15 comments on “Disain Insstruksional

  1. Dengan bertambahnya tugas seorang guru, selain sebagai pengajar juga sebagai instructional designer, maka guru dituntut haruslah profesional juga proforsional.
    dari keterangan Undang-undang RI No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) salah satu butirnya mengatakan bahwa guru haruslah menguasai Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya serta Pemenuhan persyaratan kualifikasi akademik minimal S1/D4 dibuktikan dengan ijazah dan persyaratan relevansi mengacu pada jejang pendidikan yang dimiliki dan mata pelajaran yang dibina.
    Semua hal ini tidak dapt dimiliki seorang guru atau calon guru yang hanya lulusan S1/D4 tetapi tidak pada jurusan kependidikan yang dimaksud, seperti misalnya seorang sarjana umum mengikuti kuliah Akta IV untuk memiliki ijin mengajar tanpa mengetahui dan mempelajari substansi dari mengajar itu sendiri apa.
    jadi, kualifikasi yang dituntut oleh UUSPN bahwa seorang guru harus strata satu belumlah cukup untuk memenuhi persyaratan sebagai guru profesional yang dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan tuntutan undang-undang. dan mewujudkan pendidikan yang maju dan modern seperti yang diharapkan. masih perlu banyak pembenahan dan pelatihan-pelatihan bagi guru dan calon guru untuk menjadikan seorang guru profesional dan berkualitas.

  2. Sdr. Devi.
    Tuntutan Pemerintah agar guru minimal S1 sekarang ini adalah wajar karena bertambahnya fungsi guru. Masalahnya adalah banyak guru2 hanya sekadar mencari sertifikat S1 dg berbagai cara, bukan profesionalitas yg dicari tetapi cuma sertifikat. Kalau begini kapan mau maju bangsa kita ??? Thank’s komentar Anda

  3. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) menuntut guru untuk bisa menguasai design instruksional atau, guru jadi lebih kreatif atau setidaknya dituntut untuk menjadi kreatif. Berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, guru tidak pernah ikut campur tangan dengan pembuatan kurikulum melainkan hanya tinggal melaksanakannya. Dengan adanya KTSP ini, apakah guru memang seharusnya ikut ambil bagian didalam penyusunan kurikulum? Tentu, karena guru adalah orang yang paling tahu tentang semua seluk beluk peserta didiknya. Disamping itu, era modern menuntut siapapun untuk berfikir dan bertindak modern (hal-hal positif).
    Kemudian, jika bekal pendidikan seorang guru hanya SMA atau yang sederajat apakah akan mampu membuat design instruksional? Sedangkan design instruksional inilah yang menjadi modal penting penyusunan KTSP. Mungkin saja, yaitu dengan mengikuti pelatihan-pelatihan dan sebagainya, tetapi tetap tidakakan maksimal.
    KTSP menuntut guru tidak hanya sebagai pelaksana kurikulum tapi juga harus bisa menjadi seorang desainer kurikulum. Lalu bagaimana seorang guru bisa menjadi seorang desainer kurikulum jika ia tidak menguasai Instruksional Desain?Bagaimanapun baiknya suatu kurikulum, jika bekal pendidikan guru belum memadai maka akan tetap tidak berjalan dengan baik. Oleh sebab itu saya sangat setuju dengan Undang-undang no.14 tahun 2005 tentang sertifikasi guru dan dosen. Sebab bagaimana mungkin pendidikan kita (Indonesia.red) akan maju jika para insructur nya belum berkualitas. Salah satu kualitas guru ukurannya adalah ia seorang sarjana , dan yang paling utama adalah SDM yang berkualitas.

  4. Thank’s, mudah2an undang-undang guru dan dosen bisa meningkatkan mutu pendidikan dan jangan lupa dapat juga menambah kesejahteraan guru.

