Manusia Tanpa Jiwa? Renungan 10 tahun reformasi

11 05 2008

Sejenak kita coba merenung ke masa awal reformasi, 10 tahun yang lalu. Masyarakat menjadi beringas, kalau ada yang tidak setuju terhadap sebuah kebijakan langsung main hantam, bakar!! Kalau ketemu orang yang dianggap maling langsung digebukin di tempat saat itu juga. Kalau mengusulkan sesuatu, harus diterima. Bila tidak, akan dimusuhi, jika perlu dihancurkan. Serasa bangsa ini tidak punya aturan dan etika lagi.

Mari, kita flashback ke beberapa dekade sebelum reformasi. Hampir semua orang ingin maju tanpa melalui proses sebagaimana lazimnya. Anak sekolah mau naik kelas kalau bisa tanpa ujian, ingin lulus tanpa susah-susah belajar, ingin jadi sarjana jiplak karya tulis orang. Tak terkecuali orang tua murid selalu menginginkan anaknya naik kelas atau lulus ujian walaupun kemampuannya rendah, dengan menempuh berbagai cara seperti menemui kepala sekolah, wali kelas atau kalau kebetulan punya kenalan pejabat eselon yang lebih tinggi minta katebelece agar diberikan prioritas. Naik kelas, naik pangkat atau naik gaji tentu semua orang mengharapkan, tetapi untuk mendapatkannya sering menempuh segala cara, tidak mengindahkan etika dan aturan main.

Kondisi beginilah yang terus-menerus berlangsung beberapa dekade terakhir, apakah ini merupakan suatu rekayasa dari pihak tertentu atau memang kondisi tersebut dibiarkan terjadi untuk menghancurkan moral anak bangsa. Sampai hari ini setelah 10 tahun reformasi masih banyak orang tua dan guru-guru secara sengaja menghancurkan anak didiknya sendiri dengan membantu mereka dalam menyelesaikan soal-soal ujian nasional (ingat kasus Medan yang diusung oleh Airmata Guru tahun 2007) dan pada waktu pelaksanaan ujian nasional tahun 2008 ini masih terjadi kasus-kasus serupa di berbagai daerah.

Berdasarkan contoh-contoh di atas cobalah kembali kita renungkan, kenapa semua ini terjadi, kenapa orang-orang ingin cepat kaya tanpa susah-susah melaui proses yang semestinya, kenapa orang menginginkan semuanya serba instant, tidak mau “Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Walaupun peribahasa tersebut sudah jarang terdengar di telinga kita sekarang ini tapi subtansinya masih relevan.

Apakah kita ini sudah kehilangan roh, apakah kita sudah seperti mesin yang bekerja tanpa rasa, atau robot-robot yang tak berjiwa. Ataukah kita sudah menjadi makhluk-makhluk gentayangan yang bekerja tanpa mengenal lelah demi untuk mengejar target, demi untuk mengejar kekayaan dengan cara apapun yang menjadi ukuran kesuksesan dewasa ini.

Gerakan Reformasi memang sudah merubah secara drastis perjalanan bangsa ini. Ibarat kapal laut yang seyogiyanya mengambil ancang-ancang dengan membuat setengah lingkaran untuk berbelok agar kapal tidak oleng dan penumpangnya tidak goncang dan kaget. Tetapi seperti kita saksikan gerakan reformasi telah memaksa nahkoda untuk memutar-balik kapal bangsa ini dengan belokan patah. Penumpang kaget dan keluarlah sifat-sifat asli yang jelek, bagaimana menyelamatkan diri tanpa menghiraukan orang lain, muncul sifat nafsi-nafsi (individual) untuk mencari kesempatan dalam kesempitan dan menyelamatkan diri, harta dan keluarga. Mereka mengklaim bahwa mereka sajalah yang benar, orang lain salah. Apabila mendapat kesempatan menjadi pejabat akan mengangkat orang-orang dari keluarga, kelompok atau golongannya, bahkan keluar pameo bahwa “dulu giliran elo, nah sekarang giliran gue..!!

Pertanyaan mendasar adalah apakah akan dibiarkan situasi dan kondisi ini berlangsung terus? Memang anggota parlemen sudah memulai langkah awal dengan merubah undang-undang yang tak sesuai dengan tuntutan reformasi, tetapi di lapangan tradisi lama yang sudah mendarah daging sulit untuk dihilangkan. Ibarat bermain bola kaki, aturan main memang sudah baru agar bermain cerdas dan sportif, tetapi yang bermain kan masih pemain-pemain lama dan sudah punya kebiasaan yang sulit untuk dirubah.

