32 comments on “Change your paradigm

  1. Untuk menambah wawasan atau pengetahuan pada diri kita.Banyak sekali caranya,sebagai manusia memang sudah di wajibkan untuk belajar.salah satu di antara sumber belajar yaitu guru atau dosen.saya tidak memandang guru atau dosen satu-satunya sumber belajar.
    guru atau dosen memang sumber belajar tetapi,mereke juga dapat di jadikan sebagai pemberi motivasi kepada students.Dalam memajukan atau meningkatkan wawasan para students yang di ajarnya.selain itu guru atau dosen dapat memberikan arahan,bimbingan atau penjelasan secara langsung dalam kegiata belajar mengajar.Memang benar selain guru atau dosen masih banyak lagi sumber belajar yang lainya seperti:tokoh masarakat,buku,majalah,radio,tv,internet,dan lain-lain.Tetapi sumber-sumber yang tersebut tidak lepas dari arahan/bimbingan para guru,dan guru tidak hanya di sekolah tetapi juga orang tua atau orang dewasa yang mengetahui tentang pendidikan.
    Dan bagi saya guru atau dosen sangat berpengaruh dalam memberikan dorongan motivasi kepad studensnya karena motivasi merupakan prilaku yang menentukan kebutuhan(needs)atau wujud prilaku mencapai tujuan di dalam mewujudkan cita-cita para students.
    Menurut paragigma saya,kita memang harus merubah pandangan bahwa guru/dosen satu-satunya sumber belajar tetapi diantara sumber-sumber belajar yang lain guru sangat berperan penting dalam memajukan para studentsnya.untuk meningkatkan mutu pendidikan para anak bangsa ini,kita membutuhkan para guru/dosen yang berwawasan luas.sehingga wawasan/pengetahuan yang ia miliki bisa di transfer kepada para students.dan students dapat mengembangkan pengetahuan tersebut dengan arahan atau bimbingannya.

  2. Anggapan atau paradigma bahwa guru atau dosen adalah satu-satunya sumber belajar itu adalah suatu paradigma zaman dahulu yang mana saya dahulu juga merasakan bahwa guru adalah gudangnya ilmu atau orang yang paling tahu tentang pelajaran,yang mana guru adalah orang yang paling benar sampai-sampai tidak ada satu orang murid pun yang berani berdebat dengan gurunya tentang pelajaran,dengan kata lain guru adalah orang yang paling tahu,paling bener dan sebagainya.
    Menurut saya guru itu tahu lebih dahulu tentang materi yang akan di ajarkan dari muridnya hanya dahulu membaca atau mempelajari satu hari sebelum mengajar dalam arti lain guru ilmunya lebih satu hari di bandingkan dengan muridnya,seandainya murid mempelajari materi itu sehari,seminggu,sebulan atau setahun mungkin gurunya akan tertinggal jauh dari muridnya.
    Sebenarnya guru dalam proses belajar mengajar berfungsi sebagai motivator bagi murid yang di maksud motivator di sini adalah seorang guru hendaknya memberikan motivasi kepada murid agar si murid tidak merasa bosan dalam menuntut ilmu sampai kapan pun sesuai dengan hadish nabi muhamad SAW yang artinya”tuntutlah ilmu dari ayunan sampai liang lahat”dan apa bila ia tidak belajar maka ia merasa merugi dan sangat kurang dalam pergaulannya.
    apabila saya persenkan antara guru/dosen dengan sumber belajar yang lain seperti:tokoh masarakat,buku,majalah,tv,radio,internet dan lain-lain,maka guru atau dosen sebanyak50% dan sumber belajar itu haruslah 100% nah ada kekurangan sebanyak 50% dari mana 50% itu di dapat oleh murid tidak lain 50% di dapat murid dari sumber belajar selain guru/dosen yaitu seperti:tokoh masarakat,buku,majalah,radio,tv,internet,dan lain-lain.
    Sekarang bagai mana menghilangkan paradigma itu dari guru mau pun murid?semua itu dapat berubah apabila ada pembiasaan dengan pembaharuan dan jangan takut akan pembaharuan itu sendiri.

  3. Jika seorang guru atau dosen ingin maju didalam profesinya ataupun menginginkan outputnya menjadi yang terbaik hendaklah tidak menutup mata terhadap hal-hal yang dapat memberikan peningkatan atau kemajuan dalam bidang yang ditekuninya. Baik input yang datang darimana saja maupun teknologi yang sedang berkembang. Melek mata itu sangat penting sekali bagi seorang yang menekuni profesi sebagai pendidik. karena dunia ini semakin berkembang bahkan sudah memasuki globalisasi, maka dunia pendidikan mau enggak mau harus ikut berubah. Oleh karena itu yang masih memegang paradigma lama hendaklah jangan berpikiran picik (mempertahankan ego) karena merasa sudah banyak pengalaman (lama menjadi guru). Sehingga buta terhadap perkembangan zaman, yang mana akhirnya akan berakibat fatal, menciptakan generasi yang jauh dari harapan bangsa. Dari itulah mulai detik ini bukalah mata, bukalah telinga. Buanglah jauh paradigma lama.

  4. Paradigma (pola pikir) lama yang mengatakan bahwa guru dan dosen sebagai satu-satunya sumber belajar tentu sudah tidak bisa diterima di zaman sekarang, dimana teknologi canggih sudah banyak bermunculan. Argumentasinya adalah bahwa paradigma pendidikan telah berubah dimana sumber ilmu pengetahuan sudah tidak lagi berpusat pada lembaga pendidikan formal (SD, SMP,SMA,PT) yang konvensinal. Sumber ilmu pengetahuan sudah tersebar di mana-mana dan setiap orang akan dengan mudah memperoleh ilmu pengetahuan tanpa kesulitan.
    Dengan demikian maka guru atau dosen tidak semestinya puas dengan mengajar dengan gaya dan kebiasaan lama. Lalu bagaimana sikap yang paling bijaksana yang harus dilakukan guru? Di era pendidikan yang modern ini, guru mempunyai peran yang bervariasi, jadi tidak hanya sekedar memberikan yang ia punya (karena kepunyaannya terbatas yang ia ketahui), tapi juga harus dapat memberikan motivasi atau dorongan agar murid menjadi bersemangat dalam belajar dengan menawarkan berbagai cara untuk memperoleh ilmu. Di samping itu juga guru hendaknya bisa memberikan inspirasi bagaimana anak didik hidup dan berkembang sesuai dengan kaidah dan norma yang benar.
    Kesimpulannya, guru dan dosen harus rela meninggalkan paradigma lama yang sudah usang (konvensional), dan berusaha untuk menggantinya dengan paradigma yang paling update, atau sistem pendidikan kita akan mengalami stagnansi. Dan sadarilah bahwa ini adalah tuntutan perkembangan zaman, bukan pemaksaan dari satu atau beberapa pihak. Maju Indonesiaku !!