  5. Ya memang dalam UUSPN no 20\2003 guru hanya bertugas sebagai pendidik dan pengajar. Akan tetapi untuk saat ini guru dituntut untuk menjadi disigner yang dimana seorang guru bukan hanya mendidik atau mengajar saja akan tetapi membuat pola (RPP) untuk bahan ajar. Membuat KTSP haruslah disesuaikan dengan lingkungan atau daerah dimana sekolah itu berada, mengikuti zaman dan siapa yang kita aja dengan itu seorang guru harus bisa menganalisis kondisi daerah, dengan analisis itu akan memberikan keuntungan bagi disigner untuk mengurangi atau menambahkan materi-materi yang kurang relevan.
    Kendala tentang KTSP di negara kita adalah belum tersampaikan atau pemerataan tentang apa itu KTSP? mungkin da seorang guru yang mengikuti seminar hingga berkali-kali dan ada juga yang belum mengikuti seminar.
    Pemerintah sudah mulai mengadakan kualifikasi bagi tenaga pendidik atau guru haruslah strata satu(sarjana) dengan bertujuan gar seorang pendidik berkualitas dan propesional dibidangnya, dengan itu pendidikan di negara kita sudah mulai memperbaiki sistem dalam proses kegiatan belajar mengajar.

  6. Untuk menjawab tantangan dunia pendidikan yang semakin berat, maka profesionalime guru harus dikembangkan. Menurut saya tuntutan kualifikasi guru semuanya harus Strata Satu belum bisa menjawab tantangan ini. Masih banyak hal yang harus menjadi fokus perhatian, diantaranya adalah :
    1. Masih banyak guru-guru yang mengajar bidang studi di luar bidang keahliannya, sehingga bagaimana mungkin dia dapat maksimal menguasai materi pelajaran yang diampu ?, kalau saja dalam penguasaan materi pelajaran masih kurang, bagaimana mungkin seorang guru dapat memenuhi tuntutan UUSPN no. 20/2003 yang mengharuskan dia menjalankan tugas ganda, selain menjadi tenaga pendidik juga sebagai curriculum and instructional Designer?
    2. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa selama ini guru – guru yang melanjutkan ke Strata Satu (S1), kebanyakan hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan sertifikasi guru, atau hanya untuk memenuhi tuntutan undang-undang. Walau pun hal tersebut secara tidak langsung juga memberikan pengaruh positif bagi pengembangan dirinya.
    3. Masih kurangnya dan belum meratanya bimbingan dan pelatihan terhadap guru-guru yang secara khusus dititikberatkan untuk memperbaiki kinerja guru dalam meningkatkan mutu pendidikan. selain itu selama ini menurut saya pelatihan – pelatihan yang diselenggarakan kurang maskimal. Hal ini dapat dilihat pada setiap kali pelaksanaan seringkali banyak pemangkasan waktu pelatihan dan materi yang diberikan, sehingga pelaksanaan pelatihan tersebut terkesan formalitas saja.
    4. Saya tidak tahu apakah selama ini pelatihan-pelatihan yang telah dilaksanakan dianalisis dan dievaluasi atau tidak? Saya merasakan kurang adanya sistem penilaian yang sistemik dan periodik untuk mengetahui efektivitas dan dampak pelatihan guru terhadap mutu pendidikan.

    Oleh karena itu menurut saya, selain kualifikasi guru harus diperhatikan, hal-hal lain seperti yang dapat meningkatkan profesionalisme kinerja guru, sehingga tuntutan UUSPN no. 20/2003 dapat terealisasi.

  7. Seorang guru memang harus berkualitas agar dapat di sebut guru yang prefisional ,supaya guru itu dapat menjawab pertayaan-pertanyaan yang ada di dalam dunia pendidikan. Di samping itu guru juga harus mengembangkan pengetahuan teknologi pendidikan untuk menunjang kegiatannya dalam mengajar, supaya tujuan kurikulum tersebut sesuai yang di harapkan oleh masarakat yang mengingikan adanya perubahan positif untuk pendidikan anak-anaknya.
    Lebih baik seorang guru memang harus starta satu(sarjana). Karena guru sebagai pendidik atau pengajar, guru juga merupakan salah satu komponen penentu(determinance)keberhasilan setiap upaya pendidikan.Itu sebabnya setiap adanya inovasi dalam bidang pendidikan, spesifik dalam komponen kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia(human resources)yang di hasilkan dari upaya pendidikan selalu bermuara pada faktor guru, hal ini mengindikasikan bahwa betapa eksistensi peran guru di dalam dunia pendidikan begitu penting.
    barometer kekualitassan\keprofesian guru tidak hanya di tentukan berapa lama guru tersebut mengajar tetapi sejauh mana guru tersebut mampu mengamplikasikan metodologi pendidikan dan tampil sempurna dengan terintegrasi dalam dirinya 4 kopetensi yaitu : a) kopetensi keperibadian (personaliti competency), b)kopetensi sosial (social kompetency), c)kopetensi pedagogik(pedagogik competency), d)kopetensi profesional (profesionalcompetency).