Saya kira kita semua sepakat bahwa manusia-manusia tanpa jiwa (sebelumnya masih punya jiwa) itu umumnya pernah duduk di bangku sekolah (baca: dididik), tetapi kenapa demikian perilaku anak bangsa ini, apa yang salah pada lembaga pendidikan kita? Perlukah kita mengkaji ulang secara mendasar terhadap sistem pendidikan bangsa ini tanpa mencari siapa yang salah ??? Wallahu a’lam bissawab.(zh)





Kerjakan apa yg bisa !

21 04 2008

Beter een halve ei dan een lege dop  (pribahasa Belanda)
Lebih baik mendaptkan isi telor separoh daripada hanya mendapatkan kulitnya

Maa la yudraku kullu wala yutraku bahduhu au kulluhu (Usul Fqh)
Kalau tak dapat semuanya, jangan tinggalkan sebagian (semuanya)

Kerjakanlah apa yang bisa, jangan ditunda-tunda, dan jangan karena ada hambatan sedikit maka muncul kata2 tanggung, (lebih baik gak sekalian)





Kedamaian Hati

21 04 2008

Ya Tuhan, berilah saya kedamaian hati
Untuk menerima hal2 yg tidak bisa saya ubah
Keberanian untuk mengubah hal2 yg bisa saya ubah
Dan kebijaksnaan untuk mengetahui perbedaan antara keduanya

(Reinhold Niebuhr)





EQ tanpa SQ, jadi apa ?

21 04 2008

Banyak orang yg mengikuti kursus keperibadian, emotional quetions, menjaga penampilan agar selalu senang dilihat orang, bagaimana bertemu dengan orang, apa itu klien atau target market bagi pekerja marketing. Tetapi bukan saja tenaga pemasaran atau pengusaha2 yg sekarang ini ikut kursus keperibadian tapi juga bapak2 pejabat, ibu pejabat dengan alasan agar tidak memalukan kalau ketemu orang besar yang lain.
Menjaga penampilah boleh saja untuk memberikan image (citra) positif kepada orang lain. Tapi ibaratnya kita menjaga citra tersebut dengan senyum kepada setiap orang yg kita jumpai, atau menjaga sikap2 dan penampilan yg diinginkan orang lain. Akan tetapi kalau seumpama senyum kita tersebut tidak disambut oleh orang yang kita hadapi maka akan menimbulkan rasa kesal dalam hati kita, walau tidak kita sadari, ibarat kita menjual kalau tidak dibeli orang seharga yg kita inginkan maka kita akan kecewa. Kekecewaan yg kecil dan berulang2 akan menumpuk di dalam otak bawah sadar kita, dan hal terebut akan menumpuk ibarar bisul atau bom waktu yang menunggu meledak. Bisul atau bom waktu tersebut akan meledak disaat puncak bisulnya atau pemicunya tersenggol. Mungkin tak sengaja, bisa saja yg menyenggolnya isterinya, anaknya, atau teman dan anak buahnya di kantor. Disaat-saat tersebut orang2 yang kita sebutkan tadi prilaku dan bicaranya tidak akan terkontrol, orang2 dekat disekelilingnya mungkin tak tahu menahu masalah dan memang mereka tak bersalah akantetapi mereka akan menjadi korban.
Oleh sebab itu untuk mengurangi dampaknya seyogiyanya EQ harus diiringi dengan sikap ikhlas. Apa itu sikap ikhlas yang mudah dibicarakan dan sangat sulit diterapkan apalagi kalau sudah menyangkut diri sendiri atau keluaga dekat. Sikap ikhlas adalah menerima dengan lapang dada apa yang terjadi atau seumpama sikap yang kita inginkan tidak sama dengan dengan tanggapan orang lain. Sikap spiritual itulah yang akan mencerahkan jiwa manusia (SQ). Wallahu a’lam





Filsafat, kenapa takut ???

21 04 2008

Banyak orang yang takut belajar filsafat dengan alasan takut salah dalam berfikir terutama dalam soal agama. Pada hal belajar filsafat itu adalah How to think right and to find the truth, bukan think to life and think to rich. Sedangkan pepatah Latin mengatakan “Fortier in re in modo (tegas dan halus dalam bicara) dan bahkan Magniz Suseno mengatakan berilsafat bagaikan anjing yang menggonggong dan mengigigit.