  5. Sekarang ini kita masih berpegangan pada paradigma lama yaitu paradigma sekolah. Paradigma ini menempatkan sekolah sebagai model utama sebagai pola berpikir dan tindakan untuk meningkatkan dan meratakan mutu pendidikan.
    Reformasi pendidikan menuntut adanya cara berpikir dan bertindak yang berbeda dari apa yang telah ada, dengan mengadakan diagnosis secara menyeluruh atau perubahan paradigma dengan pendekatan yang sistematik. Paradigma yang sistematik kecuali bersifat menyeluruh, harus pula memerhatikan bahwa perubahan mendasar pada salah satu aspek pendidikan, akan mempengaruhi perubahan mendasar pada aspek-aspek lain. perubahan itu dapat dibedakan dalam empat lapis sistem yang saling berkaitan. Pada lapis pertama adalah perubahan pada pengalaman belajar. Lapis kedua pada sistem belajar-pembelajaran yang memungkinkan terlaksananya pengalaman belajar yang diinginkan, seperti misalnya dalam sekolah. Lapis ketiga adalah perubahan pada pengelolaan sistem wilayah, yang mendukung terselenggaranya sistem pembelajaran, dan lapis keempat adalah perubahan pada sistem perundangan yang mengatur dan menjamin berlangsungnya keseluruhan sistem pendidikan secara nasional.
    Berdasarkan hakikat reformasi sebagai pemberdayaan warga, maka sudah seharusnya perhatian utama diberikan pada perubahan lapis pertama, yaitu pengalaman belajar dengan konsekuensi dan implikasi pada perubahan pada lapis kedua sampai lapis keempat. Pendekatan pada lapis pertama disebut juga sebagai pendekatan dari bawah keatas. Selama ini yang terjadi adalah pendekatan dari atas ke bawah, dimana pemerintah pusat menentukan perundangan dan serangkaian peraturan pelaksanaan yang harus dipatuhi oleh jajaran di bawah sampai diruang kelas atau lingkungan belajar tempat peserta didik atau warga belajar memperoleh dan mengembangkan pengalaman belajarnya.
    Sistem pendidikan kita yang berlaku sekarang adalah bertujuan untuk membudayakan peserta didik atau warga belajar. Kebijakan ditentukan sangat sentralistis, sehingga tidak memberi peluang bagi wilayah apalagi sekolah dan guru untuk mengembangkan prakarsa yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan kondisi lingkungan. Pada hakikatnya anak didik diindoktrinasi untuk menelan pelajaran yang diberikan. Guru pun diprogram untuk melaksanakan kegiatan pembelajarannya secara baku sesuai dengan pedoman tertentu.Kenyataan ini sebenarnya mengingkari hak seseorang atau kurang memanusiakan para peserta didik.
    Dengan pendekatan dari bawah ke atas maka perhatian utama diberikan kepada peserta didik agar mereka menguasai tugas belajar dan mampu mengatasi persoalan belajar. Semua satuan penyelenggara pendidikan wajib mengelola sumber daya yang diperlukan dan mengatur penggunaannya.
    Diharapkan dengan perubahan paradigma ini dapat mempengaruhi aspek pendidikan lain bahkan memicu tumbuhnya serangkaian paradigma lain, serta memunculkan konsep-konsep baru. seperti belajar berbasis aneka sumber, pengelolaan berbasis sekolah, dan pola pembelajaran atau pendidikan alternatif.
    CHANGE YOUR PARADIGM !!!!!!!! jika ingin pendidikan berhasil.

  6. Memang tidak dapat dipungkiri perkembangan zaman ini sudah semakin maju. mendapatkan pengetahuan bukan saja dari guru melainkan dari berbagai aspek misalnya saja dari media teknologi katakanlah internet,koran,radio,tv dll. Jika kita ingin menjadi guru yang profesional dimata pendidikan hendaklah kita tahu akan perkembangan zaman apalagi kita sudah tahu akan repormasi segala bidang jangan sampai ketinggalan sama dunia lain.karena itu tugas guru selain mengajar jaga dapat memberi inspirasi dan motivasi kepada anak didiknya, dengan adanya memberikan motivasi kepada anak supaya mendapatkan wawasan dan rasa ingin tahunya tinggi.Memang kebanyakan guru yang lama masih memegang paradigma lama masih mempertahan akan egonya saja bahwa guru itu adalah pintar. Sekarng zaman telah berubah maka kita pun harus mengalami perubahan juga baik aspek pemikiran,sikap dan satu hal yang terpenting mau menerima kesalahan.Dan paradigma yang baru ini harus bisa memunculkan konsep-konsep baru misalnya sistem pendidikan,pengembangan media yang memadai serta adanya pemerataan sampai kepelosok desa.Dengan diharapkan dengan perubahan paradigma ini pendidikan akan lebih maju.Semoga bangsa Indonesia tidak keterbelakngan akan hal pengetahuan dan teknologi.dan buanglah jauh-jauh paradigma lama mari kita sama-sama membuka paradigma baru demi kita semua dan demi kemajuan Bangsa Indonesia

  7. Paradigma lama menganut bahwa guru adalah saru-satunya sumber belajar. Tidak ada orang yang lebih tahu selain guru, guru adalah sumber informasi terbaik karena dari gurulah kita akan mengetahui segalanya. Namun saat ini seiring dengan kemajuan zaman, semua itu telah berubah. Apa yang dulu menjadi mimpi kini telah menjadi kenyataan, semakin lama dunia terasa semakin mengecil saja karena begitu mudah dan cepatnya kita mendapatkan pengetahuan dari tempat lain. Kenyataan ini telah menggeser fungsi guru. Kini ia tidak lagi menjadi sumber ilmu karena semua orang termasuk siswa-siswanya bisa mendapatkannya dari tempat lain seperti TV, Radio juga Internet. Sebagai guru yang hidup di zaman ini, tentunya harus bisa menerima kenyataan ini dimana murid-muridnya kini tidak akan banyak bertanya lagi padanya. Ia harus bisa menerima dan menyadari bahwa kini ia hanya sebagai fasilitator dari sumber-sumber ilmu selain dirinya. Tentunya harus disikapi dengan berjiwa besar melihat kondisi ini, sangat tidak boleh memungkiri keadaan ini apalagi bila tetap memaksakan kehendaknya. Namun tetap ada satu hal positif yang dapat diambil, bahwa guru harus berterima kasih dari semua ini karena kini tugasnya tak lagi seberat dulu karena telah terbantu oleh teknologi.

