/1979 SPTD dijadikan lembaga struktural dengan nama sanggar TKPK (selanjutnya disebut Sanggar Tekkom), yang berada langsung di bawah pembinaan teknis Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pus Tekkom) dan secara taktis operasional Sanggar dibina oleh Kantor Wilayah Depdikbud setempat. Sanggar Tekkom inilah yang mengelola kegiatan pelaksanaan SRP di daerah, seperti membentuk kelompok belajar, mendistribusikan bahan, mengadakan kerja sama dengan RRI, RPD dan RSN setempat serta memonitor dan memberikan umpan balik kepada kelompok belajar.
c. Latihan Penataran
1) Penataran bagi TPK – P2SD (sebelumnya P3D) untuk sebelas propinsi dalam rangka penggunaan media radio dan media lain
2) Penataran bagi Kepala Kantor Depdikbud tingkat Kota Madya/Kabupaten/Kecamatan dan Penilik SD (untuk sebelas propinsi), untuk bertugas sebagai feedback officer dan supervisor siaran radio pendidikan
3) Latihan Staf Sanggar Tekkom di sebelas propinsi dalam rangka memberikan kemampuan untuk mengelola kegiatan siaran radio pendidikan (meliputi penulisan naskah, pembuatan program lokal, pendayagunaan media, pengolahan umpan balik, dan pembinaan program di wilayahnya masing-masing)
4) Latihan produser dan penulisan naskah siaran dalam rangka pembuatan program nasional
d. Penyiaran Program
Sampai tahun 1984 penyiaran program (transmisi) dilakukan oleh 23 stasion pemacar RRI, 17 Radio Pemerintah Daerah (RPD) dan 4 radio swasta niaga. Kegiatan penyiaran ini didasarkan pada kerja sama penyelenggaraan Siaran Radio Pendidikan (SRP) antara Departemen Penerangan dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Penyiara diselenggarakan dua kali sehari, pada pagi hari pada waktu istirahat sekita 20 menit siaran dan didengarkan secara berkelompok sedangkan pada sore hari diselenggarakan siaran ulang sebagai layanan bagi secara individual dapat mendengarkan SRP kembali dan atau bagi yang kebetulan berhalangan pada pagi hari mendengarkan secara berkelompok, jam penyiaran pada sore hari disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.
e. Pengadaan Sarana dan Fasilitas
1) Sampai tahun 1984 baru dapat disediakan sejumlah 6.806 pesawat radio dan radio kaset yang didistribusikan terutama ke SD yang letaknya di pelosok terpencil yang bisa menangkap siaran. Pesawat radio tersebut pengadaannya oleh Pus Tekkom. Di samping itu juga ada sumbangan dari Pemerintah Daerah selaku Dewan Pembina Sanggar Tekkom.
2) Kepada masing-masing Sanggar Tekkom disebelas propinsi telah didistribusikan sebelas buah sepeda motor untuk dimanfaatkan dalam kegiatan supervisi dan pengumpulan umpan balik dari kelompok-kelompok belajar dalam rangka pembuatan program lokal.
Pola Operasional
Komentar : Tidak ada komentar »
Kategori : Media Pendidikan, Pendidkan, Publikasi, Teknologi Pendidikan
Komentar Terakhir