  8. untuk mewujudkan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik, kondisi, dan potensi daerah, maka pemerintah memberlakukan KTSP yang disusun dan dikembangkan oleh masing-masing daerah dengan mengacu pada standar nasional. ktsp menuntut guru kreatif dalam menyusun kurikulum sendiri sesuai dengan kebutuhan dan kekhasan sekolahnya. agar tercapainya cita-cita KTSP, maka guru, kepala sekolah dan bahkan pengawas sekolah harus benar-benar mengerti apa itu KTSP. dengan adanya ktsp, tugas guru semakin bertambah, dan dengan bertambahnya tugas guru diharapkan bertambah pula kualitas SDM nya. menurut saya, tuntutan agar semua guru harus Strata Satu (Sarjana) belum lah cukup. seandainya pun toh itu terjadi (Semua guru sudah S1) itu tidak bisa dijadikan jaminan bahwa ktsp akan terlaksana tanpa hambatan. katakanlah S1 mungkin sebagai jawaban, lalu bagaimana dengan guru-guru yang ada di daerah yang hanya tamatan SMA / Pesantren dan berekonomi rendah? untuk mencapai S1 mungkin agak sulit. menurut saya yang terpenting adalah bagaimana agar SDM guru-guru di negeri ini berkualitas, sehingga bisa meningkatkan kinerja dan menjadi guru yang profesional, bukan dari sarjana atau tidaknya. dalam hal ini (peningkatan kualitas) peranan pemerintah sangat diharapkan, terutama bagi guru-guru yang ada di daerah. selain guru, saya rasa pengawas sekolah pun juga diharapkan memiliki pengetahuan yang sama tentang KTSP (seperti yg bapak bilang; aturan baru tetapi pemainnya lama) agar antara guru dan pengawas seiring sejalan. karena selama ini, antar pengawas pun masih banyak yang berbeda-beda penafsiran tentang ktsp. jika semua pihak (pemerintah, pengawas, kepala sekolah dan guru) bisa bekerjasama dengan baik, mudah-mudahan tuntutan UUSPN no.20/2003 bisa terealisasi.

  9. memang benar prinsip atau langkah-langkah teknologi pendidikan yaitu seperti develope and evaluate langk-langkah ini di maksudkan agar mutu atau kwalitas pendidikan di suatu negara tersebut baik, sesuai dengan keberadaan atau kemampuan kinerja tersebut dengan adanya penyesuaian atau keterampilan masing masing para pengajar sesuai dengan kemampuan apa yang mampu ia kerjakan atau laksanakan dengan bidangnya masing maka pendidiikan akan maju menurut kwalitasnya akan tetapi sebaliknya apabila suatu negara para pengajarnya tidak sesuai dengan bidangnya masing-masing maka akan terpuruk sistem pendidikan di negara tersebut . para pengajar juga harus dapat mensosialisasikan terhadap lingkungan yang ada dalam menjabarkan kurikulum agar kurikulum tersebut sesuai dengan kebutuhan daerah.