  8. dalam proses belajar mengajar di indonesia pada umumnya masih menggunakan paradigma lama dimana murid masih menganggap guru adalah sumber utama bagi muriddan sebaliknya .guru merasa sudah paling besar bila ia mempunyai anak didik dan merasa lebih tahu tanpa melihat perkembangan yang sudah sangat pesat di luar sana.sungguh suatu dilema bagi guru bila dia hanya menganggap tugas yang di berikan pada siswanya hanya sekedar yang dia miliki tanpa ada usaha untuk mencari sumber lain .karna pada dasarnya mereka mempunyai alasan tertentu karna kurangnnya sarana dan prasarana ,gaji yang kurang sehingga mereka memikirkan cari tambahan,juga kurangnya dukungan dari lingkungan kerjanya baik para senior yang merasa dirinya lebih berpengalaman ataupun dari lembaganya.sehingga tidak adanya motipasi yang besar bagi seorang guru untuk mencari sumber pengetahuan yang baru.oleh sebab itu sudah seharusnya bagi para guru-guru termasuk saya untuk sama-sama memacu diri dan bekerja sama untuk melihat kemajuan yang sudah sangat pesatnya menggali wawasan dari berbagai bidang untuk diberikan pada parapeserta didik dan mengajak anak didik untuk kreatif mencari sumber-sumber baru dalam proses belajar mengajar.untuk memajukan negara dan menciptakan anak didik yang lebih produktif mempunyai intelektual yang tinggi dan berguna bagi agama nusa dan bangsa marilah kita rubah paradigma lama kita ke paradigma yang baru merubah kebiasaan jelek kita munuju lebih baik dengan perlahan tapi pasti.

  9. saya sependapat bahwa kita sebagai murid ataupun guru harus merubah paradigma lama yang berkembang dan mengakar kuat dalam pikiran, bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, melainkan guru adalah salah satu dari sumber belajar. tetapi saat ini masih banyak yang menganut paradigma tersebut, karena berbagai alasan diantaranya keterbatasan sarana dan prasarana yang menjadikan murid begitu tergantung pada pengetahuan guru saja.dan bila hal ini terus berlanjut, maka akan menciptakan generasi yang pasif dan berwawasan sebatas pengetahuan yang ia dapatkan dari guru tersebut. dan untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran, hendaknya antara guru dan murid harus saling bekerjasama dalam mewujudkan hal itu. sebagai guru,harus terus menggali potensi diri dengan menambah wawasan dan mengikutsertakan murid dalam mencari sumber-sumber pengetahuan terbaru agar tercipta suasana belajar yang aktif. dan sebagai murid hendaknya menumbuhkan minat untuk terus berkembang dan menjadi siswa yang aktif dalam berbagai bidang, dan memiliki intelektual tinggi. dengan demikian,akan terciptalah generasi yang berkualitas yang akan memimpin negri ini di masa yang akan datang ke arah yang lebih baik.

  10. Anggapan guru sebagai satu-satunya sumber belajar atau sumber ilmu adalah paradigma lama yang tentu tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman sekarang ini. Karena di era teknologi dan informasi ini banyak sekali sumber belajar yang bisa diakses oleh siswa. Sehingga untuk memperoleh ilmu pengetahuan tidak lagi harus menunggu kegiatan pembelajaran atau berinteraksi dengan guru. Saat ini, menjadi hal yang wajar bila pengetahuan seorang siswa melebihi atau mendahului sang guru. Karena itu saya sangat setuju bila sebagai siswa dan guru sama-sama harus merubah paradigma. Karena bila hanya salah satu pihak saja yang mengubah pola pikirnya, proses pembelajaran yang berkualitas akan sulit terwujud.
    Seorang guru harus menyadari bahwa dirinya bukanlah satu-satunya sumber ilmu atau sumber kebenaran sejati. Pengalaman selama sekian tahun mengajar misalnya, tidak bisa lagi dijadikan tolak ukur bahwa gurulah yang paling benar. Guru profesional harus selalu mampu mengaktualisasikan dirinya dengan perkembangan zaman, tidak antipati terhadap perubahan, dan senantiasa meningkatkan kualitas diri. Demikian pula halnya dengan siswa, menjadikan berbagai media sebagai sumber belajar adalah suatu keharusan. Kegiatan pembelajaran di kelas bukanlah satu-satunya tempat untuk menambah ilmu pengetahuan. Di sinilah guru berperan sebagai motivator, agar para siswanya lebih proaktif menjadikan sumber belajar lain di luar dirinya, agar kualitas hasil belajar yang menjadi tujuan bersama dapat terwujud.
    Jadi, sangat tidak beralasan seorang guru harus marah atau tersinggung jika ada siswanya yang pengetahuannya melebihi dirinya. Justru itu adalah sebuah tantangan baginya untuk selalu dan selalu meningkatkan kualitas diri.

  11. menurut saya: setiap guru maupun murid harus merubah paradigma yang ada dengan paradigma yang baru,tanpa melupakan paradigma yang lama.sebab guru maupun murid tidak hanya terfokus dengan hal-hal yang itu saja karena di zaman yang semakin maju ini banyak sekali cara untuk mencari informasi/hal yang baru baik didalam negeri maupun diluar negeri[dunia] dan dengan kemajuaan zaman tersebut kita bisa menggunakan media media yang ada agar kita tidak ketinggalan dengan para murid. jika guru tidak mau kalah dengan anak didik atau tidak kualahan dengan pertanyaan yang diajukan anak didik, maka guru harus aktif dan kreatif dari pada anak didik, karena di zaman yang serba canggih ini, semua media yang ada di dunia tidak pandang umur, dalam artian semua usia boleh menggunakan media, tidak heran jika banyak murid yang lebih kretif dari guru, bagaimana guru bisa memenuhi kebutuhan murid sedangkan guru sendiri tidak mau merubah paradigma, karena selama ini guru adalah pengajar dan anak didik adalah pendengar, karena guru adalah seorang panutan dan banyak murid yang menganggap bahwa guru adalah seseorang yang lebih tahu tentang bidang studi yang di ajarkan,maka guru harus buka mata, buka telinga dan lihat lingkungan sekitar, bagaimana ingin dibilang guru modern sedangkan guru atau murid tidak mau merubah paradigma dengan new paradigm !!!

  12. memang benar jika kita masih terpacu pada guru langsung dan beranggapan bahwa guru itu adalah salah satu sumber belajar,pikiran kita menjadi sempit dan hanya terpaku pada ucapan guru tersebut salah benarnya kita sebagai student hanya bisa mendengarkan dengan seksama dan mengetahui apa yang di ucapkan guru tersebut .menurut saya dengan keberadaan guru dapat membingbing kita sebagai pelajar untuk mengarah kearah yang baik dan dapat meluruskan kita dalam masalah atau dapat membawa kita kepada wawasan yang lebih baik di samping teknologi sebagai sarana karena teknologi tersebut hanya berupa benda ? mesin yang dapat memberikan informasi sekedar tentang itu saja . peranan guru sangat di butuhkan oleh para pelajar karena sebagai motivasi dan sebagai media yang dapat membangun insfirasi kita dan guru dapat mengetahui tentang keberadaan siswa tersebut .Disamping itu juga guru dapat memberi pemahaman kepada siswa dengan metode-metode tersendiri yang di milikinya sesuai kriteria atau cara ia memberi pemahaman kepada murid-muridnya.

  13. Menurut saya paradigma lama tentang guru hanya satu-satunya sarana pendidik/sumber belajar adalah salah banget karena untuk era sekarang ini banyak sekali sarana yg dpt menambah ilmu bagi para murid/student,contoh yg konkrit adlh orang va yg mana sudah pasti mereka waktunya lebih banyak bersama dg anak-anaknya yg jg bisa disebut sag

  14. Menurut saya paradigma lama tentang guru hanya satu-satunya sarana pendidik/sumber belajar adalah salah banget karena untuk era sekarang ini banyak sekali sarana yg dpt menambah ilmu bagi para murid/student,contoh yg konkrit adlh orang tua yg mana sudah pasti mereka waktunya lebih banyak bersama dg anak-anaknya yg jg bisa disebut sebagai a

  15. Paradigma seperti itu memang harus di ubah, karena guru bukan satu-satunya sumber belajar. Di zaman sekarang kita bisa mandapatkan pengetahuan melalui media cetak seperti koran, majalah dan buku. Selain media cetak kita juga dapat memperoleh pengetahuan dengan memanfaatkan media elektronik seperti TV, Radio dan Internet. Tetapi yang jadi permasalahannya adalah apakah semua media di atas sudah dapat di jangkau atau di gunakan oleh peserta didik, sebagai mana yang saya ketahui harga-harga buku yang masih bisa di bilang cukup mahal dan fasilitas internet yang belum merata. hal ini menyebabkan mengapa peserta didik kurang memanfaatkan itu semua.
    Saya yakin apabila biaya pendidikan murah dan semua fasilitas pendukung memadai maka pendidikan di negara kita akan bisa lebih bermutu dan dapat bersaing dengan negara-negara lain dalam dunia pendidikan, tetapi guru dan murid harus bisa mengubah paradigmanya masing-masing tentang “Guru adalah satu-satunya sumber belajar” sumer belajar bukan hanya guru akan tetapi sumber belajar dapat di peroleh melalui selain guru, guru dalam proses balajar mengajar berfungsi sebagai perangsang peserta didik untuk menimbulkan rasa ingin tahu. Peserta didik harus bisa menerima intruksi dan harus memahami pengetahuan yang ia peroleh dan seorang pendidik harus menguasai materi dan memiliki keterampilan dalam pedagogi untuk mencapai tujuan pendidikan yang di inginkan.

  16. Sebagai seorang siswa ataupun sebagai guru yang berorientasi maju, kita haruslah merubah paradigma kita sesuai dengan perkembangan zaman. Jika kita belajar hanya mengandalkan mendapatkan ilmu dari seorang guru dan ruangan segi empat, maka ilmu yang kita peroleh tidaklah akan maksimal setidaknya hanya 40% dari keseluruhan ilmu yang akan kita peroleh.
    sebagai siswa yang modern kita harus dapat memanfaatkan sumber-sumber ilmu yang lain baik cetak ataupun elektronik, kita harus dapat menjadikan segala sesuatunya sebagai sumber ilmu pengetahuan.
    Tetapi di balik itu semua guru juga memegang peranan yang sangat penting untuk terus dapat memotivasi siswanya agar dapat belajar secara mandiri walaupun posisi guru pada era sekarang bukanlah lagi sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi perubahan paradigma yang ada pada diri siswa adalah tugas guru, bagaimana caranya agar paradigma siswa itu berubah dimulai dari perubahan guru itu sendiri, sifat konensional yang dari dulu melekat pada guru harus dapat dirubah dan disesuaikan dengan perkembangan zaman, jangan sampai ketika kita sebagai guru menginginkan perubahan dari siswa sedangkan gurunya tidak berubah. penguasaan teknologipun sangat penting bagi seorang guru agar dapat menularkan dan memberikan pengetahuan lebih kepada siswa.
    jadi, keterbukaan seorang guru akan perubahan zaman dan kemajuan teknologi sangatlah penting untuk dapat merubah paradigma berfikir dalam pendidikan agar dapat memotivasi siswa.

  17. Paradigma “Guru satu-satunya sumber belajar” sebagian kecil masyarakat kita mungkin masih berpendapat demikian, tentunya itu tidak tepat.Sumber belajar harus seluas-luasnya untuk mencapai pendidikan berkuwalitas.
    Sebagai seorang siswa/mahasiswa : Menjadikan guru/dosen menjadi satu-satunya sumber belajar adalah sebuah “keterbalakangan” dan “kamandulan” intelektual, dikarenakan kapasitas dan kuwalitas guru/dosen sangat terbatas sementara potensi yang didalam diri kita begitu besar.
    artinya kita harus megambil pembelajaran dari berbagai sumber, seperti : media dan teknologi,lingkungan dan suber lainnya.
    Sebagai seorang Guru/Dosen: Harus dapat menempatkan diri secara profesional, tidak merasa sebagai sumber dari segala ilmu dan sebaiknya seorang guru/dosen dapat mengarahkan kepada siswa/mahasiswanya mempeloreh pembalajaran dari sumber lain dan tentuntanya guru/dosen juga banyak memperoleh bahan ajaran dari sumber lain.
    Kesimpulannya: Paradigma “guru sebagai satu-satunya sumber belajar” harus dirubah oleh siswa/mahasiswa dan guru/dosen sekalipun.

  18. Yup….setuju banget Pa.Guru sebagai yang di gugu dan di tiru memang sudah saatnya mengubah paradigma nya. Guru harus bisa berbesar hati bahwa sumber ilmu bagi peserta didik bukan hanya dirinya, tapi segala aspek yang berperan dalam hidup peserta didik adalah media peserta didik untuk belajar dan mendapatkan hal baru. Karena agama ( Islam ) telah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu dari sejak buaian sampai liang lahat dan Rosulullah SAW berpesan agar umat nya belajar menuntut ilmu sampai ke negeri Cina.So, lets change our paradigm from teacher oriented to student centered. Karena semua hal yang ada di sekitar kita adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang harus kita pikirkan ( pelajari ).