  10. UUSPN no 20/2003 adalah merupakan perubahan baru dalam dunia pendidikan di Indonesia karena guru-guru di tuntut agar memiliki pengetahuan yang lebih baik dalam jenjang pendidikan maupun dalam mengerjakan tugas-tugasnya karena guru di tuntut untuk dapat menyusun kurikulum sendiri dengan adanya tuntutan demikian maka pemerintah menuntut agar guru dapat memiliki pendidikan minimal sarjana.
    Namun demikian pendidikan minimal sarjana bukanlah sebuah jawaban dari tantangan yang ada karena daa sebahagian guru beranggapan melanjutkan pendidikan sampai sarjana agar dapat di anggap ada oleh pemerintahan dengan adanya sertifikasi deang kata lain guru beranggapan agar mendapatkan uang yang lebih dari gajinya.menurut saya sarjana haruslah ditunjang dengan kesadaran sang guru tersebut dengan apa yang di maksud pemerintah menuntut guru agar sarjana adalah agar guru siap dalam perubahan-perubahan dalam dunia pendidikan di Indonesia.
    Pemerintah dalam mengadakan sebuah perubahan jugu terlihat ketidak siapannya terbukti kurang meratanya pelatihan-pelatihan tentang apa yang berubah dalam dunia pendidikan tersebut seperti kurangnya pelatihan tentang apa yang di maksud dengan KTSP.

  11. Saya sangat setuju dengan adanya UUSPN no 20/2003, guru-guru dituntut sebagai pengembang kurikulum dan pebelajaran. Selain menjabarkan kurikulum dari pusat, guru berkewajiban menyusun kurikulu sesuai dengan kebutuhan daerah dan lingkungan sekolah dimana berada ini merupakan sebuah tantangan bagi guru dalam menyusun kurikulum, seorang guru harus jeli dan cekatan terhadap lingkungan dan kondisi para peserta didik(siswa).
    Untuk menjadi guru yang propesional maka seorang guru memperbaharui pengetahuannya agar proses belajar mengajar tidak membosankan dan materi pelajaran dapat lebih mudah dimengerti oleh siswa.
    Salah satu tujuan pemerintah mengadakan sertifikasi agar guru menjadi seorang pendidik dan penajar yang bermutu serta mampu mendisen kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan para siswa

  12. Beratnya tugas guru saat ini, memang menuntut guru untuk lebih profesional dan senantiasa termotivasi untuk meningkatkan kualitas. Terlebih lagi dengan adanya tuntutan UUSPN no. 20/2003 yang lebih mengharuskan guru menjalankan tugas sebagai Curriculum and Instructional Designer. Tugas ini mutlak menuntut guru untuk menguasai Ilmu Pengembangan Kurikulum. Oleh karena itu, guru pun dituntut untuk meningkatkan kualitas keilmuannya, salah satunya dengan melanjutkan pendidikan ke Strata Satu bagi guru yang masih D2 atau D3.
    Tetapi yang menjadi masalah, banyak guru yang melanjutkan pendidikan ke S1 hanya sebagai formalitas saja, terlebih guru yang sudah PNS (walau pun tidak semua). Mereka menempuhnya secara instan. Hal ini didukung pula dengan menjamurnya STKIP atau STAI yang jadwal perkuliahannya hanya satu atau dua hari seminggu. Kita bisa bayangkan berapa persen ilmu yang terserap dengan perkuliahan sistem instan tersebut. Kecuali guru yang bersangkutan kreatif dalam mencari sumber belajar yang lain. Tapi, berapa banyak sih kita punya guru yang kreatif? Mayoritas guru sudah lelah dengan tugas beratnya sehari-hari.
    Guru yang sudah S1 pun harus senantiasa meningkatkan kualitas diri. Salah satunya dengan giat mengikuti pelatihan-pelatihan kurikulum dan mencari informasi-informasi pendidikan yang terbaru. Karena bagi seorang guru yang profesional tidak ada istilah berhenti belajar. Belajar dan mengajar adalah menu wajib bagi guru.
    Semoga dengan begitu konsep KTSP yang sudah bagus dapat terealisasi di lapangan melalui tangan guru yang berkualitas, kreatif dan inovatif.