  19. menurut saya paradigma guru lama tentang guru hanya satu-satunya sarana pendidik atau sumber belajar adalah salah, karena untuk Era sekarang ini banyak sekali sarana yang dapat menambah ilmu bagi para murid, contoh yang konkrit adalah orang tua yang mana sudah pasti mereka waktunya lebih banyak bersama dengan anak-anak yang juga bisa disebut sebagai anak didiknya sehingga banyak tau tentang sifat-sifat yang ada pada anak itu dan hal itu akan lebih mudah untuk lebuh cepat memberikan ilmu bagi anak namun hal tersebut tidak formal. jadi disini bagi para murid haruslah lebih cepat tanggap terhadap tiap perkembangan sikon dan teknololgi yang terkini sehingga tidak akan menjadi anak yang ” Gaptek ” alias gagap teknologi, bukankah ada pepatah yang mengatakan ” Experience is the best teacher “??? jadi itulah sumber ilmu atau informasi yang penting bagi para murid namun lagi-lagi itu tidak formal, jadi sepintar apapun murid atau anak didik jika tidak ada ijazah yang dia punya toh tidak berguna sehingga kedua-duannya harus berjalan saling bersama agar tidak sia-sia…

  20. menurut saya memang di zaman kemajuan teknologi yang serba canggih seperti sekarang ini baik guru atau murid harus sama-sama merubah paradigma lama dengan paradigma baru. guru bukan satu-satunya sumber belajar bagi murid.dalam proses belajar mengajar guru atau murid harus bisa kreatif untuk mendapatkan sumber ilmu baik dari tv, radio koran, ataupun internet. seorang guru memegang peranan penting dalam mencapai tujuan pendidikan sehingga dia harus bisa membuka wawasan yang luas untuk bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh murid, tetapi guru juga harus bisa menerima kenyataan kalau murid sekarang juga lebih mengenal banyak tentang berbagai hal. maka kita sebagai guru dan murid harus bersama-sama merubah paradigma lama menuju paradigma baru demi kemajuan pendidikan masyarakat indonesia.

  21. Perkembangan IPTEK berlangsung semakin pesat, sehingga tidak mungkin para guru mengajarkan semua konsep dan fakta kepada para siswa. Maka jika kita masih menganggap bahwa guru merupakan satu-satunya sumber belajar, kita akan semakin jauh tertinggal dan tersisihkan dari persaingan baik local apalagi global.

    Kalau kita tela’ah kembali asas-asas pendidikan yang diantaranya adalah asas Tut Wuri Handayani, asas kemandirian dalam belajar dan asas belajar sepanjang hayat, maka guru bukanlah satu-satunya agen belajar bagi siswa.

    Asa tutwuri handayani bertolak dari asumsi bahwa siswa mampu untuk mandiri, termasuk mandiri dalam belajar. Dalam kegiatan belajar mengajarnya diupayakan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu siap untuk mengulurkan tangan apabila diperlukan. Selanjutnya asas belajar sepanjang hayat hanya dapat terwujud apabila didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik mau dan mampu mandiri dalam belajar.

    Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motivator, disamping peran-peran lain. Sebagai fasilitator, guru diharapkan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belajar, sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut. Sebagai motivator, guru mengupayakan timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber-sumber belajar itu.

    Apabila masih memiliki paradigma seperti itu, maka akan terjebak pada pengkultusan terhadap seseorang. Bagi siswa, ia tidak lagi memiliki sikap kritis, karena ia akan menganggap setiap apa yang dikatakan gurunya pasti benar. Dan bagi guru ia akan merasa besar kepala, karena menurutnya dirinya adalah orang yang paling pandai dan paling tahu di hadapan murid-muridnya.

    Kayaknya kita juga termasuk orang yang terlambat lahir bila masih memakai paradigma tersebut. (ds)

  22. Menurut saya memang seorang murid tidak hanya mendapatkan materi belajar tidak hanya dari guru karena menurut saya fungsi guru hanya sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, dan pengarang.
    Sebagai pelatih (coaches), guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak. Hal ini merupakan analogi dalam bidang olah raga, di mana pelatih hanya memberikan petunjuk dasar-dasar permainan, sementara dalam permainan itu sendiri para pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada.
    Sebagai konselor, guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Disamping itu, guru diharapkan mampu memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal.
    Sebagai manajer pembelajaran, guru memiliki kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran.
    Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa.
    Sebagai pemimpin, diharapkan guru mampu menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama. Disamping sebagai pengajar, guru harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luiar mengajar.
    Sebagai pembelajar, guru harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya.
    Sebagai pengarang, guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Guru yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang tinggi sebagai basis kualitas profesionaliemenya.
    Kenapa saya menyebutkan diatas. Kalau Kita melihat kategori diatas kita bisa menyimpulkan bahwa fungsi guru hanya membantu murid saja. Bukan sebagai yang utama,maksudnya hanya mau didengarkan saja tanpa mau mendengarkan informasi dari luar meskipun itu dari muridnya. Karena dengan melihat kondisi zaman sekarang murid bisa mendapatkan informasi tidak hanya dari guru tapi dari lingkungan sekitar kita(Contohnya dari Teknologi Informasi, Teknologi Komunikasi dan lain sebagainya).
    Nah disinilah peran guru ini masuk.Guru bisa masuk sebagai fasilitator, memberikan pengarahan apabila informasi tersebut tidak benar atau salah.

    Jadi kalau kita melihat dari faktor-faktor diatas,Kalau seandainya masih adan guru atau dosennya yang mengikuti gaya atau paradigma lama biasnya hanya ingin didengarkan saja,tidak mau menerima kritik dan saran. Berarti guru atau dosen tersebut tidak termasuk kategori diatas.

    Karena Guru itu juga harus selalu belajar.Karena mungkin juga kita bisa mendapat materi atau sumber belajar dari murid.

    Jadi sebaiknya Guru bukan hanya harus pintar dalam menguasai materi, tapi yang lebih penting adalah pintar dalam berinteraksi dan memberikan pemahaman kepada anak didik. Selain itu juga harus peka terhadap lingkungan sekitarnya. Bagaimana kita mengajar dan dari mana sumber materi itu bisa kita dapatkan…Serta sellau interkatif dengan murid atau dengan anak didik kita…
    Semoga kita bisa berubah…tanpa harus selalu mengikuti paradigma yang lama…Jadi Guru yang baik dan selalu disenangi oleh murid-muridnya

  23. Ok banget tuh……dengan adanya new paradigma, pendidikan yang ada skarang akan lebih maju dan modern. Tetapi kita tidak dapat membuang guru/dosen begitu saja. Karena seorang guru/dosen itu sangat besar jasanya. Dizaman sekarang, bukan hanya guru/dosen sebagai tampat kita belajar melainkan dilingkungan, masyarakat, tv, media, radio atau internet untuk menambah pengetahuan atau wawasan. Saya sangat berharap agar para guru dapat mengubah cara ngajar mengajar menjadi lebih baik. Tetapi sekarang ini banyak para guru/dosen bersaing ingin menjadi yang terbaik. Soo……kita harus bisa berubah…. Terutama dapat mendidik muridnya dengan suana sersan ( serius tapi santai ).