  13. Berbicara mengenai guru berarti kita akan berbicara mengenai profesionalisme. Kerena, mengajar pada suatu lembaga pendidikan merupakan profesi dari seorang guru, maka dalam melaksanakan tugasnya, guru dituntut keahliannya (expertise), menggunakan teknik-teknik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi. Sesuai dengan UUSPN No. 20/2003 maka sudah seharusnya pula mulai dari sekarang setiap guru meningkatkan keahliannya baik dalam bidang teknik mengajar maupun dalam penyiapan kurikulum dan pengambangannya yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan tuntutan daerah dan satuan pendidikan serta perkembangan dunia.
    Guru harus dapat menginterpretasikan kurikulum sebagai buah pikiran para ahli/ pengembang kurikulum, dan sebagai rencana tertulis untuk pegangan guru, yang berisi: materi atau bahan minimal secara nasional, sehingga guru masih ada kesempatan untuk mengembangkan KTSP tersebut.
    Sebagaimana direncanakan bahwa KTSP harus sudah dapat terealisasi pada tahun 2010 untuk seluruh Indonesia, maka dilain pihak, selain dituntut proaktif guru, pemerintah juga jangan lupa untuk menunjang setiap rencana yang akan dicapai sesuai dengan UUSPN No. 20/2003.

  14. Sudah menjadi keharusan bagi seorang guru yaitu profesional baik itu profesional dalam mendesain kurikulum maupun profesional dalam mengejar supaya tuntutan UUSPN no. 20/2003,dapat terealisasi. Memang suatu tuntuan bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, (UU Pasal 3 nomer 20 tahun 2003 ) maka bagai mana mungkin akan menghasilkan anak didik yang berkualitas andaikan tenaga pengajarnya (guru) tidak profesional, untuk guru tidak bisa di tolelir lagi harus S1/D4 dan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang guru yaitu kompetensi antara lain;
    a. Kompetensi Kepribadian; yang merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
    b. Kompetensi pedagogic; meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
    c. Kompetensi professional; merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya.dan
    d. Kompetensi sosial; yaitu kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar, dan yang perlu di perhatikan juga pelaksanaanya, jangan sampai kenyataan dilapangan berbeda dengan aturan yang ada, aturan-aturan apakan itu berbentuk kebijakan maupun undang-undang janggan sampai hanya sekedar omong kosong dan buaiyan belaka.hdr

  15. Negri ini punya “harapan” – harapan yang tertulis satu paragraf didalamUUSPN No.20/2003. Bayangan-bayangan manusia masa depan yang selama ini yang hanya tersimpan diotak kanan mulai berani untukdibumikan. Kendaraannya yaitu dunia Pendidikan . Dikatakan “Pendidikan Menjadi Prioritas Perbaikan Negri ini” apakah benar?_ Modalnya sudah ada, yaitu:UUSPN No.20/2003,Kurikulum “mutakhir”(KBK+KTSP).Dan Tenaga Pendidik yang diangkat derajatnya dengan UU Guru dan Dosen nampaknya belum mampu memainkan kurikulum “mutakhir” tersebut. Pasalnya banyak tenaga pendidik yang orientasi pemenuhan syarat akademiknya hanya semata-mata lulus sertifikasi hasilnya adalah “kompetensi yang tanggung”. Kompetensi yang tanggung berakibat terasa berat dan sulit memahami KTSP.
    Sosialisasi KTSP dan penyamaan pemahaman terhadap konsepnya dikalangan Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota serta disekolah menjadi agenda terpenting kedepan. 2012 nanti KTSP menjadi hal biasa, dan “harapan” itu…….”

    Menuru Buku Panduan Penyusunan KTSP jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip:(1)Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan.(2)Beragan dan terpadu, (3)Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.(4)Relevan dengan kebutuhan kehidupan.(5)Menyeluruh dan berkesinambungan.(6)Belajar sepanjang hayat.
    (7)Seimbang antara kepentingan nasional dan daerah.

    Jadi saya sangat setuju sekali dengan syarat akademik S1 untuk profesi Guru, “Guru yang asli” tidak terlalu kaget dengan KTSP, kerena dia diberi keleluasaan untuk mengembangkannya untuklebih kreatif dan inovatif dan ia pantas disebut Profesi Pendidik. Wallaluhualam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s