  24. Pengertian dari istilah paradigm adalah pola pikir atau gaya. Saat ini kita telah memasuki millenium ketiga sejak tahun 2000, di era ini sering dinamakan dengan era globalisasi. Era ini terjadi karena didorong oleh kemajuan informasi yang telah menjadi power ketiga setelah kekuasaan dan uang. Pada era ini persaingan adalah suatu konsekuensi logis dari percaturan skala global dalam dunia tanpa batas (bordeless world). Untuk itu memenangkan persaingan profesionalitas merupakan kata kunci yang harus diupayakan, profesional dalam bekerja, profesional dalam pelayanan dan sebagainya yang harus didukung oleh tenaga-tenaga yang berkualitas. Suatu yang mustahil bagi kita untuk memenangkan suatu persaingan bila cara kerja tidak profesional. AFTA tahun 2003 telah mulai, APEC tahun 2010 tidak terlalu lama. Waktu berjalan terus dan tidak pernah menunggu, globalisasi mau tidak mau atau suka tidak suka pasti akan datang dan bahkan sudah mulai. Setiap guru/dosen maupun murid/student harus merubah paradigma yang ada dengan paradigma yang baru, tanpa melupakan paradigma yang lama. Paradigma lama yang masih menganut bahwa guru/dosen adalah satu-satunya sumber belajar. yang dimana tidak ada orang yang lebih tahu selain guru/dosen, guru/dosen adalah sumber informasi terbaik karena dari dosen/gurulah kita akan mengetahui segalanya. Oleh sebab itu guru/dosen maupun murid/student tidak boleh hanya terfokus pada satu fokus dengan hal-hal yang menjadi kebiasaan yang telah ada (yang dimana masih beranggapan bahwa guru/dosen itu adalah salah satu sumber belajar, pikiran kita menjadi sempit dan hanya terpaku pada ucapan guru/dosen tersebut tanpa melihat apakah yang dikatakan itu mengandung salah benarnya, kita sebagai murid/student hanya bisa mendengarkan dengan seksama dan tanpa mengetahui kebenaran apa yang diucapkan dosen/guru tersebut). Sebagai guru/dosen, kita jangan menganggap diri kita satu-satunya yang paling tahu. Mungkin saja murid/student kita sudah mendapat informasi lebih dulu melalui internet atau media lainnya. Meski sebenarnya guru/dosen dalam proses belajar mengajar berfungsi sebagai motivator bagi murid/student yang dimaksud motivator di sini adalah seorang guru/dosen hendaknya memberikan motivasi kepada murid/student agar si murid/student tidak merasa bosan dalam menuntut ilmu. Karena motivasi merupakan perilaku yang menentukan kebutuhan (needs) atau wujud perilaku untuk mencapai tujuan didalam mewujudkan cita-cita para student/murid. Dan apabila kita masih menganggap guru/dosen satu-satunya sumber belajar berarti wawasan murid/student tidak akan luas hanya sebatas ruang segi empat/ruang kuliah, Artinya sebagai student/murid atau sebagai guru/dosen sama-sama harus merubah paradigma. Tanpa masing-masing merubah paradigma lama dengan paradigma baru akan sulit untuk meningkatkan mutu pendidikan untuk bangsa ini, karena selain guru/dosen banyak sumber belajar lain yang tersedia yang selama ini kurang dimanfaatkan dan bisa menambah wawasan/pengetahuan untuk murid/student, seperti media lain: buku, majalah, koran, radio, tv, internet dan lain-lain. Tetapi sumber-sumber yang tersebut tidak lepas dari arahan/bimbingan para dosen/guru, dan dosen/guru tidak hanya di sekolah/kampus tetapi juga orang tua/orang dewasa yang mengetahui tentang arti pentingnya dari dunia pendidikan. Jadi kita memang harus merubah pandangan bahwa guru/dosen satu-satunya sumber belajar tetapi diantara sumber-sumber belajar yang lain dosen/guru sangat berperan penting dalam memajukan para student/muridnya. Untuk meningkatkan mutu pendidikan para anak bangsa ini, kita membutuhkan para guru/dosen yang berwawasan luas. Sehingga wawasan/pengetahuan yang ia miliki bisa ditransfer kepada para student/murid. Dan murid/student dapat mengembangkan pengetahuan tersebut dengan arahan atau bimbingannya. Dengan demikian maka guru/dosen tidak semestinya puas dengan mengajar dengan gaya dan kebiasaan lama guru mempunyai peran yang bervariasi, jadi tidak hanya sekedar memberikan yang ia punya (karena kepunyaannya terbatas yang ia ketahui), tapi juga harus dapat memberikan motivasi atau dorongan agar murid menjadi bersemangat dalam belajar dengan menawarkan berbagai cara untuk memperoleh ilmu. Disamping itu juga guru hendaknya bisa memberikan inspirasi bagaimana anak didik hidup dan berkembang sesuai dengan kaidah dan norma yang benar. Kesimpulannya, guru/dosen harus rela meninggalkan paradigma lama yang sudah usang (yang masih konvensional), dan berusaha untuk menggantinya dengan paradigma baru. Tanpa masing-masing merubah paradigma lama dengan paradigma baru akan sulit untuk meningkatkan mutu pendidikan anak bangsa ini Untuk memenangkan persaingan dalam profesionalitas dalam bekerja (profesional dalam pelayanan dan sebagainya yang harus didukung oleh tenaga-tenaga pengajar yang berkualitas), atau sistem pendidikan kita akan mengalami stagnansi/tertinggal di era globalisasi ini yang dimana untuk dunia pendidikan mendapat dorongan oleh kemajuan informasi dan teknologi. Untuk semua guru/dosen…..Semoga kita dapat berubah dari yang terbiasa dengan paradigma lama menjadi padigma baru yang lebih baik….sehingga kita dapat menjadi seorang guru/dosen yang baik dan berwawasan luas agar bisa disayangi oleh murid-muridnya.

  25. kayanya setuju banget tuh……mungkin zaman dulu wajar, seorang guru adalah satu-satunya sumber belajar karena dulu tidak ada media untuk menunjang tapi sekarang!!!!! banyak sekali media untuk belajar, asalkan kita mau mencari tahu contohnya, internet, TV, majalah dll, dan kita semua harus menyadari itu semua, kalau kita masih menggunakan paradigma lama kan ga oke banget!!! zaman tlah berubah paradigma pun harus berubah, kalau kita masih menggunakan paradigma lama, apa kata dunia???? apalagi sekarang ini student udah maju dan mungkin sudah lebih pintar karena banyak sekali media yang menunjang mereka untuk itu, dan kita sebagai guru harus memahami setiap student, mereka bisa kita jadikan teman untuk bertukar pendapat. dengan begitu belajar jadi lebih asyik dan tidak bosan.
    mari kita rubah paradigma lama dengan yang baru agar dunia pendidikan menjadi lebih maju.

  26. change your paradigm
    Sebagai calon guru/pendidik,sudah saatnya mau merubah paradigma berpikir.Berubah disini bisa diartikan hijrah,maksudnya merubah suatu paradigma lama yang kurang baik ke paradigma baru yang lebih baik.seperti selama ini kita sebagai mahasiswa merasa puas dengan informasi yang hanya bersumber dari dosen,tidak mau mencari/menggali informasi dari luar segi empat tersebut.Dalam artian kita tidak hanya pasrah menerimainformasi (mengikuti saja),tapi disini dituntut untuk bisa berpikir kritis dan logis dalam mencari dan menerima informasi yang makin mengglobal supaya tidak terjerumus dgn hal-hal yang salah(sesat).Kita juga bisa menggunakan sarana teknologi dan sumber belajar lain, informasi yang up to date seperti : koran,Majalah,buku,radio,Tv,Internet,bahkan dari nara sumber lain yang valid.oleh karena itu sebelum kita terjun untuk menjadi pendidik kita harus mau change to be good teacher.Karena kalau sebagai pendidik tidak mau merubah paradigma didiknya,bagaimana anak didiknya???
    untuk bisa merubah yang lebih baik kita harus banyak instropeksi diri dan mau membangun diri.Untuk membangun diri juga harus mempunyai feeling of confiedence,Competence,prestasi,kemandirian dan kedisplinan yang tinggi,seperti contoh :dulu kita minim sekali dalam membaca,sekarang harus bisa lebih banyak waktu untuk membaca dan selalu mencari dan menggali informasi walaupun itu datangnya dari students.Kita tidak boleh malu/gengsi bahkan bisa legowo menerima kritikan yang datangnya dari students. Untuk bisa menjadi teachers dan students yang baik sangat diperlukan motivasi yang tinggi,kedisiplinan diri dan pengorbanan.Karena prinsip hijrah sendiri yaitu untuk bisa mendapatkan sesuatu kehidupan yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya.Untuk itu mulai dari sekarang juga (tanpa menunda sedikitpun) kita harus bisa merubah paradigma berpikir yang lebih berkualitas menuju insan yang paripurna .Change To Be Good Better.

  27. Membaca artikel tersebut diatas ada suatu paradigma lama yang menyatakan bahwa sorang pendidik (guru) adalah satu satunya sumber belajar, itu adalah paradigma yang salah sesungguhnya banyak sumber yang ada untuk menambah ilmu sepeti buku, majalah, radio, tv, internet dan lain2.untuk mengembangkan ilmu dan mutu pendidikan dengan adanya perubahan (perkembangan ) zaman yang serba modern ini siswa maupun pendidik (guru) sama sama berupaya meningkatkan kualitas propesional dirinya dengan harapan mampu meningkatkan kualitas dalam proses pembelajaran (belajar-mengajar).
    Kalaupun seorang guru menginginkan siswa berkualitas tinggi setelah menamatkan pendidikan dari suatu lembaga pendidikan maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana guru mengarahkan siswa untuk belajar mengenal sarana untuk belajar yang lainnya sebagai contoh dengan memberi tugas pada siswa untuk mencari informasi tentang sesuatu ( kliping) dari koran atau internet dan buku-buku agar siswa termotivasi untuk mengenal teknologi atau sumber -sumber ilmu yang lainnya,agar menjadikan siswa tidak hanya terpaku pada satu sumber dan mengerti bahwa setiap sesuatu itu tidak hanya ada pada satu sumber saja dan dengan seperti itu maka siswa jadi lebih pandai dan gurupun ikut termotivasi untuk lebih pandai dari muridnya dan dengan seperti itu maka perkembangan suatu pendidikan akan lebih maju dan berkembanng dan semakin berkualitas dan bisa sejajar dengan bangsa lain.
    Apabila seorang pendidik menghadapi siswa yang lebih pandai dari guru maka guru harus mau menerima dengan lapang dada dan lebih mengembangkan ilmunya dan membahas lain waktu agar permasalahannya lebih jelas dan jangan guru merasa tersinggung dengan hal tersebut. Janganlah merasa guru sebagai sorang yang lebih berpengalaman sehingga timbul egonya.
    Berkaitan dengan hal tersebut dalam hadits Rosullah, berbunyi: “Orang orang yang berilmu dan orang yang mencari ilmu bersekutu dalam hal pahala tidak ada kebaikan bagi semua orang selain kedua golongan itu.” (HR.Ibnu Abdil Bar).
    Dalam hadits lain beliau berkata :” orang yang paling dekat kepada derajat kenabian ialah orang berilmu dan berjihad.”
    Akhir kata berdasarkan pemikiran tersebut, di era serba modern seorang pendidik ( Guru ) diharapkan : dalam hadits nabi menyebutkan :” belajarlah kamu dan mengajarlah. dan merendahlah (tawadhu”) kepada guru gurumu , serta lemah lembutlah kepada siswa-siswa mu.” (HR Thabrani )
    Menjadi guru/mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain (siswa) adalah salah satu bentuk dari pengalaman ilmu guru tersebut, sebab seperti sabda Rosullah : belum dianggap seseorang itu berilmu, sehingga ia mengamalkan ilmunya.” dan kemudian barang siapa mengetahui suatu ilmu, kemudian menyembunyikannya (tidak suka mengajarkannya), maka Allah akan memberi kendali kepadanya pada hari kiamat dengan kendali dari api neraka.” (HR Abu Daud, Tirmidzi,etc).

  28. Secara umum saya sependapat bahwa seseorang dituntut untuk tidak menjadikan guru sebagai satu-satunya sember belajar apalagi statusnya adalah sebagai mahasiswa. Diantara tafsiran tentang belajar mengitup pandangan baru yang menyatakan bahwa ”belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku akibat latihan dan pengalaman”. Karena ilmu adalah merupakan buah dari pengalaman, maka segala sesuatu yang terdapat disekeliling diri kita yang dialami dengan berbagai macam cara seperti mengingat, berpikir, merasakan, berkehendak, dan sebagainya adalah merupakan media yang dapat dimanfaatkan oleh setiap orang dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan, apalagi dalam era globalisasi ini segala sesatu dapat didikung dengan teknologi informasi. Siapapun mulai dari anak-anak bahakan sampai orang dewasa, terlepas apakah mereka berada dalam dunia pendidikan formal maupun non formal memiliki potensi untuk menjadikan alam sekitar sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi informai sebagai pendukungnya, seperti menggunakan media teknologi televisi, radio, internet, dan lain sebagainya, sedangkan guru adalah bagian lain yang mempunyai peran, tugas dan tanggung jawab tersendiri selain sebagai salah satu sumber belajar itu sendiri.
    Lalu bagaimana dengan SDM seorang guru?. Dalam rangka pengembangan sumber daya manusia khususnya guru, salah satu unsur strategis dalam pendidikan adalah dituntutnya untuk melakukan pengembangan diri secara terus menerus (continues improvement), sehingga ia akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, tidak semata-mata knowledge based seperti yang saat ini sering kita temukan, tetapi lebih bersifat competency based, yang menekankan kepada penguasaan secara optimal konsep-konsep keilmuan dan implementasinya ditambah dengan didasarkan pada nilai-nilai moral keagamaan sebagaimana pula ditekankan dalam kurikulum KBK ataupun KTSP.
    Guru diidealisasikan menduduki posisi yang sangat penting, diharapkan mampu membantu anak didik menjadi anak yang sempurna lahiriah dan batiniah (Man sana in corpora Sano).
    Guru merupakan unsur penting yang layak dijadikan sebagai prioritas awal dalam keseluruhan penyelenggaraan dan komponen pendidikan, karena guru merupakan ujung tombak suksesnya proses pembelajaran. Disamping harus menguasai aspek kognitif dari materi pelajaran, guru juga dituntut menguasai aspek afektif dan psikomotorik, meskipun dalam situasi-situasi tertentu tugas guru dapat digantikan. Namun secara profesional guru sebagai pelaku utama pendidikan harus merupakan pendidik yang betul-betul professional tanpa memandang waktu, tempat dan usia guru itu sendiri, apabila kita menghendaki pendidikan itu juga betul-betul mau ditangani dengan serius pula tentunya.

  29. Ya saya setuju dengan pendapat ganti paradigma. Pada saat ini dimana pendidikan dapat diperoleh dengan cara apapun, dari siapapun dan melalui sarana apa saja, sudah sepatutnyalah seorang guru mulai menyadari untuk merubah paradigma lamanya sebagai teacher centered menjadi seorang fasilitator saja bagi anak didiknya. Apabila masih ada guru yang belum merubah pola pikir tersebut mungkin dia hanya gengsi saja untuk mengakui bahwa dia masih ketinggalan zaman.
    Saya percaya dan sadar sekali dengan kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan dan komunikasi pada saat ini, dengan sendirinya akan membuat paradigma lama itu runtuh! Dengan siswa sebagai center akan memberikan keluangan waktu bagi guru untuk bisa menambah ilmu melalui teknologi dan menciptakan kesempatan berkomunikasi lebih banyak dengan peserta didik tanpa harus berada dalam ruangan kelas.
    Selamat merubah paradigma !

  30. Seorang guru dan murid memang harus merubah paradigmanya masing-masing. Murid jangan beranggapan bahwa guru adalah sumber belajar satu-satunya, kalau itu terjadi maka pelajaran yang didapat hanya sebatas ruang kelas saja.
    Di zaman sekarang ini kita dapat memperoleh suber belajar melalui buku, majalah dan internet. Jika kita bisa memanfaatkan itu semua maka pengetahuan yang kita peroleh akan lebih luas. Timbul pertanyaan mengapa pendidikan di negara lain lebih bermutu di bandingkan negara kita? itu di karenakan mereka sudah bisa memanfaatkan atau menggunakan sumber belajar lain selain guru. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara kita langkah awal yang harus di lakukan adalah dengan cara merubah paradigma guru dan paradigma murid mengenai sumber belajar.

  31. Tidak dapat di pungkiri perkembangan teknologi begitu pesatnya mengalami kemajuan sampai ada yang mengatakan tidaklah sebuah jarum jatuh di ujung timur kecuali di ujung barat mengetahuinya, begitu juga ilmu pengetahuan sangat mudah di akses kapan dan di mana saja, sangat mudah mandapatkan informasi-informsi apa saja, contoh terdekat adalah mesin pencari Google, kita tinggal ketik kata yang akan kita cari tidak lama kemudian akan muncul ribuan data dari belahan dunia,

    Kita tidak seperti para perlajar tahun 60an yang begitu besar pengorbanan mereka dalam menuntut ilmu yang mengorbankan segalanya disamping fasilitas yang tidak memadai dan apa adanya, yang penting menurut saya adalah bagai mana kita bersyukur mendapatkan ini semua dan mau memanfatkan serta mengamalkan ilmu yang kita dapat. Saya sangat setuju sekali kalau paradigma lama yaitu guru merupakan satu-satunya pusat suber belajar dihilangkan. Memang apa yang kita harapkan sih kalau kita cuman duduk di kelas (ruang kuliah) nanti ilmu yang didapat Cuma gitu-gitu aja* salah seorang motivator yang sudah menulis puluhan buku motivator yang menjadi best seller dan salah satu dari orang yang sukses dalam berwira usaha sebut saja Andreas Harefa,

    Dalam bukunya yang berjudul menjadi manusia pembelajar, dalam bab awal-awal buku tersebut penulis menyebutkan riwayat pendidikan, bahwa saya keluar dari bangku kuliah (saat itu kuliah di UGM) karena menurutnya sistem pendidikan kita hanya menabur dehumanisasi bagi setiap lulusannya terutama dikarenakan proses learning-teaching yang bersifat hafalan seolah pelajar hanya menjadi mesin penghafal. Terutama pada masa kuliahnya ia memasuki bidang Hukum, maka adalah suatu kemunduran jika setiap mahasiswanya tidak bisa argumentatif dan merasakan demokrasi dalam berpendapat. Melihat itu ia memutuskan keluar dari sistem pendidikan yang menjadi standard orang banyak, untuk mencari ilmu dan mencari informasi penulis lebih memilih diluar seperti ikut seminar-seminar,baca buku secara mandiri, baca majalah, internet dll. Terbukti dengan demikian itu artinya guru dan ruang kuliah bukanlah satu-satunya sumber belajar.

    Dalam hal ini kita semua mengakui dan bukan hal yang mustahil kalau murid bisa lebih pintar dari guru, tapi meskipun demikian tidak menjadikan kita sebagai murid yang merasa lebih pintar kemudian merendahkan martabat guru karena bagai manapun pintarnya sang murid tidak lepas dari jasa sang guru(hdr).

  32. meunurot ulon aneuk miet meunye hana keunong kayee han mungken carong, pasti gadoh weet-weet taloe jalan….. yang paih bak igoe ta khik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s